Saat menginap di hotel, ada detail kecil di kamar mandi yang mungkin sering luput dari perhatian. Ujung gulungan tisu toilet biasanya dilipat rapi membentuk segitiga yang mengarah ke bawah.
Sekilas, lipatan tersebut terlihat seperti hiasan sederhana. Namun, kebiasaan yang dilakukan di berbagai hotel ini ternyata menyimpan cerita menarik tentang kebersihan, pelayanan, perhatian terhadap detail, hingga bagaimana sebuah kebiasaan dapat menyebar menjadi bagian dari budaya.
Lantas, mengapa petugas hotel repot-repot melipat ujung tisu toilet?
Bukan Sekadar Hiasan
Tidak diketahui secara pasti kapan dan di mana kebiasaan melipat ujung tisu toilet tersebut pertama kali dimulai.
Namun, penulis David Feldman pernah menelusuri fenomena yang kemudian dikenal sebagai "toilet paper origami" atau "toilegami" melalui kolomnya, Imponderables.
Dari penelusurannya, lipatan tersebut ternyata dimaksudkan sebagai semacam sinyal visual kepada tamu bahwa kamar mandi telah dibersihkan dan dipersiapkan untuk kedatangan mereka.
"Hotel ini memberi tamu mereka kepercayaan bahwa kamar mandi telah dibersihkan sejak tamu terakhir menggunakan kamar tersebut," kata James P. McCauley, direktur eksekutif International Association of Holiday Inns, dikutip dari David Feldman, dari IFL Science, Selasa (29/9/2026).
Dengan kata lain, lipatan kecil tersebut berfungsi seperti pesan tanpa kata yakni kamar ini sudah diperiksa dan disiapkan untuk para tamu yang baru tiba.
Bagi tamu, tanda tersebut juga memberikan rasa lebih nyaman. Mereka mungkin tidak mengetahui secara langsung siapa yang membersihkan kamar atau kapan terakhir kali kamar mandi dibersihkan. Namun, tisu yang dilipat menjadi salah satu tanda bahwa petugas housekeeping telah melakukan pekerjaan mereka.
Fenomena ini bahkan pernah menarik perhatian fotografer Stephen Gill.
Suatu hari, Gill menyadari ujung gulungan tisu di kamar hotel dilipat dengan sangat rapi dan simetris. Ia kemudian menyadari hal serupa pernah dilihatnya di hotel dan penginapan di berbagai tempat.
Gill lalu menghabiskan sekitar tiga tahun mengumpulkan potongan tisu yang telah dilipat dari hotel dan penginapan yang ia kunjungi.
Ia menemukannya di berbagai tempat, mulai dari Spanyol, Kanada, New York, Jepang, Inggris hingga Rumania. Potongan-potongan tersebut kemudian disimpan dan difoto dengan kamera serta pencahayaan yang sama.
Hasilnya menunjukkan meskipun bentuk dasarnya serupa, setiap lipatan memiliki karakteristik berbeda.
Lipatan dari Tokyo, misalnya, memiliki detail yang sangat kecil dan rapi. Sementara lipatan yang ditemukan di New York terlihat lebih sederhana dengan kertas yang lebih tipis dan kasar.
"Saya menyadari bahwa perbedaan-perbedaan ini pasti mencerminkan suasana hati orang-orang yang menciptakannya. Apakah mereka sedang terburu-buru, atau bagaimana perasaan mereka," kata Gill dikutip dari The Guardian.
Bagi Gill, perbedaan tersebut menarik karena menunjukkan di balik benda yang tampaknya tidak berarti terdapat manusia yang membuatnya.
Ia bahkan menyebut koleksi tersebut sebagai "people-less portraits", atau potret tanpa manusia. Fotonya memang hanya potongan tisu, tetapi benda tersebut menjadi representasi orang-orang yang membuatnya.
Simak Video " Menginap di Hotel Mewah dan Bersantai di Bali Setelah Berpetualang "
(pal/pal)