- Kapan Puncak Musium Kemarau 2026? Juli: 88 ZOM (12,6%) Wilayah RI Masuk Puncak Musim Kemarau Agustus: 429 ZOM (61,4%) Wilayah RI Masuk Puncak Musim Kemarau September: 100 ZOM (14,3%) Wilayah RI Masuk Puncak Musim Kemarau
- Upaya BMKG Hadapi Musim Kemarau 2026 1. Pengembangan Layanan Prediksi Cuaca dan Iklim 2. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) 3. Diseminasi Informasi
- Musim Kemarau Tapi Masih Hujan
Musim kemarau 2026 sudah berada di depan mata dengan hawa panas dan suhu maksimum meningkat dalam beberapa waktu ke belakang. Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bila musim kemarau 2026 memang akan datang lebih cepat.
Berdasarkan Prediksi Musim Kemarau 2026 BMKG, pada Mei 2026, sebanyak 184 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 26,3 persen sudah memasuki musim kemarau. Beberapa wilayah di antaranya yakni Aceh bagian utara, sebagian Sumatera Utara, sebagian Riau, sebagian besar Jawa, hingga sebagian Papua Selatan.
Jumlah wilayah yang memasuki musim kemarau akan bertambah makin banyak pada Juni 2026 dengan 163 ZOM. Sedangkan,sekitar 63 ZOM akan mengalami musim kemarau pada Juli 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun ada sebagian kecil wilayah RI yang baru memasuki musim kemarau pada Agustus 2026, puncak musim kemarau sudah dimulai pada Juli 2026 di 88 ZOM. Dikutip dari Prediksi Musim Kemarau 2026 di Indonesia rilisan Direktorat Perubahan Iklim BMKG, Rabu (20/5/2026), berikut informasi puncak musim kemarau selengkapnya.
Kapan Puncak Musium Kemarau 2026?
Seperti yang disebutkan sebelumnya, Juli 2026 menjadi awal puncak musim kemarau 2026. Puncak musim kemarau akan berlanjut hingga Agustus dan September.
Namun, secara umum sebagian besar wilayah Indonesia atau 61,4% (429 ZOM) diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Untuk itu, kemungkinan Agustus 2026 menjadi waktu terpanas di berbagai wilayah RI.
Adapun daftar rinciannya, yakni:
Juli: 88 ZOM (12,6%) Wilayah RI Masuk Puncak Musim Kemarau
- Sebagian Sumatera
- Sebagaian kecil Jawa
- Sebagian kecil Nusa Tenggara
- Kalimantan bagian tengah dan utara
- Sulawesi Barat bagian utara
- Sulawesi Tengah bagian barat
- Sulawesi Utara bagian barat
- Sebagian kecil Maluku
- Papua Barat bagian tengah
- Papua bagian timur
Agustus: 429 ZOM (61,4%) Wilayah RI Masuk Puncak Musim Kemarau
- Sumatera bagian tengah dan selatan
- Jawa bagian tengah hingga timur
- Bali
- Nusa Tenggara Barat
- Sebagian Nusa Tenggara Timur
- Sebagian besar Kalimantan
- Sebagian besar Sulawesi
- Sebagian Maluku
- Maluku Utara
- Sebagian Pulau Papua
September: 100 ZOM (14,3%) Wilayah RI Masuk Puncak Musim Kemarau
- Sebagian Lampung
- Sebagian kecil Jawa
- Sebagian besar Nusa Tenggara Timur
- Sulawesi bagian utara dan timur
- Sebagian besar Maluku Utara
- Sebagian Maluku
- Sebagian kecil Pulau Papua
Upaya BMKG Hadapi Musim Kemarau 2026
BMKG telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk hadapi potensi musim kemarau 2026 dan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Seperti apa?
1. Pengembangan Layanan Prediksi Cuaca dan Iklim
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto menegaskan kesiapsiagaan dalam menghadapi musim kemarau harus dilakukan lebih dini, berbasis data, dan prediksi iklim yang akurat. Untuk itu, pihaknya mengembangkan layanan prediksi cuaca dan iklim untuk mendukung pengambilan keputusan pemerintah daerah maupun sektor teknis.
Ia menyatakan, saat ini, layanan prediksi BMKG telah mampu memberikan informasi hingga tingkat desa dan kelurahan.
Melengkapi Guswanto, Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani menyampaikan, BMKG terus memperkuat pemantauan cuaca dengan radar cuaca dan sistem prakiraan berbasis nowcasting. Teknologi ini mampu meningkatkan keakuratan informasi cuaca ekstrem dan potensi hujan.
"Informasi mengenai prediksi, sekarang ini sudah sampai level desa. Jadi kalau lihat di aplikasi itu kan sudah bisa per kelurahan atau per desa, kita berusaha agar forecasting itu akurat," kata Andri.
Lebih lanjut, ia menambahkan, layanan informasi iklim juga akan disampaikan secara mudah, baik akses maupun pemahamannya. Dengan demikian, masyarakat bisa memanfaatkan informasi cuaca dan iklim secara luas.
2. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)
Selain prediksi cuaca dan iklim, BMKG juga akan melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang terkoordinasi. OMC akan didukung dengan informasi prakiraan cuaca yang akurat agar pelaksanaannya lebih efektif.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto menyebutkan OMC akan dilakukan sesuai kebutuhan penanganan di lapangan. BMKG akan memantau perkembangan kondisi cuaca di wilayah sasaran sebelum OMC dilakukan.
3. Diseminasi Informasi
BMKG juga akan memperkuat sistem diseminasi informasi cauca dan iklim kepada masyarakat, khususnya kelompok rentan dan sektor terdampak. Sektor terdampak yang dimaksud adalah pertanian, transportasi, dan pengelolaan sumber daya air.
"Informasi peringatan dini diharapkan tidak berhenti pada level institusi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi langkah antisipatif di lapangan," tulis BMKG.
Musim Kemarau Tapi Masih Hujan
Meskipun sudah memasuki musim kemarau, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan pada 18-24 Mei 2026 sebagian besar wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan ringan hingga sedang. Bahkan, beberapa wilayah lain perlu mewaspadai potensi hujan lebat.
Adapun daftar wilayah yang perlu wasapada potensi hujan lebat, yaitu:
- Kepulauan Bangka Belitung
- Jawa Barat
- Nusa Tenggara Barat
- Nusa Tenggara Timur
- Kalimantan Utara
- Sulawesi
- Maluku Utara
- Papua Pegunungan
