Banyak orang mencari cara bagaimana agar fisik tetap aktif meski terus bertambah usia. Baru-baru ini, studi menemukan bahwa kebiasaan sederhana ternyata bisa menjadi rahasia fisik tetap kuat sampai tua. Apa saja kebiasaan itu?
Kebiasaan itu adalah berjalan kaki, yang bisa dilakukan sehari-hari oleh hampir semua orang. Berjalan kaki dikaitkan dengan kondisi kesehatan seseorang seiring usia.
Di beberapa negara, berjalan kaki banyak dibiasakan untuk beraktivitas alih-alih menggunakan kendaraan. Menurut studi Stanford University pada 2017, negara paling hobi jalan kaki yaitu Hong Kong dengan rerata penduduknya berjalan kaki 6.680 langkah per hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara Indonesia, menjadi salah satu yang paling malas berjalan kaki menurut studi tersebut. Rerata orang Indonesia saat itu hanya berjalan kaki 3.513 langkah per hari, jauh di bawah rata-rata global dengan 5.000 langkah per hari.
Seiring Bertambah Usia, Kemampuan Berjalan Kaki Menurun
Seorang ilmuwan peneliti di Florida Institute for Human and Machine Cognition di Pensacola, Zachary Graham, ingin membuktikan dengan pengalamannya bahwa berjalan kaki yang dianggap sederhana bisa berdampak luar biasa bagi tubuh dan pikiran manusia.
Selama ini, menurutnya, seiring bertambah usia sampai tua, manusia tidak begitu aktif dalam berjalan kaki. Artinya, semakin tua semakin sulit berjalan.
Dalam pengalaman pribadinya, Graham pernah terkena polio, sehingga ia mengalami kelumpuhan fungsional. Pada usia 4 tahun, ia baru mulai bisa berjalan mandiri. Ia pun berpikir bisa jadi usia 20-an dia sudah mengalami penurunan kemampuan berjalan.
Latar belakang tersebut membuat dirinya tertarik pada ilmu berjalan. Terbaru, ia mempelajari bagaimana penuaan memengaruhi mobilitas dan mengapa berjalan menjadi lebih sulit seiring waktu.
"Seiring bertambahnya usia, otot menyusut, tendon kehilangan elastisitas, dan indra menjadi kurang andal. Sistem neurologis dan kardiovaskular juga melambat. Semua itu mengakibatkan langkah yang lebih pendek dan kecepatan yang lebih lambat," jelas Graham, dikutip dari WUSF milik Universitas South Florida.
Rutin Berolahraga Jadi Kunci
Untuk memahami mengapa pola berjalan berubah seiring bertambahnya usia, Graham membantu memimpin studi multisitus dari National Institute on Aging, hasil kolaborasi antara IHMC dan Georgia Tech. Studi tersebut meneliti biopsi otot, keseimbangan, biomekanik, dan waktu respons kognitif pada 180 orang dewasa.
Ia mengungkapkan bahwa rahasia untuk bisa mengatasi menurunnya kemampuan berjalan dan agar tubuh tetap aktif, yaitu dengan melatih daya tahan tubuh. Misalnya dengan aktif berolahraga secara rutin.
Menurutnya, latihan beban bisa menjadi salah satu cara untuk melatih tubuh tetap kuat seiring bertambah usia. Terlebih, tubuh bisa beradaptasi dengan baik ketika rutin olahraga.
"Berolahraga, berolahraga, dan terus berolahraga. Latihan daya tahan progresif dan terutama latihan beban... adalah beberapa cara terbaik untuk berlatih. Tubuh kita beradaptasi dengan sangat baik terhadap olahraga teratur," paparnya.
Dengan kebiasaan tersebut dan penelitian mereka, para ilmuwan berharap bisa mengungkap cara berjalan yang digerakkan oleh pergelangan kaki pada remaja menjadi gerakan yang lebih berfokus pada lutut dan pinggul pada orang dewasa yang lebih tua.
Sebaliknya, jika tidak menjaga tubuh dengan baik dan kehilangan kemampuan berjalan, maka dapat memengaruhi lebih dari sekadar kesehatan fisik. Misalnya, karena kita punya kepercayaan bahwa berjalan adalah hal sangat penting untuk aktivitas sehari-hari, maka ketika tidak bisa berjalan, akan membuat kita terpuruk.
"Karena masyarakat kita didasarkan pada asumsi bahwa Anda bisa berjalan, ketidakmampuan untuk berjalan dapat sangat mengisolasi," pungkas Graham.
Penulis adalah peserta program Magang Hub Kemnaker di detikcom.
(faz/faz)











































