Tim astronaut misi Artemis II terbang mendekati Bulan dari Pusat Antariksa Kennedy, Florida, AS, Rabu (1/4/2026) pukul 18.35 waktu setempat. Apa saja yang akan dipelajari astronaut di ruang angkasa?
Sebagai catatan, para astronaut tidak akan menjejakkan kaki di Bulan seperti saat misi Apollo 11 pada 1969. Namun, pesawat mereka akan mengelilingi Bulan.
Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) dalam laman resminya menjelaskan, misi Artemis II merupakan misi tes penerbangan dengan awak bagi pesawat antariksa Orion. Selama 10 hari, sistem pendukung kehidupan astronaut pada pesawat ini akan diuji keamanannya, sebelum manusia bisa mendarat lagi di bulan pada misi Artemis IV.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Astronaut Belajar Apa di Bulan?
Dijelaskan dalam laman Science NASA, para astronaut akan mencari tahu hal-hal terkait ilmu Bulan hingga dampak kesehatan pada misi ini. Tujuannya untuk mendapatkan pengetahuan yang mendukung misi penerbangan ruang angkasa bagi manusia di masa depan.
Di samping itu, sejumlah penelitian mereka juga diperkirakan akan bermanfaat untuk manusia di Bumi. Para astronaut sendiri juga bekerja sama dengan ilmuwan di Bumi untuk memfasilitasi investigasi ilmiah di Bulan. Berikut beberapa di antaranya.
1. Ilmu Bulan
Para astronaut akan terbang melewati sisi jauh Bulan, yaitu sisi Bulan yang selalu membelakangi sisi Bumi. Mereka akan menganalisis dan memfoto kawah tumbukan, aliran lava purba, serta bentuk, tekstur, dan warna objek geologis Bulan lainnya.
Hasil pengamatannya bisa membantu astronaut misi selanjutnya (Artemis III atau IV) untuk meneliti di permukaan Bulan, antara lain mencari tahu batuan, lahan, dan aspek lain di sekitar lokasi pendaratan mereka.
Beberapa sampel batu juga akan dibawa ke Bumi. Hasilnya bisa jadi petunjuk sifat batuan dan sumber daya Bulan itu sendiri, yang mungkin bermanfaat buat manusia nantinya.
Kilatan cahaya dari batuan ruang angkasa ini juga bisa mengungkap fenomena yang terjadi di Bulan. Hal ini bisa memberi petunjuk proses geologi kuno apa yang membentuk Bulan dan Tata Surya.
2. Dampak Perjalanan ke Ruang Angkasa
Astronaut Mike Fincke dievakuasi bersama rekan-rekannya pada pertengahan Januari lalu usai ia tiba-tiba tidak bisa bicara di ruang angkasa. Sekembalinya ke Bumi, ia dinyatakan sehat dan penyebab insiden tersebut masih dicari tahu.
Pada misi Artemis II, dampak perjalanan ke ruang angkasa pada badan, pikiran, dan perilaku manusia pun diteliti. Diharapkan, protokol beserta panduan pencegahan dan intervensi dari hasil penelitian bisa bantu melindungi keselamatan astronaut yang akan bertugas ke Bulan hingga Mars.
Pola tidur, aktivitas, dan kebugaran astronaut di ruang angkasa juga akan diteliti. Hasilnya untuk melihat seperti apa kinerja dan kesehatan manusia di ruang angkasa.
Dampak radiasi dan mikrogravitasi di ruang angkasa pada kesehatan astronaut juga jadi fokus penelitian. Perangkat mini "organ-on-a-chip" akan digunakan untuk mempelajari efek peningkatan dua faktor tersebut pada kru pesawat. Sementara itu, peralatan lainnya dipasang untuk memantau tingkat radiasi di dalam dan luar pesawat.
Peneliti juga akan mencari tahu dampak ruang angkasa pada sistem kekebalan tubuh manusia. Caranya yakni lewat analisis pada sampel darah dan air liur astronaut misi Artemis II.
Para astronaut juga mengirimkan data-data kesehatannya ke bank data. Informasi ini bisa digunakan kemudian hari bagi peneliti yang hendak mempelajari kesehatan astronaut.
3. Cuaca Ruang Angkasa
Para astronaut akan terbang melampaui batas magnetosfer pelindung Bumi. Karena itu, penerbangan mereka akan terpapar elemen cuaca terkeras di ruang angkasa.
Tim cuaca luar angkasa Artemis II akan melacak pelepasan massa koronal dan suar matahari, yaitu fenomena kuat yang berbahaya bagi jaringan manusia dan dapat mengganggu sistem elektronik. Data ini akan dimanfaatkan untuk mengeluarkan peringatan dini bagi astronaut yang sedang bertugas.
4. Efek Ruang Angkasa pada Komponen Listrik
Di samping misi utama Artemis II, German Aerospace Center (DLR) juga akan melakukan penelitian radiasi lewat program ini. Sementara itu, badan antariksa Jerman ini, bersama Argentina, Arab Saudi, dan Korea Selatan, ikut menerbangkan satelit CubeSat pada program ini.
Alat sebesar kotak sepatu ini akan mengumpulkan hasil pengukuran efek ruang angkasa pada komponen listrik. Hasilnya bisa berguna dalam membangun teknologi kendaraan Bulan.
(twu/nwk)











































