Studi: Otak Pria Menua Lebih Cepat daripada Otak Wanita, Ini Dampaknya

ADVERTISEMENT

Studi: Otak Pria Menua Lebih Cepat daripada Otak Wanita, Ini Dampaknya

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Rabu, 25 Feb 2026 07:00 WIB
Ilustrasi lansia
Foto: Shutterstock/Ilustrasi Lansia
Jakarta -

Studi dari tim ilmuwan internasional menunjukkan otak pria menua lebih cepat daripada otak wanita. Hal ini berdampak pada penurunan fungsi otak yang lebih dulu dialami pria seiring bertambahnya usia.

Penelitian yang terbit di Proceedings of the National Academy of Sciences pada 13 Oktober 2025 tersebut, menjadi temuan penting karena sebelumnya telah diketahui bahwa wanita lebih rentan terkenal alzheimer dibanding pria. Temuan ini juga menunjukkan risiko alzheimer tidak sederhana.

"bukti kuat yang menentang salah satu kemungkinan penjelasan untuk peningkatan risiko penyakit Alzheimer pada wanita, yaitu bahwa otak wanita menua lebih cepat daripada otak pria," kata ahli neurologi klinis di Queen Mary University of London, Profesor Charles Marshall, dikutip dari BBC Science Focus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tanda Kerusakan Otak pada Pria Lebih Cepat

Dalam studi yang dipimpin oleh para ahli saraf di Universitas Oslo, Norwegia, penelitian melibatkan 4700 orang dewasa berusia 17 hingga 95 tahun yang menjalani dua kali pemindaian MRI. Para peserta seluruhnya dalam kondisi sehat dan tidak memiliki gangguan kognitif apapun selama penelitian, mereka dipantau selama rata-rata 3 tahun.

ADVERTISEMENT

Hasilnya menunjukkan otak pria mengalami pengurangan volume otak lebih besar. Selain itu, sebagian besar bagian otak mereka mengalami penurunan fungsi dibanding wanita.

Bagian paling terdampak adalah korteks postcentral, yaitu area yang memproses sensasi sentuhan, suhu, nyeri, dan kesadaran tubuh akan posisinya sendiri. Pada pria terjadi penurunan sekitar 2% per tahun, sementara wanita hanya 1,2% setiap tahunnya.

Pria juga cenderung memperlihatkan tanda-tanda penipisan dan kerusakan wilayah otak lainnya. Hal ini meliputi fungsi otak dalam pemrosesan visual, memori, pembelajaran, dan gerakan. Namun, penurunan fungsi otak pada wanita terjadi di beberapa bagian lain. Misalnya pembesaran ventrikel yang mengindikasikan hilangnya jaringan otak.

Secara keseluruhan, para peneliti menyimpulkan bahwa penuaan otak lebih cepat terjadi pada wanita.

Jika Bukan Penuaan Otak, Apa Penyebabnya?

Meski stud baru belum menjawab mengapa wanita lebih rentan terkena Alzheimer, riset terbaru lain memberikan beberapa kemungkinan. Sebuah studi terhadap tikus yang terbit di Science Translational Medicine, menemukan sebuah gen yang mungkin adalah penyebabnya.

Para ilmuwan di Universitas California, Los Angeles (UCLA) menemukan gen 'Kdm6a', yang menimbulkan peradangan pada sel imun otak atau disebut mikroglia. Peradangan merupakan salah satu faktor risiko Alzheimer.

Gen Kdm6a terdapat pada kromosom X. Pria dengan satu kromosom X, sedangkan wanita memiliki dua kromosom X, sehingga dua salinan ini berpotensi memperkuat efeknya.

Pada tikus betina menonaktifkan gen ini adalah dengan mengurangi molekul inflamasi. Namun efeknya nyaris tidak muncul pada tikus jantan.

Seorang ahli neurologi di UCLA sekaligus penulis utama, Profesor Rhonda Voskuhl, menyampaikan bahwa peningkatan peradangan ini mungkin bermanfaat di fase awal kehidupan wanita.

Ia mengatakan pada usia subur wanita, peradangan ekstra mungkin membantu tubuh wanita menangkal infeksi. Sementara itu tetap terkendali oleh hormon estrogen, yaitu hormon seks wanita yang bersifat anti inflamasi dan melindungi otak.

"Saat wanita memasuki fase menopause peradangan tersebut mulai mereda dan memicu efek proinflamasi dan neurodegeneratif dari Kdm6a," ujar Voskuhl.

Penelitian lain dari Universitas Galway dan Boston juga menemukan bahwa menopause lebih dini dapat menyebabkan demensia. Sementara hormone replacement therapy (HRT) atau terapi pengganti hormon setelah menopause mampu menekan risiko tersebut.

Jadi peningkatan risiko demensia pada wanita mungkin berhubungan dengan volume peradangan di otak mereka. Hal demikian terjadi karena duplikasi gen Kdm6a dan hilangnya hormon estrogen saat menopause.

Voskuhl menyampaikan bahwa di masa depan, wanita dapat mengurangi risiko Alzheimer dengan menyeimbangkan efek gen Kdm6a dan kehilangan estrogen.

"Pendekatan dua arah ini untuk mengurangi efek kromosom seks dan meningkatkan efek hormon seks mungkin merupakan solusi ideal bagi perempuan," tuturnya.

Namun penelitian sejauh ini masih terbatas pada uji coba terhadap tikus, sehingga riset lebih lanjut tetap diperlukan oleh para ilmuwan.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.




(sls/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads