Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Dirjen Pendis Kemenag) Amien Suyitno membuka peluang penambahan kuota beasiswa bagi mahasiswa Indonesia yang ingin menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Mesir. Ia berharap jumlah penerima beasiswa dapat meningkat seiring penguatan kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Mesir.
Peluang tersebut mengemuka setelah Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi beberapa waktu lalu. Menurut Amien, salah satu isu pendidikan yang dibahas dalam pertemuan itu berkaitan dengan mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di perguruan tinggi Mesir, khususnya Universitas Al-Azhar.
"Harapan kita bertambah, ya, karena saat kunjungan Pak Presiden Abdel Fattah itu, kemungkinan menambah beasiswa itu sangat besar. Menyebut angka yang menurut saya cukup-cukup besar, ya," ujar Amien kepada wartawan di Kantor Kementerian Agama, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2026) lalu.
Animo Kuliah ke Al-Azhar Besar
Berdasarkan data yang ada, Amien menyebut animo anak-anak Indonesia yang ingin menempuh kuliah di Al-Azhar Mesir sangat besar. Setidaknya ada ribuan lulusan Indonesia ingin kuliah ke sana.
Untuk bisa masuk ke Al-Azhar Mesir, ada berbagai jalur penerimaan, baik dengan beasiswa maupun nonbeasiswa. Kendati demikian, kedua jalur tersebut punya standarisasi tinggi dalam proses seleksi mahasiswa.
"Meskipun nonbeasiswa itu pun juga ada standardisasi yang tidak boleh sembarangan, tetap ada standar kompetensi, bahasa, dan tentu saja moderasi beragama diprioritaskan," bebernya.
Saat ini Kemenag punya jalur khusus untuk mengirimkan calon mahasiswa dari Indonesia dengan beasiswa. Namun, jumlahnya masih sedikit, hanya 20 orang yang bisa diterima.
Untuk itu, ada harapan agar beasiswa kuliah ke Al-Azhar Mesir ini bisa diperbanyak. Jumlahnya, akan dipastikan Kemenag ketika tim Universitas Al-Azhar Asy-Syarif berkunjung ke Indonesia.
"Ini yang kemudian nanti detailnya akan kita bahas lebih lengkap, termasuk juga bentuk kuliah daring, double degree, dan beberapa yang lain yang memperkuat dari MoU itu," sambungnya.
Akan Ada Skema Double Degree dan Kuliah Daring
Sebagai informasi, sebelumnya Kemenag telah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar bersama Wakil Al-Azhar Asy-Syarif, Asy-Syekh Ayman Abdul Ghani, secara hybrid dari Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Senin (12/10/2026).
Setidaknya ada empat skema baru yang hadir dari perluasan kerja sama akademik dengan Universitas Al-Azhar Mesir. Keempatnya adalah gelar ganda (double degree), kuliah jarak jauh, riset kolaboratif, dan pertukaran pendidik.
Amien menyatakan skema double degree sebenarnya sudah dirancang sebelum MoU ditekan beberapa waktu lalu. Skema ini memungkinkan mahasiswa S1 bisa kuliah 2 tahun di Mesir dan mendapatkan dua ijazah.
"Misalnya dalam 4 tahun itu untuk kepentingan S1, maka 2 tahunnya bisa di Indonesia, 2 tahunnya bisa di Mesir, Al-Azhar. Nah, ini yang kemudian nanti detail-detailnya akan kami tuangkan dalam bentuk PKS (perjanjian kerja sama)," ujarnya.
Sedangkan kuliah daring atau kuliah jarak jauh memungkinkan mahasiswa bisa menempuh studi di Al-Azhar tanpa harus ke Mesir. Dengan kata lain, mahasiswa tersebut menjalani pembelajaran secara daring dari Indonesia.
Amien tidak bisa memungkiri bila Al-Azhar pasti memiliki rambu-rambu akademik yang berbeda. Untuk itu, teknis kuliah online ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam pertemuan nantinya.
"Kenapa harus kami diskusikan lebih detail tentang rambu-rambu itu, tentu yang nomor wahid akan kita siapkan adalah mahasiswa yang punya kompetensi sesuai dengan standarnya Al-Azhar," jelasnya.
Dalam menghadirkan kuliah daring, Amien menekankan pentingnya Kemenag cara membangun kompetensi mahasiswa dengan dilakukan cukup di Indonesia. Terkait hal ini, salah satu rencanangnya adalah menggandeng lembaga bahasa yang sangat kompeten.
"Kita juga punya banyak alumni-alumni dari Al-Azhar yang kompeten, sehingga ini yang nanti coba kita berdayakan di perguruan tinggi keagamaan kita yang tentu saja terbuka luas, bukan hanya di PTKIN, bisa Ma'had Aly, dan juga pondok-pondok pesantren yang kompeten untuk itu," imbuhnya.
Simak Video "Video Israel Pasok Gas ke Mesir, Netanyahu: Terbesar dalam Sejarah Bangsa Ini"
(det/pal)