Setelah beberapa tahun mengalami penurunan ekstrem, luas es laut di Antarktika pada 2026 menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Data terbaru menunjukkan cakupan es mendekati rata-rata tahunan, meski masih berada di bawah angka normal jangka panjang.
Para ilmuwan menilai perubahan ini berkaitan dengan kondisi angin dan variasi alami yang memang sering terjadi di wilayah Antarktika.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Luas Es Laut Antarktika Meningkat
Para peneliti dari National Snow and Ice Data Center (NSIDC) di University of Colorado Boulder memperkirakan luas minimum es laut Antarktika tahun ini mencapai sekitar 2,58 juta kilometer persegi pada 26 Februari 2026.
Setiap tahun, es laut Antarktika menyusut saat musim panas di Belahan Bumi Selatan. Karena itu, titik terendah luas es biasanya dijadikan ukuran utama untuk melihat kondisi tahunan.
Angka pada 2026 ini tercatat sebagai luas es ke-16 paling kecil sejak pengamatan satelit dimulai pada 1979. Meski begitu, kondisinya tetap lebih baik jika dibandingkan dengan empat tahun sebelumnya, yang mencatat penurunan sangat tajam.
Luas es tahun ini bahkan sekitar 730 ribu kilometer persegi lebih besar dibanding rekor terendah pada Februari 2023.
"Sepanjang sebagian besar tahun, es laut Antarktika berada jauh di bawah rata-rata harian," kata Ted Scambos, peneliti senior dari Cooperative Institute for Research in the Environmental Sciences, dilansir dari Phys.org.
Baca juga: Di Manakah Air Paling Biru di Dunia? |
Faktor Angin
Menurut para ilmuwan, perubahan kondisi angin turut memengaruhi luas es laut tahun ini. Pada Januari dan Februari, angin kuat dari arah selatan mendorong es laut menjauh dari pesisir di Laut Weddell.
"Lalu pada Januari dan Februari, angin kuat dari selatan mendorong es laut ke arah luar di Laut Weddell. Hal ini memperlambat penyusutan luas es sehingga menghasilkan titik minimum yang mendekati rata-rata," jelas Scambos.
Tidak Pulih Permanen
Meskipun demikian, para peneliti mengingatkan bahwa angka 2026 masih bersifat sementara. Kondisi pencairan yang berlanjut atau perubahan arah angin masih bisa membuat luas es berkurang lagi.
Ilmuwan NASA, Walt Meier, mengatakan perubahan seperti ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan.
"Kembalinya kondisi yang tidak terlalu ekstrem tahun ini bukan hal yang tidak terduga, mengingat variasi besar dari tahun ke tahun pada es laut Antarktika yang terlihat dalam catatan satelit," ujarnya.











































