Indonesia Posisi Ke-7 Kasus Pernikahan Anak di Dunia, Pendidikan Masih Ngaruh?

Novia Aisyah - detikEdu
Jumat, 11 Mar 2022 19:09 WIB
Pernikahan Anak: Remaja putri 14 tahun meninggal usai melahirkan di gereja picu amarah publik Afrika
Indonesia tempati peringkat ke-7 pernikahan anak di dunia. Foto: BBC World
Jakarta -

Kasus pernikahan anak di Indonesia ada di peringkat ketujuh sedunia. Adapun jumlah kasus aktual terbesar di Indonesia terjadi di Provinsi Jawa Barat.

Hal ini diungkapkan dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, Yulina Eva Riany. Menurut Eva, peringkat tersebut tidak jauh posisinya dari sejumlah negara Afrika dan Amerika Latin.

Faktor Pernikahan Anak di Indonesia

Sejumlah faktor turut melatarbelakangi tingginya kasus pernikahan anak di Indonesia. Di antaranya adalah pendidikan, status sosial-ekonomi rendah, dan tentu saja sedikitnya informasi mengenai risiko nikah dini. Ditambah lagi, media sosial turut menyebarkan persepsi keliru tentang pernikahan dini.

"Beberapa faktor penyebab tingginya pernikahan anak di antaranya tingkat pendidikan yang rendah, status sosial ekonomi yang rendah dan kurangnya informasi terkait dengan risiko pernikahan anak," papar awardee Australia Alumni Grant Scheme 2021 itu dalam seminar bertajuk Pernikahan Anak dan Beragam Risikonya (05/03/2022) seperti dikutip dari laman IPB University.

Ia menambahkan, "Media sosial juga menjadi faktor pemicu, selain faktor budaya yang mempersepsikan bahwa menikah sedini mungkin dapat meringankan beban orang tua dan menjadi kebanggaan keluarga. Terutama jika anak perempuan dapat menikah dengan pria kaya."

Eva menegaskan, pernikahan anak yang umurnya masih di bawah 19 tahun adalah bentuk pelanggaran hukum. Sebab, praktik tersebut tidak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 soal Perkawinan.

Risiko Pernikahan Anak

Eva melanjutkan, beberapa risiko berbahaya bisa dialami oleh si ibu muda, anaknya, serta aspek psikologis yang bersangkutan. Risiko kesehatan yang bisa menimpa adalah bahaya pada sistem reproduksi, kehamilan bermasalah, bahkan kematian ibu dan anak.

Anak yang dilahirkan juga mendapat potensi lahir prematur, mempunyai disabilitas, atau mengalami stunting.

Eva meyakinkan bahwa pernikahan dini bukanlah solusi keluar dari kemiskinan dan malah bisa menimbulkan masalah sosial-ekonomi baru. Dirinya pun mengingatkan, kasus pernikahan anak dapat menciptakan korban kekerasan.

"Ada risiko munculnya permasalahan psikologi atau mental bahkan risiko sebagai korban kekerasan. Selain itu, pernikahan anak bukan sebagai suatu solusi keluar dari permasalahan kemiskinan. Justru pernikahan anak dapat menghasilkan masalah sosial ekonomi baru di masyarakat yang harus segera diatasi bersama," ujar Eva.



Simak Video "Angka Penikahan Dini Selama Pandemi Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia