Ilmuwan Sebut Makanan Kering untuk Anabul Lebih Ramah Lingkungan, Kok Bisa?

Ilmuwan Sebut Makanan Kering untuk Anabul Lebih Ramah Lingkungan, Kok Bisa?

Novia Aisyah - detikEdu
Sabtu, 03 Des 2022 14:00 WIB
Seorang fotografer Jepang bernama Masayuki Oki, mengabadikan setiap kucing di jalanan Tokyo dan hasilnya cukup membuat yang melihatnya senyum-senyum sendiri.
Foto: (Bored Panda)/ Ilustrasi Ilmuan Sebut Makanan Kering untuk Anabul Lebih Ramah Lingkungan, Kok Bisa?
Jakarta -

Para pemilik anabul (anak bulu) perlu tahu nih! Baru-baru ini, sekelompok peneliti menemukan bahwa makanan kering untuk kucing dan anjing lebih ramah lingkungan ketimbang makanan basah.

Penelitian tersebut ditulis oleh nutrisionis hewan Vivian Pedrinelli dari University of São Paulo in Brazil dan rekan-rekannya.

Analisis dalam penelitian ini melibatkan data dari 900 pola makan hewan peliharaan. Kemudian, didapatkan hasil bahwa hampir 90 persen kalori dari makanan basah atau wet food didapatkan dari sumber hewani. Dua kali lebih banyak dari kalori makanan kering atau dry food.

Namun, mengapa makanan kering untuk para kucing dan anjing disebut lebih ramah lingkungan?

Alasan Makanan Kering Anabul Lebih Ramah Lingkungan

Penelitian berjudul 'Environmental Impacts of Diets for Dogs and Cats' ini menemukan, produksi makanan basah menggunakan lebih banyak lahan dan air serta mengeluarkan lebih banyak gas rumah kaca daripada makanan kering.

Para ilmuwan tentunya sudah tahu bahwa konsumsi banyak daging yang dilakukan manusia menyebabkan emisi gas rumah kaca. Menurut seorang ekonom dari University of Edinburgh (tidak terlibat dalam studi), makanan hewan peliharaan juga tidak bisa dilepaskan dari pertimbangan ini.

Meski begitu, seberapa besar dampak berbagai makanan peliharaan ini pada lingkungan, masih belum jelas.

Makanan basah untuk anabul biasanya tidak mengandung potongan daging yang utama, tetapi potongan yang kemungkinan besar tidak dikonsumsi orang. Pakar lingkungan dari University of California, Gregory Okin mengatakan, penghitungan biaya karbon untuk bahan-bahan sisa itu masih dalam perdebatan.

Beberapa pihak berargumen, bahan sisa untuk makanan anabul pada dasarnya tidak dihitung karena datangnya dari hewan-hewan yang dikonsumsi manusia.

Sebaliknya, yang lain mencatat bahwa jika pengolahannya membutuhkan energi, maka tetap menimbulkan biaya lingkungan. Terlebih jika mengandung sedikit daging yang bisa dimakan manusia.

Okin menyampaikan, adanya perbedaan dampak lingkungan dari makanan basah dan makanan kering anabul bisa membantu para pemilik hewan peliharaan yang sadar lingkungan. Info ini dinilai penting bagi para konsumen saat memilih pakan untuk si anak bulu.



Simak Video "Mengenal Sejarah Hari Kucing Sedunia"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia