Apakah detikers sering lupa menaruh barang di suatu tempat? Tenang, bisa jadi itu masih hal yang wajar selama tidak mengganggu aktivitas atau pekerjaan.
Ingatan manusia merupakan sistem yang kompleks di otak. Tidak seperti ruang penyimpanan di ponsel, memori tidak memiliki kapasitas pasti mengenai informasi yang bisa ditampungnya. Meski demikian, hanya sebagian kecil yang dapat disimpan dalam jangka panjang.
Memori otak bekerja lebih lambat dibandingkan dengan kehidupan manusia setiap harinya. Maka dari itu, otak manusia hanya dapat mengingat sekitar sepersepuluh dari peristiwa, pengalaman, dan pertemuan spesifik yang telah dilewati.
Dalam sebuah studi yang dipublikasikan pada 'Proceedings of the Royal Society B', ditemukan bahwa rata-rata manusia dapat mengingat 5.000 wajah, jumlah yang cukup banyak.
Lalu, mengapa bisa seseorang melupakan jadwalnya padahal ia sudah mencoba untuk mengingatnya dengan baik?
Memori Jangka Pendek dan Panjang
Otak manusia memiliki dua bagian memori, yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Bisa jadi, informasi jadwal penting kamu tidak masuk ke dalam memori jangka panjang sejak awal.
Untungnya, hal ini dapat diatasi dengan 'memindahkan' informasi di memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Dalam ilmu neurologis, informasi diproses di bagian otak hipokampus sebelum didistribusikan ke seluruh neokorteks.
Ada enam kiat yang bisa dilakukan untuk menyimpan informasi ke memori jangka panjang. Berikut caranya.
6 Cara Melatih Ingatan Menjadi Kuat/Tajam
1. Latihan Mengingat Sebuah Informasi
Menghafal informasi dengan cara melihatnya terus-menerus merupakan jalan yang kurang efektif. Cara yang lebih efektif adalah mengulang secara langsung. Ini disebut sebagai latihan mengingat aktif atau latihan pengambilan informasi.
Dengan mengulangi informasi, otak akan menciptakan kembali informasi tersebut untuk membantu memperkuat jalur saraf yang relevan. Namun, hal ini perlu dilakukan dengan menerapkan jeda beberapa saat.
Pengulangan informasi yang sama secara terus-menerus dalam satu waktu juga bukan hal yang baik. Kamu bisa menentukan kapan harus mengingat sesuatu dan merencanakan kapan harus mulai melakukan pengulangan dan jedanya.
Psikolog kognitif merekomendasikan untuk meninjau kembali informasi setelah 30 persen dari waktu yang diinginkan. Jadi, apabila kamu punya jadwal penting dalam kurun waktu 30 hari, usahakan untuk mulai mengingat 10 hari sebelum hari H.
2. Latih dengan Visual atau Gambar
Hipokampus merupakan bagian otak yang terlatih dalam mengolah peta spasial, citra visual, dan asosiasi. Kamu bisa memanfaatkan bagian ini dengan cara mengubah informasi verbal atau tertulis menjadi sebuah gambar agar lebih mudah diingat.
Gambar-gambar ini kemudian bisa kamu letakkan di titik tertentu, misalnya di rumah atau meja kerja, yang sudah familiar. Titik yang familiar ini sudah tersimpan kuat dalam memori spasial. Sehingga bisa menjadi rak yang kokoh untuk menggantungkan informasi baru.
Teknik ini bukan hanya trik hafalan untuk pidato atau menjelang ujian. Seorang psikiater, Dr Kailas Roberts, bahkan menggunakan metode ini saat melakukan praktik klinis.
"Tempat-tempat yang familiar ini kurang rentan terhadap erosi dibandingkan ingatan jangka pendek, sehingga mengaitkan ingatan jangka pendek dengan tempat-tempat yang familiar dapat sangat membantu," katanya, dikutip dari BBC Science Focus, Rabu (23/9/2026).
3. Ubah Informasi Jadi Komedi
Humor bisa menjadi alat bantu ingatan yang efektif karena cara otak memproses hal-hal lucu berbeda dengan informasi biasa. Informasi yang lucu biasanya memiliki pola yang agak mengejutkan.
Hal tersebut yang memunculkan respons kesenangan di otak melibatkan pelepasan dopamin dan aktivasi pusat kesenangan (pleasure centers).
Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah membuat akronim yang lucu dari informasi yang ingin diingat. Bisa juga dengan memberikan nama-nama jenaka pada daftar belajar atau tugas.
4. Berhenti Gunakan GPS
Berdasarkan sebuah studi yang dipublikasikan di 'Scientific Reports', pengemudi yang mengandalkan navigasi menunjukkan kinerja yang lebih buruk dalam tes yang mengharuskan mereka mengingat lokasi objek dalam labirin virtual.
Para peneliti menguji ulang beberapa peserta beberapa tahun kemudian dan hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan navigasi satelit yang lebih sering justru merusak memori spasial.
Kabar baiknya adalah bahwa memori spasial sangat mudah beradaptasi tergantung pada seberapa sering menggunakannya. Mungkin terasa sulit untuk meninggalkan GPS untuk perjalanan jauh, namun penggunaannya bisa dikurangi di area lokal atau sekitar tempat tinggal.
5. Belajar Keterampilan Baru
Penelitian menunjukkan bahwa mempelajari keterampilan baru secara lebih luas mendukung daya ingat dan membantu memperkuat apa yang dikenal sebagai cadangan kognitif.
"Kita harus melakukan hal-hal yang tidak familiar - hal-hal ini tampaknya sangat efektif dalam mendorong pembentukan sirkuit saraf baru yang mungkin memungkinkan kita untuk berfungsi pada tingkat yang lebih tinggi bahkan ketika patologi memengaruhi struktur otak," kata Roberts.
Salah satunya adalah mempelajari bahasa baru. Pada studi yang dipublikasikan pada 2007 silam, terungkap bahwa orang yang bilingual, yang berbicara menggunakan dua bahasa, menunjukkan gejala demensia rata-rata empat tahun lebih lambat.
6. Bersosialisasi
Cara terakhir yang sama pentingnya, untuk memelihara dan melindungi daya ingat adalah dengan lebih sering bersosialisasi.
Sebuah studi yang dipublikasikan pada 2020 lalu melibatkan ribuan peserta usia menengah dan lanjut selama beberapa tahun. Peserta yang lebih banyak terlibat dalam aktivitas sosial menunjukkan penurunan fungsi mental yang lebih sedikit.
Semakin banyak aktivitas sosial yang mereka ikuti, seperti bertemu teman, menjadi sukarelawan, mengikuti klub, semakin besar efek perlindungan yang tampak.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
Simak Video "3 Manfaat Lebih Puasa bagi Kesehatan Otak Penderita Stroke"
(faz/faz)