Kemampuan berbahasa verbal pada manusia adalah perbedaan paling mencolok dari pada spesies hewan. Namun, kapan mulanya kemampuan manusia berkomunikasi dengan bahasa, masih jadi perdebatan di kalangan ilmuwan.
Selama ini, para ilmuwan yakin bahwa Neanderthal memiliki bahasa sebagai alat komunikasi. Namun, masih diragukan jika spesies manusia purba lainnya juga mampu berkomunikasi secara verbal.
Sebuah studi terbaru menemukan bukti bahwa spesies manusia purba yang telah punah dua juta tahun lalu, diduga sudah memiliki kemampuan berbahasa secara verbal. Studi tersebut berjudul "Did Homo Erectus Have a (Vocal) Language?," dan terbit di jurnal Biological Theory pada 5 Januari 2026.
Ciri Fisik yang Mendukung Kemampuan Verbal
Temuan bahwa Homo erectus berbahasa verbal, diperkuat dengan berbagai bukti anatomi, genetik hingga arkeologis. Beberapa area inti otak seperti lobus frontal dan parietal, secara morfologis serupa dengan manusia modern.
"Meski kemiripan tersebut bukan tidak membuktikan bahwa H. erectus dapat berbicara, secara kognitif mereka mampu untuk menggunakan bahasa," kata para peneliti, dikutip dari IFL Science.
Studi ini juga membantah temuan sebelumnya yang mengatakan, bahwa manusia purba kesulitan untuk berbicara karena struktur tulang belakang mereka yang sempit.
Namun, di beberapa penemuan H. erectus memiliki sumsum tulang belakang yang hampir mirip dengan manusia modern. Hal ini juga tidak serta merta membuktikan mereka mampu berbicara.
Tidak berhenti di situ, para ilmuwan berusaha menemukan bukti anatomi lain berupa struktur telinga H. erectus yang memungkinkan mereka untuk mendengar kata verbal.
Bukti Genetik dan Arkeologis
Para peneliti juga mengungkap bukti genetik dari banyak mutasi penting terkait otak, kognisi dan bahasa yang berkembang pada masa hidup H. erectus. Gen FOXP2 yang berperan dalam lahirnya komunikasi verbal, juga termasuk dalam lokomosi bipedal.
Kemampuan berbahasa pada H.erectus, didukung dengan cara berjalan mereka yang menggunakan dua kaki. Hal tersebut yang kemudian menjadi 'blueprint' genetik dalam pengembangan bahasa manusia purba.
Secara arkeologis, H. erectus ditemukan telah menggunakan peralatan batu yang berasal dari masa Acheulean. Mereka tidak menggunakan peralatan batu Oldowan, berasal dari zaman yang lebih kuno.
Kemampuan untuk menemukan konsep, mempelajari, hingga mengerjakannya dengan teknik, dalam pembuatan peralatan batu yang lebih canggih membutuhkan pemikiran abstrak dan komunikasi simbolik. Hal ini yang kemudian menjadi salah satu bukti kemampuan berbahasa pada spesie manusia purba.
"Kemungkinan [Homo erectus berbicara] relatif tinggi meskipun tidak ada kepastian 100 persen karena sifat inferensial dari penelitian tentang asal usul bahasa," ujar Lan Yao, penulis studi dari Universitas Jiliang China.
Klaim bahwa spesies manusia purba mampu berbicara menuai pro-kontra di kalangan ilmuwan. Sama halnya seperti argumen tentang H. erectus yang mampu berlayar menuju pulau-pulau di Indonesia, hingga mereka yang telah hidup berkelompok untuk berburu dan memakan bangkai.
Perkawinan Silang Spesies Manusia Purba
Sampai saat ini, belum ada kesepakatan tentang spesies manusia purba mana yang lebih dulu mampu untuk berbahasa. Meski sebagian besar antropolog yakin bahwa Neanderthal memiliki semacam bahasa tersendiri.
Bukti paling meyakinkan dalam hipotesis ini adalah perkawinan silang Homo sapiens dan Neanderthal yang melahirkan keturunan hibrida, dan menjadi nenek moyang manusia modern. Hasil perkawinan inilah yang menjadikan keturunan mereka mampu berbahasa yang berasal dari kedua orang tua mereka.
Uniknya, studi ini membahas data genomik yang menemukan bahwa terjadi perkawinan silang antara Denisovan dan Homo erectus. Spesies manusia purba Denisovan merupakan kerabat paling dekat manusia modern. Hal ini yang kemudian menjadi bukti bahwa H. erectus mampu berbahasa verbal, meski menuai banyak pro-kontra dari para ilmuwan.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
Simak Video "Video: Indonesia Berhasil Pulangkan Fosil Java Man dari Belanda"
(sls/faz)