Kisah Maryati, Dosen UMS yang Jatuh Bangun Rintis Pabrik Kosmetik-Kini Buka Beasiswa

ADVERTISEMENT

Kisah Maryati, Dosen UMS yang Jatuh Bangun Rintis Pabrik Kosmetik-Kini Buka Beasiswa

Fahri Zulfikar - detikEdu
Kamis, 01 Okt 2026 10:00 WIB
Dosen Farmasi UMS, Maryati Widiharto, membuka program beasiswa untuk mahasiswa semester satu berkat bisnis kosmetik yang dirintisnya.
Foto: UMS/Dosen Farmasi UMS, Maryati Widiharto, membuka program beasiswa untuk mahasiswa semester satu berkat bisnis kosmetik yang dirintisnya.
Jakarta -

Dosen Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), apt Maryati Widiharto, PhD, kini membuka Program Happy White Scholarship untuk mahasiswa baru yang kurang mampu secara ekonomi. Siapa sangka, beasiswa ini merupakan hasil dari usahanya merintis sebuah bisnis di bidang kosmetik.

Maryati merupakan lulusan S1 Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus mengambil profesi apoteker dan S2 di kampus yang sama. Usai dari UGM, ia mengambil gelar doktoral di Philosophy in Pharmacy, University of Nottingham, United Kingdom dengan beasiswa penuh dari Islamic Development Bank (IDB) Jeddah.

Dengan pengalaman dan keilmuannya, Maryati kemudian merintis bisnis kosmetik dari sebuah rumah kontrakan sederhana di Dalangan, Pabelan, Sukoharjo. Bersama sang suami, Hasto Widiharto, Maryati mengubah dapur menjadi laboratorium pertama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dapur itu pokoknya udah kayak laboratorium. Ada beker gelas segala macam. Kita praktik kecil-kecilan di sana," ujarnya, dikutip dari laman resmi UMS, Rabu (30/9/2026).

ADVERTISEMENT

Jatuh Bangun Merintis Bisnis Kosmetik

Saat merintis bisnisnya, ia pernah mengalami kegagalan. Terutama saat dirinya bersama keluarga menjadi perantara kosmetik dengan membantu produsen mencarikan pabrik.

Namun, pengalaman itu berakhir tak sesuai harapan. Kualitas produk pabrik yang pernah dikunjunginya cenderung tidak bagus.

Pengalaman itu juga yang membuat Maryati berpikir bahwa industri kosmetik bukan hanya memproduksi dan menjual barang. Hal yang terpenting adalah pemahaman dalam formulasi, proses produksi, dan pemeliharaan standar mutu yang menghasilkan produk kosmetik berkualitas.

"Dari situ langsung kepikiran, ah! Pokoknya pengen buat pabrik sendiri yang bagus dan mutunya terjamin," ungkap Maryati.

Saat baru membangun pabrik pertamanya, pandemi COVID-19 melanda. Padahal sebelum pandemi, salah satu produk Maryati bisa mencapai 70 ribu pcs per bulan.

Bisnisnya pun goyang hingga terpaksa memangkas dari 30 karyawan menjadi 5 karena tidak ada orderan masuk sama sekali.

"Saya kasih THR karyawan sambil memberhentikan. Berat sekali hati saya, tapi mau gimana lagi? Karena memang tidak ada pekerjaan juga, wong produksi juga mandek," ujarnya.

Perlahan seiring pandemi memulihkan situasi normal baru, pabriknya mulai membaik. Maryati pun memanggil kembali karyawan-karyawan yang pernah diberhentikan.

Pada 2021, bisnisnya melonjak berkat merek perawatan kulit. Kapasitas produksi pun terus meningkat hingga bisnisnya semakin berkembang.

"Sekarang kosmetik itu seperti kebutuhan primer, kan? Anak-anak yang masih sekolah gitu sekarang saja lebih memilih nggak jajan buat beli skincare," kata ibu tiga anak tersebut.

Sampai saat ini, Maryati telah memiliki dua pabrik kosmetik dengan 40 karyawan. Ia juga mempekerjakan masyarakat sekitar pabrik dan rumah untuk membantu proses pengemasan ketika orderan melonjak.

Buka Program Beasiswa

Sebagai pengajar, ia tak hanya berkontribusi dengan ilmunya. Maryati pun membuka program beasiswa yang menyasar mahasiswa semester pertama yang baru masuk perguruan tinggi.

Program ini dilandasi oleh dirinya yang kerap menemui mahasiswa baru yang tengah kesulitan biaya dan mengakses beasiswa. Salah satu penyebabnya adalah banyak program beasiswa mensyaratkan IPK sebagai kriteria penerimanya.

"Kalau semester satu biasanya mencari beasiswa itu sulit. Harapannya nanti semester berikutnya mereka sudah bisa mencari beasiswa lain dengan nilai yang bagus. Tapi, ada juga yang kami teruskan beasiswanya sampai lulus seperti anak-anak yatim piatu," paparnya.

Melalui program beasiswanya, Maryati bisa membantu hingga 20 mahasiswa pada setiap penerimaan mahasiswa baru. Sampai 2026, program beasiswa Maryati telah membantu lebih dari 50 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Bagi Maryati, keberhasilan usaha bukan hanya diukur dari pertumbuhan perusahaan, melainkan juga dari nilai manfaat yang bisa diberikan kepada sesama.



(faz/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads