Kuda nil adalah hewan yang menghabiskan sebagian besar waktunya berbaring di kubangan air. Selain kebiasaan rebahan itu, kuda nil juga menarik perhatian karena keringatnya yang berwarna merah.
Kuda nil atau Hippopotamus amphibius adalah mamalia yang hidup di wilayah Afrika Sub-Sahara. Kulit mereka bisa setebal 5cm namun rentan kekeringan serta terkena sengatan Matahari, demikian seperti dilansir dari lamanIFL Science.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat berkeringat, kuda nil tidak menghasilkan cairan berwarna bening, mlainkan keringat berwarna merah.
Mengapa Keringat Kuda Nil Berwarna Merah?
Zat merah dari kuda nil bukanlah darah ataupun keringat dalam istilah teknis. Sebenarnya, cairan ini dihasilkan dari kelenjar di bawah kulit.
Namun cairan berwarna merah ini memiliki fungsi layaknya keringat yaitu mengatur suhu tubuh. Awalnya, cairan ini tidak berwarna dan baru berubah warna seiring dengan terjadinyapolimerisasi pigmen. Mulai dari bening, merah, kemudian kecoklatan.
Berbeda dengan darah yang akan hanyut terbawa air akibat gaya hidup semi-akuatik kuda nil, cairan ini justru melekat pada kulit karena kandungan lendir yang tinggi.
Manfaat 'Keringat' Merah Kuda Nil
Pada 2004, para ilmuwan mengusap wajah dan punggung kuda nil untuk mengoleksi 'keringat' mereka. Setelah diteliti, para ilmuwanmenamukan bahwa pigmen ini merupakan senyawa aromatik non-benzenoid dan ternyata bersifat asam. Mereka menamai pigmen merah tersebut sebagaihipposudoric acid dan pigmen oranye sebagainorhipposudoric acid.
Menurut laman Southwestern University, pigmen dalam keringat kuda nil memiliki empat fungsi:
1. Menyerap sinar ultraviolet (UV)
2. Memencarkan cahaya
3. Antiseptik
4. Penolak serangga
Singkatnya, pigmen ini mampu menyerap sinar UV yang berbahaya serta menghambat pertumbuhan bakteri tertentu. Nah, itulah alasan keringat kuda nil berwarna merah.
