"Jangan kebanyakan makan telur, nanti bisulan." Nasihat seperti ini mungkin masih sering terdengar, terutama ketika orang tua mengingatkan anak yang sedang lahap menyantap telur. Telur pun kerap dianggap sebagai salah satu makanan yang harus dibatasi agar kulit tidak ditumbuhi bisul.
Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa banyak makan telur secara langsung menyebabkan bisul. Lantas, dari mana sebenarnya bisul berasal?
Bisul pada dasarnya merupakan infeksi pada kulit yang umumnya disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus. Bakteri ini sebenarnya dapat hidup secara normal di kulit, tetapi bisa menimbulkan infeksi ketika masuk melalui kulit yang mengalami luka atau kerusakan.
Ahli Gizi IPB University, Dr dr Karina Rahmadia Ekawidyani, MGizi, menjelaskan bakteri Staphylococcus aureus sebenarnya merupakan flora normal yang secara alami terdapat pada kulit.
"Flora normal ini bisa menyebabkan infeksi apabila sistem kekebalan tubuh menurun atau rendah dan kebersihan diri (hygiene) yang kurang," jelasnya seperti dikutip dari laman IPB University, Rabu (16/9/2026).
Mengapa Anak Lebih Sering Mengalami Bisul?
Menurut Dr Karina, bisul lebih sering ditemukan pada anak-anak karena sistem kekebalan tubuh mereka masih belum berkembang sempurna. Selain itu, anak yang aktif bergerak juga lebih berisiko mengalami gesekan pada kulit maupun luka terbuka akibat garukan.
Kondisi tersebut dapat menjadi celah bagi bakteri Staphylococcus aureus untuk masuk ke dalam kulit dan menyebabkan infeksi. Faktor kebersihan diri juga turut berpengaruh, misalnya jarang mandi atau membiarkan kuku tetap panjang.
Di sisi lain, telur memang dapat memicu masalah kulit pada orang yang memiliki alergi terhadap telur. Namun, reaksi alergi tersebut berbeda dengan bisul.
Karina menjelaskan, alergi telur umumnya ditandai dengan bentol, ruam kemerahan, dan rasa gatal. Sementara itu, bisul akibat infeksi kulit biasanya muncul sebagai benjolan yang terasa nyeri dan dapat disertai nanah.
"Pada orang yang memiliki alergi telur, konsumsi telur yang berlebihan dapat menimbulkan ruam dan gatal-gatal pada kulit. Jika digaruk, ini akan menimbulkan luka terbuka yang mempermudah masuknya bakteri penyebab bisul," ujarnya.
Artinya, pada orang yang alergi telur, kaitan antara telur dan bisul lebih bersifat tidak langsung. Reaksi alergi dapat menimbulkan rasa gatal yang mendorong seseorang menggaruk kulit hingga terluka. Luka tersebut kemudian dapat menjadi jalan masuk bagi bakteri penyebab infeksi.
"Jadi, telur bukan penyebab langsung bisul. Kebersihan diri, kondisi kulit, dan sistem kekebalan tubuh menjadi faktor yang lebih berkaitan dengan munculnya infeksi tersebut," ujar Dr Karina.
Bagi orang sehat yang tidak memiliki alergi telur, Karina mengatakan tidak perlu menghindari makanan tersebut hanya karena khawatir akan mengalami bisul. Telur tetap dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang selama dikonsumsi sesuai kebutuhan.
Simak Video "Asyik! Makan Disini Cuma Rp 6.000 Per-porsi"
(pal/pal)