Senang Lihat yang Lain Susah, Benarkah Hewan Bisa Punya Sifat Ini?

ADVERTISEMENT

Senang Lihat yang Lain Susah, Benarkah Hewan Bisa Punya Sifat Ini?

Kalila Untsa - detikEdu
Rabu, 07 Okt 2026 06:00 WIB
Yoko, the only known great ape in captivity in Colombia, rescued after suffering animal abuse, is transported in a container inside El Dorado International Airport, before being relocated to Brazils Sorocaba Sanctuary, in Bogota, Colombia March 23, 2025. REUTERS/Luisa Gonzalez
Ilustrasi simpanse Foto: REUTERS/Luisa Gonzalez
Jakarta -

Pernahkah Anda melihat hewan peliharaan seolah menikmati ketika manusia atau hewan lain mengalami kesialan? Bisa jadi perilaku tersebut tampak seperti schadenfreude, istilah dalam bahasa Jerman untuk menggambarkan rasa senang ketika melihat orang lain mengalami kesusahan atau kemalangan.

Namun, apakah hewan benar-benar bisa merasakan emosi kompleks tersebut?

Pertanyaan itu sempat menarik perhatian setelah seekor burung beo abu-abu Afrika bernama Jack viral pada 2023. Jack diketahui mampu menirukan suara batuk dan napas berbunyi milik ayah pemiliknya, yang kerap mengalami kesulitan bernapas akibat penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) parah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yang membuat Jack semakin menarik perhatian bukan hanya kemampuannya menirukan suara. Burung tersebut tampak menikmati suara batuk pria yang menurut pemiliknya tidak disukainya. Bahkan, sang pemilik mengatakan Jack memiliki suara batuk favorit.

ADVERTISEMENT

Perilaku Jack sekilas menyerupai schadenfreude. Pada manusia, emosi ini misalnya dapat muncul ketika seorang rival di tempat kerja kehilangan pekerjaan atau ketika seseorang yang dianggap menyebalkan mengalami kemalangan.

Hal serupa juga kerap ditafsirkan pemilik hewan. Kucing yang terlihat terlalu senang ketika seseorang tersandung atau kuda yang tampak seperti "menyeringai" saat seseorang menginjak kotorannya bisa dianggap sedang menikmati penderitaan manusia.

Tetapi, benarkah hewan mengalami emosi tersebut? Atau manusia sebenarnya sedang melakukan antropomorfisme, yakni memberikan sifat, pikiran, atau pengalaman manusia kepada hewan?

Sulit Membuktikan Emosi Kompleks pada Hewan

Para peneliti perilaku dan kecerdasan hewan menilai kemungkinan hewan tidak mengalami schadenfreude dengan cara yang sama seperti manusia. Namun, pertanyaan tersebut masih relatif sedikit diteliti secara formal.

Salah satu kendalanya adalah hewan tidak dapat menjelaskan pengalaman emosionalnya melalui bahasa.

"Penelitian mengenai emosi kompleks sangat sulit ketika kita berbicara tentang hewan yang tidak dapat mengomunikasikan emosinya melalui bahasa," kata Zachary Silver, asisten profesor psikologi di Occidental College, Los Angeles, yang memimpin laboratorium kecerdasan anjing.

Menurut Silver, peneliti dapat mengamati perilaku, sinyal neurologis, maupun aktivitas hormon untuk memperkirakan kondisi emosional seekor hewan. Namun, indikator tersebut tidak selalu bisa menunjukkan emosi spesifik yang sedang dialami.

Seekor anjing yang menarik telinganya ke belakang dan menyelipkan ekor di antara kedua kaki, misalnya, kemungkinan sedang mengalami kondisi emosional negatif. Sebaliknya, anjing yang mengibaskan ekornya dapat menunjukkan kondisi emosional positif.

Masalah muncul ketika peneliti mencoba menentukan emosi yang lebih spesifik. Anjing yang terlihat bahagia, misalnya, belum tentu sedang mengalami kebahagiaan seperti yang dipahami manusia. Bisa saja ia hanya tertarik pada sesuatu yang baru.

"Selain positif dan negatif, tanpa kata-kata untuk menggambarkan emosi, menjadi sangat sulit untuk menguraikannya," ujar Silver.

Karena itu, peneliti harus berhati-hati ketika menerjemahkan perilaku hewan menggunakan kategori emosi manusia.

Jangan Terjebak Antropomorfisme

Dalam penelitian perilaku hewan, antropomorfisme menjadi salah satu persoalan yang harus dihindari. Ketika seekor kucing atau anjing mendekati manusia yang sedang berduka, misalnya, manusia mungkin menganggapnya sebagai bentuk empati. Padahal, ada kemungkinan perilaku tersebut sebelumnya diperkuat oleh hadiah seperti makanan, belaian, atau perhatian. Kemungkinan serupa berlaku pada Jack si burung beo.

Kemampuan Jack menirukan suara batuk belum otomatis menunjukkan ia memahami penderitaan manusia atau merasa senang melihat orang tersebut kesulitan bernapas. Bisa saja burung itu sekadar mengetahui bahwa menirukan suara tersebut membuatnya mendapatkan perhatian.

Dengan demikian, perilaku yang tampak seperti schadenfreude belum cukup untuk membuktikan bahwa hewan benar-benar mengalami emosi tersebut.

Selain itu, ada persoalan lain yang membuat schadenfreude sulit dibuktikan pada hewan, yakni kebutuhan untuk memahami kondisi mental individu lain.

Konsep ini berkaitan dengan theory of mind, yaitu kemampuan memahami individu lain memiliki pikiran, keyakinan, keinginan, niat, dan emosi yang dapat berbeda dari dirinya sendiri.

Silver mengatakan anjing mungkin memiliki kemampuan tertentu untuk mengatribusikan kondisi mental seperti emosi, pikiran, keyakinan, dan niat kepada individu lain. Namun, kemampuan tersebut hanya terlihat dalam konteks tertentu dan masih tergolong sederhana.

Karena itu, ia menilai sangat kecil kemungkinan anjing mengalami schadenfreude seperti manusia.

Peneliti perilaku hewan dari University of Mary Washington, David Stahlman, juga meragukan kemampuan tersebut. Menurut Stahlman, terdapat perbedaan antara affect, atau keadaan afektif, perilaku emosional, dan kemampuan mengenali keadaan emosional tersebut dalam diri sendiri.

Jika kemampuan memahami kondisi mental diri sendiri dan individu lain memang ditemukan pada hewan, Stahlman menduga bukti paling mungkin ditemukan pada hewan dengan kehidupan sosial yang sangat kompleks, seperti kera besar termasuk simpanse dan bonobo.

Schadenfreude bukan sekadar melihat individu lain menderita. Emosi tersebut juga berkaitan dengan pemahaman mengenai siapa yang mengalami kemalangan dan konteks sosial di baliknya.

Dalam kelompok hewan yang memiliki hierarki sosial, penderitaan satu individu bahkan dapat memberikan keuntungan bagi individu lain. Kondisi tersebut mungkin memunculkan respons yang sekilas menyerupai kegembiraan.

Namun, Stahlman meragukan apakah respons semacam itu benar-benar dapat disebut schadenfreude. "Hal-hal yang bersifat Machiavellian seperti itu sangat manusiawi," ujarnya.


Bukan Berarti Hewan Tidak Punya Emosi

Meski bukti mengenai schadenfreude belum kuat, hal itu bukan berarti kehidupan emosional hewan sederhana. Kaeli Swift, peneliti perilaku hewan dari University of Washington dan penulis blog Corvid Research, mengatakan banyak data menunjukkan hewan memiliki kapasitas kecerdasan emosional yang mendalam.

Swift menunjuk penelitian terhadap sejumlah spesies corvid, kelompok burung yang mencakup gagak, raven, dan kerabatnya.

Penelitian terhadap kelompok tersebut menemukan bukti mengenai kemampuan mengenali emosi, merespons aspek keadilan, serta kemampuan yang berkaitan dengan theory of mind.

Menurut Swift, corvid bahkan termasuk kelompok hewan yang memiliki salah satu bukti terkuat mengenai kemampuan theory of mind. Namun, kemampuan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa corvid atau hewan lain mampu mengalami emosi subjektif serumit schadenfreude.

"Dalam penelitian mengenai emosi hewan, kita baru mulai menggaruk permukaannya," kata Swift.

Halaman 2 dari 2
(pal/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads