Saat Mencekam Sarwo Edhie Mertua SBY Kejar Penculik Jenderal Yani

Pasti Liberti Mappapa - detikEdu
Minggu, 02 Okt 2022 16:00 WIB
Profil Jenderal Ahmad Yani dikenal sebagai Panglima TNI Angkatan Darat (TNI AD). Jenderal Ahmad Yani gugur dalam pemberontakan G30S PKI.
Foto: Repro buku Kunang-kunang Kebenaran di Langit Malam
Jakarta -

Kolonel (Inf) Sarwo Edhie Wibowo melejit namanya saat peristiwa Gerakan 30 September atau dikenal dengan G30S PKI. Kelak, putri Sarwo Edhie menikah dengan prajurit TNI bernama Susilo Bambang Yudhoyono yang kemudian menjadi Presiden ke-6 Republik Indonesia.

Sarwo Edhie kala meletusnya G30S memegang jabatan Kepala Staf Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) atau sekarang dikenal dengan nama Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Namun, karena Komandan RPKAD Moeng Parhadimoeljo sedang menempuh pendidikan, Sarwo menjadi orang nomor satu sementara di kesatuannya sejak Januari 1965.

Dikutip dari buku G30S, Fakta atau Rekayasa karya Julius Pour, pagi-pagi benar sekitar pukul 05.30 Jumat 1 Oktober 1965, dua perwira Angkatan Darat mendatangi kediaman Sarwo Edhie di Kompleks RPKAD Cijantung.

Sunarti Sri Hadiyah segera membangunkan suaminya yang tidur terlambat karena punya kebiasaan menjalani tirakat setiap malam Jumat. Sarwo terkejut saat mengetahui yang datang dua perwira ajudan Menteri/Panglima AD Letnan Jenderal Ahmad Yani. Intuisinya tahu ada yang tak beres.

"Ada apa dengan Bapak, pagi-pagi kalian datang kemari?," tanya Sarwo pada Mayor Soebardi dan Mayor Sudarto. Hubungan Sarwo Edhie dengan Jenderal Yani terbilang dekat. Waktu kecil mereka bertetangga dan sama-sama mengikuti pendidikan calon perwira Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor.

Mayor Soebardi menceritakan bahwa Jenderal Yani ditembak dan diculik. Keberadaannya belum diketahui. Sebelum ke Cijantung, dua perwira menengah ini sempat menghadap Panglima Kodam Jaya Mayjen Umar Wirahadikusumah. Mayjen Umar pun memerintahkan mereka menemui Kolonel Sarwo Edhie.

Tanpa pikir panjang, prajurit asal Purworejo tersebut menghubungi bawahannya, Komandan Batalyon I/RPKAD, Mayor (Inf) Chalimi Iman Santosa. Santosa diminta segera mengumpulkan pasukan. Kebetulan saat itu pasukan Santosa berada di Senayan untuk mengikuti latihan upacara peringatan Hari ABRI.

Perintah penarikan pasukan untuk kembali ke Cijantung itu mengejutkan dan bikin kesal pengawas latihan. Prajurit RPKAD yang baru saja tiba di Parkir Timur Senayan mendadak naik kembali ke truk. Kemudian pergi meninggalkan Senayan dengan terburu-buru.

Perintah Kejar Penculik Jenderal Yani >>>

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia