Lumba-lumba Disebut Mamalia yang Cerewet karena Sering Berkomunikasi

Lumba-lumba Disebut Mamalia yang Cerewet karena Sering Berkomunikasi

Devi Setya - detikEdu
Sabtu, 15 Okt 2022 20:00 WIB
Animal head
Lumba-lumba di dalam air Foto: Getty Images/iStockphoto/Tunatura
Jakarta -

Setiap hewan pasti memiliki cara komunikasi yang khas. Seperti lumba-lumba yang dikenal sering mengeluarkan suara unik untuk berkomunikasi satu sama lain. Saking seringnya bersuara, lumba-lumba disebut sebagai mamalia yang cerewet.

Para ilmuwan sudah banyak melakukan penelitian seputar lumba-lumba. Termasuk mendalami bahasa yang digunakan lumba-lumba untuk berkomunikasi.

Dilansir dari National Geographic (15/10/2022) tim peneliti sedang mencoba memecahkan misteri terkait bahasa lumba-lumba. Di Hawaii, induk lumba-lumba dipisahkan dengan anaknya yang berusia dua tahun dalam sebuah akuarium bersekat.

Ibu dan anak ini saling mengeluarkan suara layaknya manusia yang saling berbicara. Kedua lumba-lumba itu mulai berkoak dan berkicau satu sama lain dengan suara khas lumba-lumba.

Fakta lumba-lumba berkomunikasi

Kode komunikasi lumba-lumba

Para peneliti tengah berusaha memecahkan bahasa dan kode komunikasi yang digunakan lumba-lumba. Bukan hanya melalui suara, pergerakan lumba-lumba juga dianggap sebagai kode komunikasi.

"Tampaknya jelas bahwa mereka tahu dengan siapa mereka berbicara," kata Don White, tim yang menjalani Project Delphis untuk eksperimen ini. "Kode informasi dikirimkan dengan gerakan bolak-balik cukup cepat."

Para ilmuwan mencoba mencari tahu dengan mempelajari aktivitas lumba-lumba liar dan yang tinggal di penangkaran di seluruh dunia. Tujuannya yakni untuk menguraikan bahasa rahasia para lumba-lumba. Namun hingga saat ini belum ditemukan arti bahasa lumba-lumba.

Mamalia yang cerewet

Di dunia terdapat lebih dari 30 spesies lumba-lumba yang hidup di lautan. Lumba-lumba merupakan mamalia yang pintar dan cerdas.

Hewan yang memiliki moncong menyerupai bentuk lengkungan senyum ini juga dikenal hidup secara berkelompok. Dalam kelompoknya, lumba-lumba saling berkomunikasi dan bicara satu sama lain.

Mulai dari lahir, lumba-lumba sudah berkotek, bersiul, mengikik, dan mencicit. "Kadang-kadang satu lumba-lumba akan bersuara dan kemudian yang lain akan menjawab," kata Sara Waller, peneliti yang mempelajari lumba-lumba hidung botol di lepas pantai California.

Lebih lanjut Sara Waller mengatakan lumba-lumba ini terkadang mengeluarkan pola suara berbeda di waktu bersamaan. "Sekilas seperti banyak orang mengobrol di sebuah pesta," lanjut Sara.

Mengetahui fakta ini, lumba-lumba disebut sebagai mamalia yang cerewet. Istilah ini disematkan dengan konotasi positif karena lumba-lumba termasuk hewan cerdas.

Cara komunikasi lumba-lumba bukan hanya melalui suara, tetapi juga ada isyarat yang ditunjukkan sebagai gerakan non-verbal. Diantaranya dengan gerakan khas, tepukan rahang, tiupan gelembung, dan belaian sirip.

Lumba-lumba 'berbicara' tentang segala hal

Para ilmuwan memprediksi lumba-lumba 'berbicara' tentang segala hal. Obrolan ringan seperti usia hingga keadaan emosional diklaim menjadi perbincangan antar lumba-lumba.

"Saya berspekulasi bahwa mereka mengatakan hal-hal seperti 'ada beberapa ikan yang bagus di sini,' atau 'hati-hati terhadap hiu itu karena dia berburu,'" kata Denise Herzing, yang mendalami perilaku lumba-lumba di Bahama.

Ketika menghadapi keadaan sulit, misalnya, beberapa lumba-lumba akan meminta bantuan. Hal ini terjadi pada lumba-lumba tutul yang diganggu oleh dua lumba-lumba hidung botol. Satu lumba-lumba tutul kembali ke tempat kejadian keesokan harinya dengan beberapa teman untuk mengejar salah satu lumba-lumba hidung botol pengganggu.

"Seolah-olah lumba-lumba tutul berkomunikasi dengan teman-temannya bahwa dia membutuhkan bantuan mereka, lalu memimpin mereka mencari orang ini," kata Herzing, yang menyaksikan perkelahian lumba-lumba itu.

Bahasa lumba-lumba sulit dipelajari

Kathleen Dudzinski, direktur Proyek Komunikasi Dolphin, telah mendengarkan komunikasi antar lumba-lumba selama lebih dari 17 tahun. Ia dan tim peneliti menggunakan peralatan berteknologi tinggi untuk merekam dan menganalisis setiap nuansa bahasa mereka. Tapi dia bilang penelitiannya masih jauh dari mengerti bahasa lumba-lumba.

Lumba-lumba merupakan perenang cepat yang dapat bertahan di bawah air hingga sepuluh menit dalam satu tarikan napas. "Ini seperti mempelajari gunung es karena mereka menghabiskan sebagian besar hidup mereka di bawah air," kata Dudzinski.

Menguraikan bahasa lumba-lumba juga rumit karena bahasa mereka sangat bergantung pada apa yang mereka lakukan, apakah mereka sedang bermain, berkelahi, atau mengejar ikan yang enak. Tidak ada bedanya dengan manusia.

Sama halnya seperti manusia yang mengangkat tangan untuk menyapa. Dalam kondisi lain, gerakan yang sama dapat berarti selamat tinggal, berhenti, atau sesuatu yang berharga lima dolar.

Selama perkelahian, misalnya, lumba-lumba bertepuk tangan untuk mengatakan "mundur!" Tapi mereka juga bertepuk tangan saat bermain.

"Saya belum menemukan satu perilaku lumba-lumba tertentu yang berarti hal yang sama setiap kali melihatnya," kata Dudzinski. "Jika suka tantangan dan menyukai misteri serta pekerjaan detektif, maka ini adalah pekerjaan yang cocok."



Simak Video "Lumba-lumba di Bali Dilepasliarkan Usai 8 Tahun Jadi Pameran"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia