×
Ad

Eks Mendikbud Wardiman Sentil Pendidikan RI Tertinggal, Rata-rata Level SMP

Cicin Yulianti - detikEdu
Rabu, 01 Apr 2026 14:00 WIB
Eks Mendikbud Wardiman Djojonegoro. Foto: YouTube Kemendikdasmen
Jakarta -

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) periode 1993-1998, Prof Wardiman Djojonegoro berbicara soal perempuan dan pendidikan. Hal itu ia sampaikan saat menghadiri acara Pencanangan Bulan Pemberdayaan Perempuan.

Wardiman memaparkan adanya ketertinggalan pendidikan pada masyarakat Indonesia. Salah satunya dalam hal rata-rata jenjang tamatan pendidikan.

"Kita lihat buktinya, tetapi kalau kita lihat statistik maka ternyata masih banyak yang harus dikejar," katanya dalam acara peluncuran Bulan Pemberdayaan Perempuan yang disiarkan lewat YouTube Kemendikdasmen, Rabu (1/4/2026).

Pendidikan RI Rata-rata hingga SMP

Wardiman kemudian mengungkap data dari World Economic Forum (WEF) yang menunjukan bahwa pendidikan di Indonesia memang tertinggal dari negara lain. Rata-rata pendidikan di Indonesia masih sampai tingkat SMP/sederajat.

"WEF meminta agar di seluruh negara di dunia perempuan itu paling sedikit pendidikannya SMA. Nah kita baru merdeka berapa tahun, jadi pendidikan kita rata-rata baru setingkat SMP. Jadi masih harus dikejar banyak," ucap pria berusia 90 tahunan tersebut.

Selain dalam hal pendidikan, Indonesia juga menurutnya masih tertinggal dibanding negara ASEAN lain, misalnya dalam hal kesehatan hingga keberlangsungan hidup.

"Untuk tingkat ASEAN, maka dari 11 negara ASEAN kita masih di nomor tujuh karena ada beberapa indikator yang menarik ke bawah. Indikator itu adalah antara lain kematian anak dan ibu, artinya di faktor kesehatan," katanya.

Sorot Ketimpangan Gender pada Perempuan

Dalam rangka pencanangan Bulan Pemberdayaan Perempuan menyambut Hari Kartini 2026, Wardiman juga menyorot ketimpangan gender pada perempuan.

"WEF, World Economic Forum mempunyai empat kriteria. Pertama adalah partisipasi perempuan dalam ekonomi, dalam angkatan kerja. Kalau laki-laki dalam ekonomi angkatan kerjanya 84%, perempuan baru 61%. Kesenjangan upah, kalau laki-laki 100%, maka perempuan baru 83%," katanya.

Meski demikian, menurutnya saat ini kondisi pemenuhan hak perempuan sudah jauh lebih baik dibandingkan zaman dahulu. Misalnya pada era Raden Ajeng (RA) Kartini.

Wardiman bernostalgia ke masa 147 tahun silam. Kala itu, RA Kartini berjuang mendobrak adat pingitan dan berusaha melahirkan pendidikan setara untuk perempuan.

"Tahu siapa yang menentang (sekolah perempuan)? Yang menentang itu adalah bupati-bupati sendiri. Menolak saran mendirikan sekolah gubernemen (sekolah masa kolonial) untuk perempuan karena alasannya perempuan tidak boleh keluar rumah," ujar Wardiman.

Ia bangga dengan keberanian RA Kartini dalam memperjuangkan emansipasi. Meski tidak lewat pendidikan formal, tetapi saat itu perempuan membuat gerakan pendidikan perempuan lewat swasta dan paguyuban.

Di akhir paparannya, Wardiman mengapresiasi langkah Kemendikdasmen dalam pencangan Bulan Pemberdayaan Perempuan. Menurutnya, ini berharap langkah ini menular ke kementerian serta lembaga lainnya.

"Semoga kegiatan ini dapat diikuti dan diperluas oleh kementerian maupun lembaga-lembaga lain sehingga kesetaraan gender kita bisa cepat naik," pungkas Wardiman.



Simak Video "Video Prabowo Bicara Capaian MBG di WEF: Akan Lampaui Produksi McDonald's"

(cyu/nah)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork