Utang Tidur Bisa Diganti di Akhir Pekan Nggak Ya? Begini Penjelasannya

Utang Tidur Bisa Diganti di Akhir Pekan Nggak Ya? Begini Penjelasannya

Trisna Wulandari - detikEdu
Selasa, 15 Nov 2022 20:00 WIB
Ilustrasi sakit kepala atau pusing saat bangun tidur
Apakah utang tidur bisa diganti dengan tidur lama di akhir pekan? Foto: Getty Images/staticnak1983
Jakarta -

Tambahan satu jam waktu tidur bisa membuat perbedaan besar bagi kesehatan fisik dan mental. Lantas, apakah tidur sepanjang weekend bisa jadi pengganti kurang tidur dari di hari sekolah dan kuliah?

Sejumlah penelitian mendapati, membayar utang tidur di akhir pekan tidak cukup untuk menggantikan kekurangan waktu tidur sepanjang minggu, seperti dikutip dari Live Science.

Apa yang Terjadi pada Tubuh saat Mengganti Waktu Tidur?

Rupanya, kurang tidur 1 jam mengganggu hingga 1 minggu "jam tidur-bangun tubuh" yang bernama ritme sirkadian. Makin kurang tidur, makin terganggu pengaturan alami tubuh dan fungsinya.

Penelitian Ya Chai dkk di jurnal Nature mendapati, akibat kurang tidur tersebut tampak pada penurunan fungsi memori otak, kendati sudah membayar utang tidur.

Dalam penelitian tersebut, orang yang diteliti tidur sebentar saja di hari pertama. Lalu di hari kedua dan ketiga, orang tersebut tidur masing-masing 10 jam dalam 2 malam.

Sebelum, saat, dan sesudah penelitian, subjek tersebut melaksanakan tes memori. Hasil brain scan menunjukkan, kendati sejumlah fungsi otak membaik setelah tidur panjang, kinerja memori otak tidak membaik.

Penelitian senada mendapati bahwa mengganti waktu tidur tidak mengurangi risiko penyakit karena kurang tidur.

"Data terbaru mendapati bahwa waktu tidur tambahan atau membayar utang tidur di akhir pekan tidak bisa mengurangi risiko yang diperoleh karena kurang tidur di hari kerja itu," kata Christopher Dephner, Asisten Profesor dari University of Colorado Boulder yang mempublikasikan penelitiannya soal membayar utang tidur ini di jurnal Current Biology November 2022.

"Bahkan meskipun kamu secara mental merasa lebih baik setelah tidur lebih lama di akhir pekan, kamu tetap berisiko terkena penyakit akibat kurang tidur sepanjang hari kerja. Data menunjukkan, makin besar beda waktu tidur saat hari kerja dan akhir pekan, makin besar risiko penyakit," jelasnya.

Orang yang tidur kurang dari enam jam selama tiga hari berturut-turut cenderung lebih marah, cemas, frustrasi, dan mengalami gejala masalah pencernaan dan pernapasan, menurut penelitian Somi Lee PhD tentang stres dan tidur di jurnal Annals of Behavioural Medicine.

"Jika kurang tidur nyenyak, kebugaran dan fungsi tubuh keesokan harinya akan lebih rendah dari biasanya, jadi sebaiknya jangan lembur atau jangan menambah kegiatan," kata Lee, Asisten Profesor di University of South Florida.

Altenatif Membayar Utang Tidur

Jika tidur kurang dari 7 jam per malam, memperbaiki kualitas tidur dinilai lebih baik ketimbang membiasakan diri mengganti tidur di akhir pekan. Tetapkan waktu tidur yang cukup, sebaiknya sebelum tengah malam, lalu rutinkan setiap hari meskipun saat akhir pekan. Bangun di jam yang kurang lebih sama setiap hari, dan jangan tunda bangun tidur.

Paparan cahaya Matahari di luar ruangan juga membantu tubuh mengatur ritme sirkadian agar malamnya terpicu untuk ingin tidur tepat waktu. Di samping itu, jalan cepat 22 menit per hari (2,5 jam per minggu) juga membantu tubuh membiasakan tidur di malam hari. Semoga membantu, detikers!



Simak Video "Tidur Sore Bikin Bodoh"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/nwk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia