Menurut data SEEK, Indonesia menjadi pasar dengan temuan iklan lowongan kerja bermasalah terbanyak. Memiliki 62 persen dari total penipuan lowongan kerja di Asia, Indonesia menjadi negara paling rentan penipuan lowongan kerja.
Data tersebut diperoleh SEEK, perusahaan induk Jobstreet dan JobsDB, berdasarkan pelacakan pada seluruh platform lokapasar kerja per Oktober 2025.
Dalam hal penipuan loker ke luar negeri, Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), sekaligus pakar politik luar negeri Indonesia, migrasi, dan Asia Tenggara, Ali Maksum, PhD, menjelaskan, ada dua faktor penyebabnya.
Alasan Indonesia Menjadi Negara Paling Rentan Kena Penipuan Loker
Ali menjelaskan, faktor Indonesia mjadi negara dengan banyak penipuan lowongan kerja terdiri atas push factor dan pull factor. Push factor adalah ketika kondisi ekonomi dalam negeri tidak memberikan cukup peluang, sementara pull factor menguat karena bekerja di luar negeri dianggap menjanjikan gaji lebih tinggi dan kesempatan hidup yang lebih baik.
"Bekerja di luar negeri sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat kita. Banyak yang melihatnya sebagai peluang besar, meskipun risikonya juga tinggi, termasuk penipuan lowongan kerja," jelas Ali dalam laman UMY, dikutip Sabtu (29/11/2025).
Ia menambahkan jika rendahnya tingkat pendidikan dan minimnya literasi digital membuat masyarakat mudah tergiur informasi yang beredar. Ali mengatakan pemerintah telah menyediakan jalur resmi seperti Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Kementerian Ketenagakerjaan, serta lembaga penyalur tenaga kerja swasta yang berizin. Namun, jalur resmi tersebut sering kali dianggap rumit, lambat, dan penuh proses birokrasi.
Menurut Ali, situasi inilah yang membuat banyak calon pekerja memilih jalan pintas, seperti calo, untuk mengurus paspor hingga keberangkatan.
"Mereka takut mengurus dokumen sendiri. Urus paspor saja memakai calo. Lama-kelamaan mereka terbiasa mengambil jalan pintas, dan itu yang membuka pintu human trafficking," tegas dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UMY itu.
Kelompok Paling Rentan Terjebak Loker Palsu
Ia menjelaskan jika kelompok paling rentan terjebak lowongan kerja palsu adalah masyarakat dari ekonomi menengah ke bawah. Mereka cenderung cepat merespons tawaran pekerjaan, terutama jika disertai skema kursus bahasa atau biaya administrasi.
"Hampir semua lowongan seperti itu berbayar, dan dianggap wajar. Padahal ini sudah menjadi budaya yang salah dalam dunia ketenagakerjaan Indonesia," ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan ini, Ali mendorong pemerintah untuk memperkuat aspek hukum sekaligus memperbaiki akses layanan tenaga kerja migran. Di sisi lain, edukasi publik harus digencarkan, baik melalui media digital maupun komunitas akar rumput, agar masyarakat memahami jalur keberangkatan resmi dan aman.
"Regulasi penting, tetapi pengawasan dan penegakan hukum harus diperkuat. Pelaku penipuan harus ditindak tegas. Apalagi media sosial kini tidak terkontrol. Karena itu, literasi dan publikasi harus ditingkatkan supaya masyarakat tahu bahwa jalur resmi adalah satu-satunya jalur yang aman," ungkapnya.
Simak Video "Tipu Janjikan 10 Korban Dapat Kerja, Wanita di Karawang Raup Rp 60 Juta"
(nir/twu)