Kenapa Mobil Sering Mogok Mendadak di Tengah Rel Kereta?

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Minggu, 07 Nov 2021 16:00 WIB
Masih banyak perlintasan kereta api di DKI Jakarta yang tidak memiliki palang pintu. Seperti yang terlihat di Jl Kembangan Baru, Jakarta Barat, ini.
Foto: Ari Saputra/Kenapa Mobil Sering Mogok Mendadak di Tengah Rel Kereta?
Jakarta - Pernahkah kamu menyaksikan mobil yang tiba-tiba mogok saat berada di perlintasan kereta? Ternyata, peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut ada peran emisi elektromagnetik di palang kereta di balik peristiwa mogok mendadak tersebut.

Kepala Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian LIPI Harry Harjadi mengatakan, akar masalah berada pada emisi elektromagnetik dari palang kereta yang tidak kompatibel.

"Akar masalah itu adalah emisi elektromagnet di palang kereta atau kabel penyalur arus listrik di sepanjang rel kereta yang tidak kompatibel. Sehingga, ketika ada kejadian itu (mobil mogok), ada penelitian tentang eletromagnetic compatibility kelistrikan kereta," kata Harry seperti dikutip dari situs LIPI.

Dampak dari inkompatibilitas emisi tersebut menghasilkan emasi di atas ambang batas dari sebuah benda yang berbasis kelistrikan. Paparan emisi yang tidak beraturan, kata Harry, turut menimbulkan kekacauan sistem kelistrikan benda lain.

Salah satunya perangkat utama dari suatu mobil atau Electronic Control Unit (ECU). Perangkat tersebut berfungsi untuk mengontrol buka tutup klep dan semburan bahan di injektor mobil.

Paparan emisi elektromagnetik dari palang kereta membuat injektor mobil berhenti bekerja. Hal itulah yang membuat mobil mogok di perlintasan rel kereta dan berpotensi menyebabkan kecelakaan.

"Akibat, ECU yang terpapar elektromagnetik di atas ambang batas itulah, maka injektor berhenti bekerja. Mobil pun mogok, dan saat kereta melintas berpotensi terjadi kecelakaan," tutur Harry.

"Jadi seperti itu alasan ilmiahnya. Bukan karena faktor mistis ada penunggu di palang kereta," imbuh dia lagi.

Harry juga menjelaskan dua sifat emisi elektromagnetik yakni bersifat konduksi dan radiasi. Bersifat konduksi artinya paparan emisi tersalur melalui benda-benda penghantar arus listrik. Seperti bahan dari metal atau kabel.

Sementara itu, emisi yang bersifat radiasi artinya paparan yang dihantarkan tidak melalui sebuah penghantar, melainkan gelombang.

Kemudian, Harry mengungkapkan saran bagi perusahaan penyedia jasa kereta api maupun pabrikan mobil. Untuk perusahaan penyedia jasa kereta api, Harry berharap dapat dilakukan pengujian terhadap kompabilitas elektromagnetik yang dihasilkan proses kerja sistem kelistrikan saat kereta beroperasi.

Bagi pabrikan mobil, kata Harry, diperlukan pengujian tingkat kompabilitas sistem kelistrikan semua perangkat terutama yang terkait dengan mesin. Hal ini bermanfaat untuk mengetahui tingkat imunitas perangkat terhadap paparan emisi.

"Untuk mengetahui tingkat imunitas atau kekebalannya terhadap paparan emisi elektromagnetik baik konduksi maupun radiasi dari benda-benda lain termasuk kendaraan lain," tandasnya.

Sementara itu, General Manager Technical Service Division PT Toyota-Astra Motor (TAM) Dadi Hendriadi mengaku pihak pabrikan mobil sudah memperhitungkan faktor emisi tersebut. Namun, Dadi menyebut emisi elektromagnet yang besar tetap memiliki pengaruh bagi kendaraan.

Sebagai penutup Dadi memberi saran bagi pengguna jalan yang hendak melintasi rel kereta api. Menurutnya, jangan terburu-buru untuk melintas ketika kereta api mendekati area perlintasan.

"Kalau misalnya kereta akan lewat sebaiknya jangan nekat menerobos perlintasan kereta. Jadi kalau ada masalah, masih ada waktu untuk mendorong mobil," tukasnya.

Simak Video "Kecelakaan Maut! Kereta Tabrak Mobil di Probolinggo, 4 Orang Tewas"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia