Kisah Punch, bayi monyet yang ditinggalkan induknya sejak lahir, bukan hanya menyentuh emosi warganet, tapi juga memunculkan kesan menggemaskan. Banyak orang tersenyum melihat tingkahnya, terutama saat Punch tak pernah lepas menggenggam boneka orang utan dengan tangan mungilnya.
Fenomena ini ternyata memiliki penjelasan ilmiah. Profesor Ilmu Saraf dari program pascasarjana dan Departemen Psikiatri University of Oxford, Morten Kringelbach, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di otak manusia saat menyaksikan video Punch. Mengapa sebagian orang spontan merasa lucu, hangat, bahkan tersenyum?
Respons Otak: Seperti Melihat Sosok Anak Kecil
Kebanyakan orang, merespon video tersebut dengan senyuman karena menganggap Punch memiliki fisik yang imut dan lucu seperti bayi atau anak-anak. Secara neurologis, hal tersebut akan mengaktifkan bagian otak yang berkaitan dengan emosi, yaitu korteks orbitofrontal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagian tersebut bekerja saat manusia melihat hal yang bersifat "juvenil" (seperti bayi manusia, monyet, kucing, ataupun anjing). Dalam waktu sangat singkat sekitar satu hingga tujuh detik, otak akan meresponnya, bahkan saat kita belum sepenuhnya sadar.
Karena sinyal respon datang secara spontan, maka gestur tubuh otomatis bereaksi dan tidak bisa ditahan. Itulah mengapa, orang-orang sontak tersenyum dan juga tertawa saat menyaksikan video Punch. Selanjutnya, saat otak kita sudah jauh "lebih terbuka" munculah rasa empati dan kasih sayang.
"Saya pikir salah satu alasan mengapa orang menganggap cerita Punch itu sangat menyentuh adalah, karena kisahnya mengingatkan kita bagaimana menjadi manusia yang peduli dengan makhluk hidup lain. Saat kita melihatnya pada hewan, maka itu membuat hati kita tersentuh," ujar Prof Kringelbach dikutip detikEdu dari akun instagram Oxford University, Kamis (5/3/2026).
Mengenal Cuteness Aggressions
Jika bertemu secara langsung dengan Punch, mungkin sebagian orang akan mengalami reaksi emosional yang biasanya dilakukan dengan memeluk, mengusap pelan, hingga perilaku lebih agresif seperti mencubit. Respons ini disebut dengan cuteness aggression atau agresi kelucuan.
Seorang dosen Psikologi di Universitas Deakin, Dr. Alexa Hayley, mengartikan agresi kelucuan sebagai intuisi yang menunjukkan ketertarikan, namun berbanding terbalik dengan perilakunya, dikutip dari laman resmi Deakin University.
Seperti, seseorang yang terlalu gemas dengan hewan tertentu dan kemudian mencubit. Hal tersebut akan diartikan sebagai serangan oleh hewan karena dianggap mengganggu dan menyakitkan.
Saat seseorang menganggap hewan itu sangat "lucu," persepsinya akan terpaku. Secara emosional dan neurologis, ia menganggap hal itu sangat menyenangkan. Bahkan dari segi psikologis dan sosial, efek tersebut akan mendorong individu untuk memelihara dan melindunginya.
Respon ini semakin kuat saat kita menjumpai hewan dengan ciri-ciri fisik neonatal yang bersifat universal. Seperti mata yang besar, hidung kecil, bulu yang halus dan lembut, serta pipi tembem.
(sls/pal)











































