6 Penyebab Runtuhnya Uni Soviet, dari Glasnost sampai Chernobyl

Trisna Wulandari - detikEdu
Minggu, 14 Nov 2021 19:30 WIB
Kota Hantu Peninggalan Tragedi Nuklir Chernobyl
Kota hantu peninggalan tragedi nuklir Chernobyl. Penanganan tragedi yang buruk menjadi salah satu penyebab runtuhnya Uni Soviet. Foto: Getty Images
Jakarta - Uni Soviet merupakan negara terbesar di dunia pada 1 Januari 1991. Di samping memiliki wilayah luas dan jumlah populasi yang tinggi, Uni Soviet saat itu memiliki puluhan ribu senjata nuklir dan pengaruh di penjuru timur Eropa. Setahun kemudian, negara ini hancur. Apa saja penyebab runtuhnya Uni Soviet?

Dilansir dari Encyclopaedia Britannica, Uni Soviet di awal tahun 1991 memiliki luas wilayah 22.400.000 km persegi. Luas negara ini saat itu meliputi satu per enam permukaan bumi. Wilayah Uni Soviet saat itu didiami lebih dari 290 juta penduduk dengan lebih dari 100 kebangsaan.

Pakta Warsawa (14 Mei 1955-1 Juli 1991) saat itu juga berperan atas pengaruh Uni Soviet di berbagai negara Eropa bagian timur. Pakta Warsawa merupakan perjanjian pertahanan militer bersama antara Uni Soviet, Albania, Bulgaria, Cekoslovakia, Jerman Timur, Hungaria, Polandia, dan Romania.

Penyebab Runtuhnya Uni Soviet

1. Insiden Nuklir Chernobyl

Pada 26 April 1986, terjadi ledakan di reaktor Unit 4 pembangkit listrik Chernobyl, Pryp'yat (kini Ukraina). Ledakan dan kebakaran ini menyebabkan dampak radioaktif 400 kali bom Hiroshima dan Nagasaki pada 1945.

Kendati berbahaya dan melanggar doktrin glasnost (keterbukaan), Sekjen Partai Komunis Uni Soviet (Communist Party of the Soviet Union/CPSU) Mikhail Gorbachev memerintahkan para staf pemerintahan untuk tidak menyebarkan informasi bencana nuklir tersebut ke masyarakat dan ke mancanegara. Peserta parade May Day di area terdampak juga tidak diinformasikan, sehingga tetap melaksakan pawai dan selebrasi tanpa tahu akan terdampak paparan radioaktif.

Sejumlah laporan dari Barat ditampik sebagai gosip oleh pemerintah Uni Soviet hingga diakui pada 14 Mei, 18 hari setelah bencana. Pada 4, kebocoran radioaktif baru dapat tertangani oleh petugas. Kelak, dampak radioaktif pada korban-korban terpapar membuat Uni Soviet kehilangan kepercayaan dari masyarakat dan mancanegara.

Beberapa dekade kemudian, Gorbachev mengatakan dalam peringatan bencana Chernobyl, "mungkin ketimbang kebijakan perestroika, Chernobyl mungkin adalah penyebab runtuhnya Uni Soviet sebenarnya 5 tahun kemudian."

2. Kebijakan Perestroika dan Glasnost

Mikhail Gorbachev mengusung kebijakan glasnost (keterbukaan) dan perestroika setelah diangkat jadi Sekjen Partai Komunis Uni Soviet. Glasnost diharapkan dapat memicu dialog dan keterbukaan, sementara perestroika diharapkan memicu kebijakan pasar bebas semu bagi industri milik negara.

Kebijakan perestroika kelak justru memicu sistem kapitalisme dan komunisme yang buruk. Penerapan perestroika saat itu menaikkan harga tanpa memperbaiki layanan yang disediakan, sehingga dianggap hanya menguntungkan pemerintah.

Reformasi Gorbachev dan pengabaian pada Doktrin Brezhnev tentang penyatuan negara-negara komunis di dunia mempercepat runtuhnya Uni Soviet. Pada akhir 1989, Hungaria membuka perbatasan dengan Austria, Solidarity mengambil alih kekuasaan di Polandia, negara-negara Baltik menuju kemerdekaan, dan Tembok Berlin runtuh.


3. Masalah Kebijakan Ekonomi

Kendati memiliki kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia pada 1990, Uni Soviet kekurangan barang konsumsi bertahun-tahun. Hal ini menjadikan ekonomi pasar gelap Uni Soviet setara dengan lebih dari 10 persen PDB resmi negara.

Uni Soviet juga mengalami inflasi karena kenaikan upah didukung pencetakan uang. DI samping itu, penurunan tajam harga minyak membuat ekonomi Uni Soviet sebagai produsen minyak dan gas alam terpuruk.

4. Penguatan Militer

Uni Soviet dipercaya meningkatkan pertahanan militer ketika Ronald Reagan menjadi presiden Amerika Serikat. Peningkatan anggaran bagi riset dan pengembangan militer serta pertahanan saat itu dinilai tidak seimbang dengan peningkatan kekuatan ekonomi. Sementara itu, ahli teknologi dan calon wirausahawan yang seharusnya dapat membantu Gorbachev meningkatkan perekonomian justru ditarik untuk memperkuat industri pertahanan.

5. Keletihan Konflik

Selama 10 tahun pendudukan di Afghanistan (1979-1989), sekitar 15,000 tentara tewas dan ribuan terluka. Sementara itu, lebih dari satu juta warga Afghanistan tewas dan lebih dari 4 juta orang mengungsi karena konflik.

Para tentara Uni Soviet menyuarakan kebuntuan yang dialami 10 tahun tersebut kendati dibungkam pemerintah. Sementara itu, Afgantsy, veteran konflik Afghanistan, menolak konflik yang disebut perang Moskow tersebut. Para tentara yang berasal dari Asia Tengah juga merasakan kedekatan etnis dan agama dengan orang Afghanistan ketimbang Uni Soviet.

Demonstrasi di Ukraina lalu pecah seiring konflik di Afghanistan. Konflik tersebut juga memicu negara-negara Baltik melakukan gerakan separatis, sehingga Estonia, Latvia, dan Lithuania merdeka pada 1990.

6. Masuknya Paham Barat

Glasnost (keterbukaan) memicu masyarakat Uni Soviet untuk menjelajahi paham Barat, mulai dari konsep, gagasan, ide, hingga produknya. Pada 1990, warga Uni Soviet kerap mengantri untuk membeli koran-koran liberal dan mengonsumsi bacaan tentang demokratisasi. Antrian juga mengular di McDonald pertama di Uni Soviet pada Januari 1990.

Menguatnya masyakarat dan dan runtuhnya kredibilitas pemerintah Uni Soviet tersebut lantas turut menjadi penyebab runtuhnya Uni Soviet.



Simak Video "Khawatir Ukraina Diinvasi Rusia, AS Siapkan Persenjataan Militer"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia