Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai laboratorium science, technology, engineering, and mathematics atau STEM di sekolah masih perlu dikembangkan bukan hanya untuk ruang praktikum, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran, penelitian, inovasi, dan kolaborasi. Maka, dalam rangka transformasi pendidikan di Sekolah Garuda, BRIN tengah merancang kerangka tata kelola laboratorium STEM berbasis ekosistem inovasi.
Peneliti Pusat Riset Pendidikan (PRP) BRIN, Suharman Halawa mengatakan pembangunan talenta siswa di Sekolah Garuda tidak cukup dengan penguasaan teori sains. Siswa juga perlu memahami bagaimana pengetahuan dibangun, bagaimana merumuskan pertanyaan penelitian, hingga merancang pemecahan masalah berdasarkan bukti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Guru Punya Antusiasme, Tapi Kurang Keterampilan Teknis
BRIN menemukan masih ada kesenjangan keterampilan penerapan STEM di sekolah. Persepsi dan antusiasme guru akan pembelajaran STEM memang tergolong tinggi, tetapi sebagian besar guru masih punya keterbatasan keterampilan teknis untuk menerapkannya dalam pembelajaran.
"Namun, hasil survei riset kami di lima provinsi, Jawa Barat, D.I. Yogyakarta, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku, menunjukkan adanya kesenjangan keterampilan (skills gap). Meskipun persepsi dan antusiasme guru terhadap penerapan STEM sangat tinggi, mayoritas guru merasa keterampilan teknis mereka belum memadai untuk mengimplementasikannya di kelas," jelas Suharman dalam sharing session bertajuk "STEM Education in the Age of AI: Rethinking Teacher Capacity, Pedagogy, and Student Learning" di Auditorium Gedung Widya Graha, BRIN Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Suharman mengatakan temuan ini menunjukkan perlu ada tata kelola laboratorium yang tidak bergenti pada penyediaan sarana dan prasarana. Laboratorium perlu dirancang sebagai ruang yang mengaitkan proses pembelajaran dan penelitian, pengembangan inovasi, peningkatan kapasitas guru, dan kemitraan dengan berbagai pihak.
BRIN mengusulkan STEM Innovation Ecosystem Laboratory Governance Framework atau kerangka tata kelola laboratorium STEM yang berbasis ekosistem inovasi. Kerangka tersebut mengintegrasikan enam komponen utama di antaranya tata kelola dan kepemimpinan, penelitian dan pengembangan solusi inovatif, pembelajaran berbasis inkuiri serta proyek atau desain, kemitraan multisektor, peningkatan profesionalisme guru, dan diseminasi praktik baik.
Kolaborasi multisektor dalam kerangka tersebut mencakup sekolah, kampus, dan industri. Kemudian, diseminasi praktik baik diarahkan guna memastikan pengalaman dan inovasi yang dikembangkan di laboratorium bisa dibagikan dan dimanfaatkan secara luas.
Tata Kelola Lab Perlu Disesuaikan Karakteristik Sekolah
Menurut Suharman, perancangan model tata kelola laboratorium tersebut dilakukan melalui studi di lima sekolah dengan karakteristik serta konteks yang beragam. Kajian dilakukan di SMA Unggul Garuda Timor di NTT untuk merepresentasikan tantangan di wilayah 3T, MAN Insan Cendekia Gorontalo untuk melihat tata kelola lintas kementerian, dan SMA Del di Sumatera Utara untuk mempelajari pola kemitraan berbasis yayasan dan swasta.
Kajian juga dilakukan di SMAN Unggulan MH Thamrin Jakarta dan SMA Taruna Nusantara sebagai representasi sekolah negeri dengan karakteristik formasi yang berbeda. Keragaman lokasi menjadi dasar untuk melihat bagaimana tata kelola laboratorium STEM bisa disesuaikan dengan kebutuhan serta konteks sekolah.
Dalam kerangka yang tengah disusun BRIN, guru ditempatkan sebagai salah satu unsur penting dalam keberlanjutan ekosistem laboratorium STEM. Penguatan kapasitas guru tidak cuma berkaitan dengan penggunaan alat-alat laboratorium, tetapi juga dalam merancang pembelajaran berbasis penelitian, proyek, dan pemecahan masalah.
Dengan adanya kajian ini, BRIN berupaya menghasilkan rekomendasi tata kelola laboratorium STEM yang bisa diterapkan sesuai karakteristik sekolah. Sehingga laboratorium bisa berkembang menjadi bagian dari ekosistem yang memperkuat kapasitas guru, penelitian, pengalaman belajar peserta didik, inovasi, dan kolaborasi di lingkungan sekolah.
