- Mitos Ruang Angkasa
- 1. Apakah Gravitasi Menghilang di Angkasa Luar?
- 2. Apakah Sabuk Asteroid Saling Berdekatan?
- 3. Apakah Bintang Jatuh Benar Terjadi?
- 4. Apakah Sebelah Sisi Bulan Gelap?
- 5. Kapan Matahari Meledak?
- 6. Matahari Berwarna Kuning atau Putih?
- 7. Mengapa Bulan Tidak Tampak pada Siang Hari?
- 8. Apakah Asteroid Akan Menghancurkan Bumi?
Pernah berpikir kalau Matahari benar-benar berwarna kuning? Atau benda melayang saat berada di Bulan karena hilangnya gravitasi?
Faktanya, semua itu hanyalah salah kaprah dan tidak benar-benar terjadi, lo, detikers. Lalu, bagaimana cara membedakan mana yang fakta dan fiksi?
Mitos Ruang Angkasa
Pakar antariksa sekaligus ilmuwan planet dari Natural History Museum, Dr. Ashley King, coba meluruskan salah paham tentang angkasa luar. Simak penjelasannya di bawah ini!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Apakah Gravitasi Menghilang di Angkasa Luar?
Jika berbicara tentang astronaut dan angkasa luar, mungkin akan terlintas di pikiran kita keadaan para astronaut dan benda-benda di dalam pesawat ruang angkasa melayang-layang seperti di film. Hal tersebut memunculkan pengertian bahwa saat kita berada di angkasa luar, kita benar-benar kehilangan gravitasi. Namun pada kenyataannya, itu semua keliru.
Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dalam laman resminya menjelaskan, di angkasa luar, gravitasi tetap ada dan tidak benar-benar hilang. Hanya saja, gravitasi menjadi lebih lemah ketika semakin jauh dari Bumi.
Namun, gravitasi memegang peranan penting dalam sistem Tata Surya dan benda langit lain di angkasa luar. Bahkan, gravitasi dalam jumlah kecil dapat ditemukan di mana-mana di angkasa luar.
2. Apakah Sabuk Asteroid Saling Berdekatan?
Asteroid merupakan objek berbatu yang kebanyakan berada di antara orbit Planet Mars dan Jupiter. Jumlahnya mencapai jutaan. Ukuran asteroid bervariasi, mulai dari yang paling kecil sampai yang paling besar dengan diameter 900 km bernama Ceres, yang kini diklasifikasikan sebagai planet katai (dwarf planet).
Film Star Wars: The Empire Strikes Back menampilkan sabuk asteroid yang saling berdekatan satu sama lain. Namun, faktanya tidak demikian.
Ashley menegaskan bahwa susunan sabuk asteroid saling berjauhan satu sama lain dengan jarak di antaranya mencapai satu juta kilometer. Jarak ini lebih jauh daripada jarak tempuh perjalanan pergi-pulang ke Bulan.
3. Apakah Bintang Jatuh Benar Terjadi?
Mitos yang beredar di masyarakat, jika melihat bintang jatuh lalu berdoa, maka permintaanya akan terkabul. Namun, faktanya tidak demikian. Bintang jatuh bahkan bukan benar-benar bintang.
Bintang jatuh adalah sebuah meteor yang tersusun dari bongkahan debu dan batu dari asteroid yang menembus atmosfer bumi. Garis lintasan yang terlihat menyala merupakan hasil dari gesekan asteroid yang memanas saat sampai di atmosfer.
4. Apakah Sebelah Sisi Bulan Gelap?
Ashley menjelaskan, Bulan memiliki sisi jauh yang membelakangi Bumi, sehingga terlihat gelap. Sisi ini disebut sebagai 'sisi gelap'. Sisi gelap Bulan tidak lantas menjadikannya tidak dapat sinar Matahari.
Sisi gelap Bulan juga menerima intensitas cahaya Matahari yang sama dengan sisi yang yang dapat kita lihat dari Bumi. Namun, karena Bulan berputar pada porosnya sama dengan kecepatan saat mengitari Bumi, kita hanya melihat satu sisi Bulan. Hal tersebut merupakan rotasi sinkron yang disebut sebagai fenomena penguncian pasang surut (tidak locking).
5. Kapan Matahari Meledak?
Matahari adalah bintang paling konsisten dan stabil. Kecepatan bintang membakar bahan bakarnya tergantung pada seberapa besar mereka saat terbentuk.
Bintang seukuran Matahari di Tata Surya memakan waktu sekitar 10 miliar tahun untuk menghabiskan semua bahan bakarnya. Saat ini, Matahari telah menghabiskan 4,5 miliar tahun dari sisa bahan bakarnya.
Namun, ledakan pada Matahari tidak akan terjadi seperti yang dialami bintang-bintang besar. Matahari justru akan membengkak menjadi bola raksasa merah yang kemudian mengecil kembali menjadi bintang katai putih (white dwarf).
Sementara itu, bintang raksasa jauh lebih cepat menghabiskan bahan bakarnya, yang diakhiri ledakan dahsyat supernova. Dalam kurun waktu 50 tahun sekali, peristiwa supernova akan terjadi di Galaksi Bima Sakti, tetapi tidak berbahaya bagi Bumi.
6. Matahari Berwarna Kuning atau Putih?
Pernah melihat gambar dengan Matahari berwarna kuning? Kenyataannya, cahaya Matahari berwarna putih.
Ashley menjelaskan, Matahari memancarkan energi dalam bentuk cahaya dengan berbagai warna. Namun, saat cahaya melewati atmosfer Bumi, warnanya akan otomatis berubah.
Karena atmosfer lebih banyak menghamburkan cahaya dengan warna biru, maka ketika cahaya Matahari sampai ke Bumi, yang terlihat oleh mata kita menjadi kekuningan.
7. Mengapa Bulan Tidak Tampak pada Siang Hari?
Bulan lazimnya tampak saat langit mulai gelap pada senja dan malam hari. Namun, ternyata Bulan tidak pergi kemana-mana di siang hari. Ia tetap ada, tetapi cahayanya saja yang tidak terlihat.
"Yang Anda lihat adalah sinar Matahari yang memantul dari permukaan Bulan. Saat siang hari, seringkali terlalu terang untuk melihat Bulan, tetapi ia tetap ada!," jelas Ashley.
Hal demikian juga terjadi pada kejadian bintang jatuh. Fenomena langit ini terjadi setiap saat, tetapi kita tidak dapat melihatnya di siang hari.
8. Apakah Asteroid Akan Menghancurkan Bumi?
Fakta menunjukkan bahwa asteroid berpotensi menabrak Bumi. Namun, akibatnya tidak seburuk apa yang dibayangkan.
Sejarah mencatat asteroid dan Bumi memang pernah saling bertabrakan, yang mengakibatkan dinosaurus punah. Pada masa awal terbentuknya Tata Surya, Bumi dan asteroid memang sering bertabrakan dengan jejak yang ditinggalkan berupa kawah-kawah di Bulan.
Menurut Ashley, saat ini kondisinya sudah jauh lebih stabil dan membaik. Salah satu penyebabnya yaitu karena para ilmuwan sudah mampu mendeteksi keberadaan asteroid dan mampu memprediksi orbitnya di masa depan.
Ashley menegaskan, jika terjadi tumbukan besar karena benda langit raksasa, maka para ilmuwan akan mengetahuinya lebih dulu dan siap melakukan pencegahan dini.
Salah satu contoh nyatanya adalah teknologi pertahanan Double Asteroid Redirection Test (DART), Uji Pengalihan Asteroid Ganda milik NASA. Teknologi ini sukses mengubah orbit asteroid Dimorphos dengan sengaja menabraknya. Jadi, walaupun tidak ada jaminan pasti akan selamat sepenuhnya, peluang untuk selamat jauh lebih besar.
(twu/twu)











































