Disleksia masih kerap disalahartikan sebagai tanda anak malas, kurang belajar, atau bahkan kurang cerdas. Padahal, disleksia tidak ada kaitannya dengan tingkat kecerdasan anak.
Hal ini ditegaskan oleh Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Irwanto dr SpA(K). Ia menjelaskan disleksia adalah kondisi spesifik yang berkaitan dengan kesulitan dalam berbahasa.
Kondisi ini tentunya berbeda dengan gangguan belajar. Sehingga persepsi tersebut harus diluruskan.
"Disleksia merupakan kesukaran dalam berbahasa, hal tersebut sangat berbeda dengan gangguan belajar. Jika gangguan belajar adalah masalah kesulitan di dalam prosesor kognitifnya, anak disleksia belum tentu ada masalah dengan kognitifnya," terang Irwanto dikutip dari laman Unair, Senin (28/9/2026).
Disleksia Bukan Berarti Bodoh
Secara etimologi, istilah disleksia berasal dari kata dis yang berarti kesukaran dan leksia yang berarti bahasa. Dengan demikian, disleksia dapat diartikan sebagai kesulitan dalam berbahasa.
Penderita disleksia akan mengalami kesukaran dalam berbicara, membaca, menulis, dan berbahasa sosial. Oleh karena itu, Irwanto mengajak masyatakat untuk tidak melabeli anak disleksia sebagai anak bodoh.
"Penting untuk tidak melabeli anak disleksia tanpa ada suatu evaluasi secara objektif. Anak disleksia itu memiliki kognitif yang bagus, jadi masyarakat tidak berhak melabeli mereka sebagai anak yang bodoh," jelasnya.
Sulit Dideteksi Sebelum Usia 5 Tahun
Gejala disleksia memang bisa dideteksi. Namun, sebelum anak berusia lima tahun itu tantangan dalam mengenalinya.
Sebab, anak biasanya baru mulai belajar mengenal huruf dan menyusun kalimat secara utuh ketika memasuki usia sekitar lima tahun ke atas.
"Sedikit susah jika mengetahui tanda disleksia di usia lima tahun, karena biasanya anak-anak mulai belajar huruf dan berbicara secara utuhnya itu saat usia lima tahun ke atas. Itulah kenapa lebih mudah ditemukan pada anak saat masuk sekolah," jelas dokter spesialis anak tersebut.
Cara Kenali Gejala Disleksia
Salah satu cara untuk mengenali gejala disleksia adalah dengan memantau perkembangan anak dengan rutin. Pemantauan ini bisa dibantu oleh Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
Irwanto mengatakan salah satu tanda khas anak mengalami disleksia adalah adanya kekeliruan saat mengucapkan kata. Anak disleksia biasanya akan mengucapkan secara terbalik.
"Jika terdapat pengucapan yang salah, misalnya buka menjadi buku, hal tersebut langsung dikonsultasikan kepada dokter anak untuk kemungkinan screening apakah dia disleksia atau tidak," imbaunya.
Jika gejala sudah jelas dan anak sudah didiagnosis mengalami disleksia, maka upaya intervensi terapi harus segera dilakukan. Misalnya dengan memasukkannya ke sekolah formal khusus bagi anak disleksia.
"Jika ditemukan anak dengan diagnosa disleksia maka harus dilakukan suatu terapi. Kebetulan Pemerintah Kota Surabaya menyediakan secara gratis selama tiga bulan," kata Irwanto.
Irwanto menyarankan orang tua untuk berkonsultasi dengan tenaga medis apabila menemukan tanda-tanda yang mengarah pada disleksia. Evaluasi objektif diperlukan sebelum memberikan diagnosis maupun label kepada anak.
Simak Video "Video: IDAI Sebut Anak Gemuk Bukan Berarti Sehat"
(cyu/twu)