Virus Nipah kembali menjadi sorotan usai kemunculannya di India beberapa waktu lalu. Ancaman penyakit zoonosis ini ternyata telah ditemukan di Indonesia.
Menurut catatan WHO, virus nipah pertama kali diidentifikasi pada 1998 di Malaysia. Virus itu pun menyebar hingga ke Singapura, Filipina, hingga Bangladesh, India. Di Bangladesh sendiri, kasus virus Nipah merebak hampir setiap tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bukti keberadaan virus Nipah pada kelelawar di Indonesia. Dalam survei nasional 2023-2024, itu, ilmuan menemukan material genetik (RNA) Virus Nipah pada kelelawar buah (codot) di Indonesia.
Menanggapi hal ini, Ahli Kesehatan Masyarakat bidang Biostatistika Epidemiologi sekaligus Dosen Luar Biasa Universitas Airlangga (Unair) Dr Windhu Purnomo dr MS menegaskan masih belum ada kasus Virus Nipah di Indonesia. Kendati demikian, kewaspadaan harus tetap ada.
"Jadi, kalau kita melihat secara epidemiologi ya, belum ditemukan kasus virus Nipah di Indonesia. Sampai hari ini. Artinya pemerintah itu belum pernah mengumumkan bahwa tak ada satupun kasus manusia di Indonesia yang terinfeksi," jelasnya dalam laman Unair dikutip Jumat (13/2/2026).
Tingkat Kefatalan Virus Nipah di Atas COVID-19
Menurut Windhu, ancaman utama Virus Nipah terletak pada tingginya case fatality rate (CFR) yang berada di angka 45 hingga 80 persen. Angka ini bahkan lebih tinggi dari COVID-19.
Kendati demikian,Windhu menekankan masyarakat tidak perlu panik. Ia mendorong masyarakat untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk meningkatkan imunitas tubuh.
"Jangan makan buah codotan dulu. Kan orang senang makan codotan. Kenapa? Karena mesti enak itu, manis. Jangan dulu. Pokoknya ada buah krowok jatuh itu sudah tidak usah dimakan. Ya, buang," sebutnya.
Gejala InfeksiVIrus Nipah Mirip dengan Flu Biasa
Gejala infeksi virus Nipah juga mirip dengan flu biasa, seperti demam dan sakit biasa. Perbedaannya ada pada kemampuannya yang menyebabkan ensefalitis (radang otak) yang berujung koma hingga kematian.
Hingga saat ini, ilmuan belum menemukan vaksin untuk Virus Nipah. Oleh karena itu, Windhu berpesan untuk melakukan deteksi dini dan pelaporan kasus secara cepat.
"Kalau sakit langsung ke dokter. Jangan dibiarkan saja sendiri. Puskesmas hingga rumah sakit harus bisa menangkap kasus-kasus dengan demam, dengan ispa berat, dengan encephalitis. Harus ada monitor terus, apakah ada peningkatan ensefalitis," tuturnya.
(nir/nah)











































