Kereta Cepat Jakarta-Bandung dan Sejarah Perkembangan Kereta Indonesia

Kristina - detikEdu
Jumat, 15 Okt 2021 15:01 WIB
Planning Fallacy Pembangunan Kereta Cepat Jakarta - Bandung
Foto: detik
Jakarta - Alat transportasi massal Indonesia, kereta api, terus mengalami perkembangan hingga kini. Mulai dari kereta api Solo-Yogyakarta yang dibangun pada masa kolonial Belanda, hingga kereta cepat Jakarta-Bandung yang dibangun atas kerjasama Indonesia dengan perusahaan perkeretaapian Tiongkok.

Kereta cepat Jakarta-Bandung akan menggunakan generasi terbaru CR400AF dengan panjang trase mencapai 142,3 km yang terbentang dari Jakarta Hingga Bandung. Kereta cepat ini memiliki empat stasiun pemberhentian yakni di Halim, Karawang, Walini, Tegalluar dengan satu depo yang berlokasi di Tegalluar, dilansir dari kcic.co.id.

Sayangnya, proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung masih terus menuai kontroversi. Pada Rabu (13/10/2021) lalu, Ekonom Senior Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri menyebut proyek tersebut adalah proyek mubazir.

"Ini proyek mubazir, nggak karu-karuan, kereta cepat sebentar lagi mau disuntik pakai APBN, Bandara Kertajati lebih baik jadi gudang ternak aja. Pelabuhan Kuala Tanjung dibangun dekat Belawan, kemudian LRT Palembang. Kesimpulannya kesalahan pucuk pimpinan," tegasnya dalam dialog bertajuk COVID-19 dan Ancaman Kebangkrutan Dunia Usaha.

Menurut prediksi Faisal, proyek ini tidak akan balik modal hingga kiamat nanti. Ia juga mengatakan, tiket kereta cepat yang awalnya digadang-gadang Rp 300 ribu per orang bisa membengkak ke angka Rp 400 ribu.

"Sebentar lagi rakyat membayar kereta cepat. Barangkali nanti tiketnya Rp 400 ribu sekali jalan. Diperkirakan sampai kiamat pun tidak balik modal," tegasnya.

Sejarah Perkeretaapian Indonesia

Sejarah perkeretaapian Indonesia telah ada lebih dari 1,5 abad yang lalu. Sebelum sampai pada pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung, Indonesia pernah mengalami masa kereta api uap yang berlangsung sejak zaman kolonial Belanda.

Melansir kai.id, jalur kereta api pertama dibangun pada tanggal 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda, Mr.L.A.J Baron Sloet van de Beele. Jalur ini menghubungkan Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta). Pembangunan dilaksanakan oleh perusahaan swasta Naamlooze Venootschap Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM) dengan lebar sepur 1435 mm.

Pada tanggal 8 April 1875, Pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api negara melalui Staatssporwegen (SS) dengan rute pertama meliputi Surabaya-Pasuruan-Malang. Keberhasilan pembangunan tersebut mendorong investor swasta untuk membanung jalur kereta api lebih banyak lagi.

Beberapa jalur kereta api yang dibangun antara lain Semarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS), Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS), Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS), Pasoeroean Stoomtram Maatschappij (Ps.SM), Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM), Probolinggo Stoomtram Maatschappij (Pb.SM), Modjokerto Stoomtram Maatschappij (MSM), Malang Stoomtram Maatschappij (MS), Madoera Stoomtram Maatschappij (Mad.SM), dan Deli Spoorweg Maatschappij (DSM).

Tak hanya di Jawa, jalur kereta api juga dibangun di wilayah Aceh (1876), Sumatera Utara (1889), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), dan Sulawesi (1922). Hingga akhir tahun 1928, panjang jalan kereta api dan trem di Indonesia mencapai 7.464 km, sepanjang 4.089 km milik pemerintah dan 3.375 km milik swasta.

Pada tahun 1942, perkeretaapian diambil alih oleh Jepang setelah Belanda menyerah tanpa syarat. Pada masa pendudukan Jepang, operasional kereta api diutamakan untuk kepentingan perang.

Pasca kemerdekaan tahun 1945, Pemerintah Indonesia mengambil alih stasiun dan kantor pusat kereta api yang sebelumnya dikuasai jepang. Memasuki tahun 1950, lokomotif uap menjadi barang yang antik dan tidak lagi diproduksi oleh negara-negara Eropa maupun Amerika. Hingga akhirnya, pemerintah mengganti lokomotif uap menjadi diesel.

Semasa dalam pengelolaan pemerintah, perusahaan kereta api Indonesia juga mengalami beberapa kali pergantian nama, hingga akhirnya pada tahun 1998 resmi berubah menjadi PT. Kereta Api Indonesia (Persero).

Kini, PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah memiliki tujuh anak perusahaan. Antara lain KAI Services (2003), KAI Bandara (2006), KAI Commuter (2008), KAI Wisata (2009), KAI Logistik (2009), KAI Properti (2009), PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (2015).

Seiring perkembangan perkeretaapian Indonesia, kini hadir kereta api menggunakan aliran listrik sebagai tenaga penggeraknya. Kereta api ini berada dibawah naungan KAI Commuter.

Terbaru adalah kereta cepat Jakarta-Bandung. Kereta ini digarap oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) yang merupakan perusahaan patungan antara konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia dan konsorsium perusahaan perkeretaapian Tiongkok melalui Beijing Yawan HSR Co.Ltd. Proyek ini dijalankan dengan skema business to business (B2B).

Panjang trase kereta cepat ini mencapai 142,3 km dengan lebih dari 80 km menggunakan struktur elevated dan sisanya 13 tunnel dan subgrade. Operasional kereta cepat Jakarta-Bandung ditargetkan pada akhir tahun 2022 mendatang.

Simak Video "Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang Tak Sampai ke Pusat Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia