×
Ad

Teliti Nutrisi Susu Kecoak, Ilmuwan Raih Ig Nobel

Kalila Untsa - detikEdu
Rabu, 16 Sep 2026 08:01 WIB
Pacific beetle cockroach (Diploptera punctata) Foto: Peterwchen/Wikimedia Commons
Jakarta -

Apa yang terlintas di pikiran ketika mendengar istilah susu kecoak? Menjijikkan, aneh, atau justru bikin penasaran?

Bagi sekelompok ilmuwan, cairan nutrisi yang dihasilkan kecoak ternyata merupakan objek penelitian yang menarik. Riset mengenai kandungan nutrisi dari "susu kecoak" tersebut bahkan mengantarkan tim penelitinya meraih Ig Nobel Prize 2026 untuk bidang Kimia.

Peneliti yang terlibat adalah Leonard Chavas, mantan profesor di Nagoya University Synchrotron Radiation Research Center; Profesor Ilmu Biologi Purdue University, Ramaswamy Subramanian; dan Nathan Coussens, Direktur In Vitro Evaluation and Molecular Pharmacology Laboratories di the Frederick National Laboratory for Cancer Research.

Penghargaan tersebut diberikan dalam upacara Ig Nobel 2026 yang berlangsung di Zurich, Swiss, pada 3 September 2026. Tahun ini menjadi kali pertama seremoni Ig Nobel digelar di luar Amerika Serikat setelah selama 35 tahun sebelumnya berlangsung di Negeri Paman Sam.

"Apa yang bermula dari penyelidikan yang sangat aneh tentang susu kecoak justru menjadi salah satu tonggak penting dalam karier saya. Melihat bagaimana alam membentuk kristal protein yang sangat padat dan stabil di dalam organisme mendorong saya menghabiskan satu dekade terakhir untuk membangun dan mengembangkan platform kristalisasi khusus di dalam organisme di Prancis dan Jepang," ujar Chavas dikutip detikEdu dari laman Purdue University, Rabu (16/9/2026).

Bukan Kecoak Biasa

Penelitian yang membawa Chavas dan timnya meraih Ig Nobel berangkat dari hewan yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebagai sumber nutrisi, yakni kecoak kumbang Pasifik atau Diploptera punctata. Spesies kecoak tersebut memiliki karakteristik unik karena bersifat vivipar.

Berbeda dengan sebagian besar kecoak yang bertelur, Diploptera punctata mengembangkan embrio di dalam tubuh induknya. Untuk mendukung perkembangan embrio tersebut, induk menghasilkan cairan bergizi yang sering disebut sebagai "susu kecoak".

Namun, istilah "susu kecoak" dalam penelitian ini perlu dipahami secara tepat. Para ilmuwan tidak menemukan susu cair yang dapat diperah seperti susu sapi. Objek yang mereka teliti adalah kristal protein susu yang terbentuk di dalam saluran pencernaan embrio kecoak.

Hasilnya mengejutkan. Kristal tersebut ternyata tersusun atas protein susu yang mengikat lipid atau lemak, kemudian membentuk struktur yang sangat padat. Struktur tersebut berfungsi sebagai sumber nutrisi yang sangat terkonsentrasi bagi embrio kecoak.

Hasil penelitian menunjukkan satu kristal protein tersebut diperkirakan mengandung energi lebih dari tiga kali lipat dibandingkan massa yang setara dari susu sapi. Temuan inilah yang kemudian menjadi dasar penghargaan Ig Nobel bidang Kimia 2026.

Penelitian Susu Kecoak Pakai Teknologi Canggih

Penelitian tersebut tidak semata-mata mengandalkan pengamatan terhadap kecoak. Tim menggunakan teknologi ilmiah canggih untuk mengetahui struktur protein yang terdapat dalam kristal tersebut.

Dikutip dari laman Nagoya University, proyek ini bermula dari serangkaian eksperimen analisis struktur kristal di fasilitas Photon Factory milik High Energy Accelerator Research Organization (KEK) di Tsukuba, Jepang.

Ketika masih bekerja di Nagoya University, Chavas kemudian melanjutkan eksperimen di Nagoya University Synchrotron Radiation Research Center serta Aichi Synchrotron Radiation Center. Rangkaian eksperimen tersebut turut membantu pengembangan penelitian mengenai struktur protein "susu" kecoak.

Penelitian ini kemudian dipublikasikan pada 2016 dalam jurnal IUCr dengan judul Structure of a heterogeneous, glycosylated, lipid-bound, in vivo-grown protein crystal at atomic resolution from the viviparous cockroach Diploptera punctata.



Simak Video "Video: Sederet Riset Sains Nyeleneh di Ig Nobel Prize ke-35"


(pal/pal)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork