OECD Ungkap Kemampuan Membaca Anak Sekarang Mengkhawatirkan

ADVERTISEMENT

OECD Ungkap Kemampuan Membaca Anak Sekarang Mengkhawatirkan

Novia Aisyah - detikEdu
Selasa, 15 Sep 2026 06:31 WIB
Beberapa buku yang ditumpuk dengan sebuah apel di atasnya.
Ilustrasi buku. Foto: Element5 Digital/Unsplash
Jakarta -

Belum lama ini skor Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 diumumkan. Hasilnya, kemampuan membaca anak berusia 15 tahun secara global menurun tajam.

Berdasarkan data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), penurunannya sebesar 28 poin. Menurut Sekretaris Jenderal OECD, Mathias Cormann, penurunan kemampuan membaca ini sangat mengkhawatirkan.

Ia memaparkan, keterampilan membaca membantu pembelajaran di seluruh kurikulum. Kemampuan membaca juga sangat penting untuk menemukan, mengevaluasi, menafsirkan, dan merefleksikan informasi di dunia yang semakin digital.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tren Terburu-buru Membaca Teks, Tapi Kesimpulan Salah

Direktur Bidang Pendidikan dan Keterampilan OECD, Andreas Schleicher turut menyampaikan kekhawatiran terhadap penurunan kemampuan membaca, khususnya yang terkait dengan penurunan keterampilan-keterampilan paling penting pada era kecerdasan buatan (AI). Keterampilan-keterampilan penting tersebut di antaranya mengevaluasi informasi, membuat keputusan, menghubungkan berbagai sumber, serta berpikir kritis pada apa yang dibaca.

ADVERTISEMENT

Ia menyebut berdasarkan tren tahun 2018-2025, proporsi siswa yang terburu-buru dalam membaca teks dan memberi jawaban singkat tetapi salah, hampir berlipat ganda.

"Di dunia yang semakin dibanjiri informasi, murid saat ini cenderung kurang mampu berpikir mendalam dan memisahkan informasi penting dari informasi yang tidak relevan," ungkapnya, dikutip dari Puslapdik Kemendikdasmen.

Bagaimana Kemampuan Membaca Anak Indonesia?

Sekitar 27% siswa Indonesia baru mencapai level 2 dalam hal kemampuan membaca. Sehingga, kemampuannya jauh di bawah rata-rata negara OECD yang sebesar 69%.

Apabila didefinisikan, keterampilan membaca level 2 berarti siswa Indonesia mampu mengidentifikasi ide utama dalam teks panjang, menemukan informasi berdasarkan kriteria eksplisit meskipun terkadang kompleks, serta mampu merefleksikan tujuan dan bentuk teks saat secara eksplisit diarahkan untuk melakukannya.

Namun, di Indonesia nyaris tidak ada siswa yang mampu mencapai level 5 dalam membaca. Sedangkan di antara negara OECD, pada level tersebut rata-ratanya 6%.

Keterampilan membaca level 5 atau lebih ditafsirkan sebagai kemampuan memahami teks panjang, menghadapi konsep-konsep abstrak atau berlawanan dengan intuisi, dan membedakan antara fakta dan opini berdasarkan petunjuk implisit yang berhubungan dengan isi atau sumber informasi.



(nah/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads