Teka-teki Asal-usul Batu 'Panah Iblis' Seberat 25 Ton Terungkap

ADVERTISEMENT

Teka-teki Asal-usul Batu 'Panah Iblis' Seberat 25 Ton Terungkap

Kalila Untsa - detikEdu
Selasa, 15 Sep 2026 07:31 WIB
Batu Devils Arrow di Inggris
Batu Devil's Arrow di Inggris Foto: G Laird/Wikimedia Commons
Jakarta -

Pernahkah kamu melihat batu-batu tinggi raksasa yang berdiri tegak di atas tanah? Salah satu yang paling terkenal di dunia adalah Devil's Arrows di Inggris. Selama bertahun-tahun, asal-usul batu raksasa tersebut menjadi teka-teki. Tiga batu tegak yang masih berdiri di dekat Boroughbridge, North Yorkshire, itu memiliki berat sekitar 25 ton dan tinggi hampir 7 meter.

Kini, penelitian terbaru berhasil mengungkap dari mana batu-batu tersebut berasal. Para peneliti menemukan bahwa masyarakat prasejarah ternyata membawa batu-batu raksasa itu dari Brimham Rocks, North Yorkshire, yang berjarak sedikitnya 18 kilometer dari lokasi Devil's Arrows.

Temuan ini sekaligus memperkuat kesimpulan bahwa batu-batu tersebut sengaja dipindahkan manusia, bukan terbawa secara alami oleh gletser pada zaman es.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penelitian yang dipimpin Curtin University bersama University of York tersebut diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the Royal Society A dengan judul Deliberate Prehistoric Sourcing of the Devil's Arrows, Britain's Tallest Stone Row.

ADVERTISEMENT

Batu 25 ton dibawa sejauh 18 kilometer

Devil's Arrows merupakan deretan batu tegak prasejarah yang berada di dekat Boroughbridge, Inggris bagian utara. Tiga batu yang masih berdiri memiliki tinggi hingga hampir 7 meter dan membentuk deretan batu tegak prasejarah tertinggi yang masih bertahan di Inggris.

Batu-batu tersebut diperkirakan didirikan pada periode Neolitikum Akhir atau Zaman Perunggu Awal, kemungkinan sekitar 2000 SM. Selama ini, salah satu dugaan mengenai asal batu mengarah ke Plumpton Rocks, lokasi yang lebih dekat dengan Devil's Arrows.

Namun, analisis geologi terbaru menunjukkan hasil berbeda. Batu-batu tersebut justru memiliki karakteristik mineral yang cocok dengan batuan di Brimham Rocks, sekitar 18 kilometer dari lokasi monumen.

Artinya, masyarakat prasejarah tidak memilih sumber batu yang paling dekat. Mereka justru membawa material berukuran raksasa dari lokasi yang lebih jauh dan relatif sulit dijangkau.

Kenapa tidak mengambil batu dari lokasi yang lebih dekat?

Temuan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan baru. Jika terdapat sumber batu yang lebih dekat, mengapa masyarakat prasejarah bersusah payah mengangkut batu dengan berat lebih dari 25 ton sejauh 18 kilometer?

Penulis utama penelitian, Dr Anthony Clarke dari Curtin University, mengatakan pilihan tersebut kemungkinan bukan semata-mata berdasarkan pertimbangan praktis.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa batu-batu ini tidak sekadar diambil dari sumber terdekat yang tersedia, batu-batu tersebut sengaja dipilih dari lanskap yang sulit dijangkau, berjarak 18 kilometer," kata Clarke dikutip dari Phys.

Menurutnya, pemindahan setiap batu dengan bobot lebih dari 25 ton tentu membutuhkan perencanaan, koordinasi, dan kemampuan teknis yang besar.

"Setiap batu memiliki berat lebih dari 25 ton, sehingga memindahkannya membutuhkan perencanaan, koordinasi, dan keterampilan teknik yang luar biasa," ujarnya .

Clarke menduga lokasi asal batu kemungkinan memiliki arti tertentu bagi masyarakat yang membangun monumen tersebut

"Ini menunjukkan masyarakat prasejarah mementingkan terhadap lanskap itu sendiri. Ini bukan sekadar soal kemudahan, lokasi asal batu kemungkinan memiliki makna bagi mereka," katanya.

Devil's Arrows memperlihatkan kemampuan masyarakat prasejarah dalam memindahkan material berukuran sangat besar. Monumen tersebut juga dapat menjadi petunjuk mengenai bagaimana mereka memandang lanskap di sekitarnya.

Peneliti Singkirkan Kemungkinan Batu Dibawa Gletser

Selama ini, terdapat perdebatan mengenai bagaimana batu-batu raksasa tersebut bisa berada di dekat Boroughbridge. Salah satu kemungkinan yang pernah dipertimbangkan adalah batu dibawa oleh pergerakan gletser pada zaman es.

Penelitian terbaru memberikan bukti yang mendukung skenario berbeda. Tim menggunakan metode pengambilan sampel dengan dampak sangat rendah. Mereka memakai selotip perekat untuk mengambil butiran mineral berukuran sangat kecil dari permukaan batu tanpa merusak monumen.
Butiran tersebut kemudian dianalisis untuk mendapatkan semacam "sidik jari" usia mineral. Hasilnya dibandingkan dengan batuan dari sejumlah lokasi yang diduga sebagai sumber.

Pencocokan tersebut menunjukkan kesesuaian dengan batuan di Brimham Rocks. Hasil analisis juga menyingkirkan proses alami seperti pergerakan gletser sebagai penjelasan utama keberadaan batu-batu tersebut di lokasi Devil's Arrows.

Temuan tersebut memperkuat kesimpulan bahwa masyarakat prasejarah memang secara sengaja mengangkut batu-batu itu.

Ada Batu Keeempat?

Penelitian ini juga membawa temuan menarik lain. Devil's Arrows saat ini dikenal melalui tiga batu tegak yang masih berdiri. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa dahulu terdapat batu keempat.

University of York menyebut penelitian tersebut juga mengonfirmasi dugaan lama bahwa batu keempat yang dianggap hilang kemungkinan masih berada di sekitar kawasan tersebut. Batu itu diduga telah digunakan kembali dan kini berbentuk salib batu di desa Aldborough.

Temuan tersebut memperkuat teori abad ke-19 serta cerita lokal mengenai keberadaan batu keempat Devil's Arrows.

Jejak monumen prasejarah itu ternyata tidak seluruhnya hilang, sebagian materialnya kemungkinan bertahan hingga sekarang setelah mengalami perubahan bentuk dan fungsi.

Cara Memindahkan Batu Masih Misteri

Meski asal batu kini berhasil diketahui, penelitian tersebut belum sepenuhnya menjawab bagaimana masyarakat prasejarah memindahkan batu-batu seberat itu sejauh 18 km. Proses tersebut membutuhkan upaya kerja sama yang sangat besar. Batu harus diambil dari sumbernya, dipindahkan melintasi bentang alam, kemudian didirikan secara vertikal di lokasi monumen.

Arkeolog dari University of York, Dr Jim Leary, mengatakan hasil penelitian menunjukkan masyarakat prasejarah membuat pilihan yang disengaja mengenai sumber batu yang mereka gunakan.

Menurutnya, temuan tersebut memperlihatkan pentingnya lanskap dan kemungkinan sistem kepercayaan bersama, sekaligus menunjukkan besarnya usaha yang diperlukan untuk memindahkan dan mendirikan batu berukuran raksasa.

"Temuan ini menunjukkan bahwa komunitas pada masa itu membuat pilihan yang disengaja dan memiliki makna mengenai dari mana batu-batu mereka berasal," kata Leary.

Para peneliti belum berhenti pada penemuan sumber batu. Tim berencana menerapkan metode noninvasif yang sama pada batu-batu tegak prasejarah lainnya yang belum diketahui asal-usulnya.

Mereka juga akan melakukan penggalian secara terarah di lokasi Devil's Arrows dan kawasan sumber batu yang baru diidentifikasi.

"Langkah-langkah berikutnya dapat membantu kita memahami dengan lebih baik kapan batu-batu tersebut dipindahkan dan bagaimana monumen luar biasa ini dibangun," kata Clarke.

Penelitian lanjutan diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai waktu pemindahan batu sekaligus cara masyarakat prasejarah mengangkut material raksasa tersebut.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Peneliti Indonesia Temukan Lukisan Goa Berumur 67 Ribu Tahun!"
[Gambas:Video 20detik] (pal/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads