detikBali

Cerita Kelvin, Bocah Penyintas Disleksia Asal Bali Juara Coding Internasional

Terpopuler Koleksi Pilihan

Cerita Kelvin, Bocah Penyintas Disleksia Asal Bali Juara Coding Internasional


Hani Sofia Muthmainnah - detikBali

I Gede Kelvin Narendra Van Veggel, bocah penyintas disleksia asal Bali yang menjadi The Best Animation Award 2025 dalam ajang International Scratch Olympiad. (Foto: Dok. Istimewa)
I Gede Kelvin Narendra Van Veggel, bocah penyintas disleksia asal Bali yang menjadi The Best Animation Award 2025 dalam ajang International Scratch Olympiad. (Foto: Dok. Istimewa)
Denpasar -

I Gede Kelvin Narendra Van Veggel berhasil meraih juara di kancah internasional. Bocah 10 tahun asal Bali itu menjadi The Best Animation Award 2025 dalam ajang International Scratch Olympiad.

Prestasi tersebut diraih Gede Kelvin setelah melewati perjalanan yang tidak mudah. Sebab, ia didiagnosis mengalami disleksia dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang membuatnya kesulitan membaca dan berkonsentrasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kelvin pernah bercerita kepada ibunya bahwa huruf-huruf yang ia lihat seperti menari-nari. Di sekolah, Kelvin juga sempat merasa berbeda dari teman-temannya. Bocah berdarah Indonesia-Belanda itu bahkan sempat dipandang sebelah mata oleh guru-guru hingga harus pindah sekolah.

Ibunda Kelvin, Ni Nyoman Ayu Putri Ariani, mengaku sudah melihat tanda-tanda tersebut sejak Kelvin kecil. "Saya sampai berpikir, apa anak saya ini bodoh? Bahkan pertanyaan sederhana seperti lima tambah lima saja tidak bisa," ujar Ariani saat ditemui detikBali, Senin (16/3/2026).

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, Kelvin justru menemukan kekuatannya pada permainan logika yang berkaitan dengan pemrograman. Ia juga tampak cepat memahami materi coding dengan lebih mudah.

"Yang ngajarin sampai bilang 'anak ini cocok di coding, cepat sekali nangkapnya'," kata Ariani sembari menirukan ucapan guru coding anaknya.

Sejak itu, Kelvin mulai menekuni dunia coding. Saat berusia sekitar lima tahun, ia sudah mampu membuat game sederhana sendiri.

Meski memiliki kemampuan di bidang coding, Kelvin tetap mengalami kesulitan saat mengikuti pelajaran di sekolah. Ia kesulitan dalam membaca dan menulis sehingga sering dianggap tidak bisa mengikuti pelajaran.

"Sekolah bilang mereka tidak bisa menangani dia. Karena dia nggak bisa baca, nggak bisa nulis," tutur Ariani.

I Gede Kelvin Narendra Van Veggel, bocah penyintas disleksia asal Bali yang menjadi The Best Animation Award 2025 dalam ajang International Scratch Olympiad. (Foto: Dok. Istimewa)I Gede Kelvin Narendra Van Veggel, bocah penyintas disleksia asal Bali saat meraih penghargaan dalam sebuah kompetisi coding. (Foto: Dok. Istimewa)

International Scratch Olympiad

Ketertarikan Kelvin pada coding kemudian terus berkembang. Ia pun mengikuti berbagai kompetisi hingga akhirnya berpartisipasi dalam ajang International Scratch Olympiad.

Ajang tersebut diikuti ribuan peserta dari berbagai negara. Dalam kompetisi tersebut, para peserta diminta membuat game sesuai tema dalam waktu terbatas.

"Pesertanya dari seluruh dunia, ada Dubai, India, dan negara lain," ucap Ariani.

Bagi Kelvin, membuat game dan belajar coding juga menjadi cara untuk melepas penat. Aktivitas tersebut membuatnya lebih rileks sekaligus meningkatkan rasa percaya diri.

Meski ia masih menghadapi kesulitan akibat ADHD dan disleksia, Kelvin kini tidak lagi merasa rendah diri. Ia berharap anak-anak lain yang memiliki kondisi serupa untuk tetap percaya diri dan tidak menyerah.

"Tidak peduli kamu punya disleksia atau ADHD, kamu tetap sama seperti lainnya," kata Kelvin.




(iws/iws)











Hide Ads