Siswa Pernah Menguap Meski Tidak Mengantuk? Ternyata Ini Alasannya

Fahri Zulfikar - detikEdu
Selasa, 25 Jan 2022 17:14 WIB
Tired female entrepreneur yawning in office. Horizontal shot.
Foto: istockphoto/Neustockimages
Jakarta -

Pernahkah kamu menguap padahal tidak mengantuk? ternyata hal itu seringkali dilakukan tanpa disadari oleh kebanyakan manusia bahkan hewan sekalipun.

Mengutip Psychology Today, sinyal yang memulai menguap berasal dari daerah otak tertentu yakni nukleus paraventrikular (PVN) dari hipotalamus. Hal ini kemudian merangsang sel-sel otak lain baik di batang otak dan hipokampus untuk menghasilkan kontraksi otot yang kita sebut menguap.

PVN juga memproduksi hormon yang disebut adrenocorticotropic hormone (ACTH) meningkat drastis selama tidur dan sesaat sebelum bangun. Inilah mengapa kita menguap saat bangun pagi.


Menguap Adalah Bentuk Komunikasi Sosial


Psikolog Steven Platek dan timnya di Drexel University di Philadelphia memberikan tes kepribadian kepada 65 mahasiswa. Tes mengukur empati mereka, atau seberapa baik mereka merasakan dan merespons keadaan mental orang lain.

Platek kemudian mengamati melalui cermin satu arah (agar subjeknya tidak tahu bahwa mereka sedang diawasi) bagaimana respon siswa saat mereka menonton video orang menguap.

Para siswa yang mendapat skor tinggi untuk empati lebih sering menguap sebagai tanggapan terhadap video daripada rekan-rekan mereka yang kurang berbelas kasih. Hal ini menunjukkan bahwa menguap adalah salah satu bentuk komunikasi sosial.


Membantu Mengatur Suhu Otak


Sementara itu, dalam edisi terbaru jurnal Medical Hypotheses, Andrew Gallup dari Princeton University dan Gary Hack dari University of Maryland berpendapat bahwa menguap membantu mengatur suhu otak.

"Otak sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan karena itu harus dilindungi dari panas berlebih," tulis mereka dikutip Psychology Today.

Otak, seperti komputer, beroperasi paling baik saat dingin. Gallup dan Hack mengusulkan bahwa dinding sinus maksilaris manusia melentur selama menguap seperti embusan, yang pada gilirannya memfasilitasi pendinginan otak.

Teori ini membantu menjelaskan fungsi sinus manusia, yang sedikit dipahami dan diperdebatkan dengan hangat. Gallup juga telah melakukan eksperimen dan menemukan bahwa peningkatan suhu otak yang cepat mendahului menguap dan penurunan suhu otak terjadi segera setelahnya.

Sementara terkait menguap berlebihan, peneliti memperkirakan hal itu dapat digunakan sebagai alat diagnostik dalam mengidentifikasi disfungsi pengaturan suhu.

"Menguap berlebihan tampaknya merupakan gejala dari kondisi yang meningkatkan suhu otak dan/atau inti, seperti kerusakan sistem saraf pusat dan kurang tidur," tutur Gallup.



Simak Video "Siapa Saja yang Disarankan untuk Jalani Meditasi?"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia