Mahasiswa Indonesia semakin punya kesempatan yang luas untuk menempuh pendidikan di luar negeri. Salah satunya diwujudkan dengan kerja sama antara Kementerian Agama (Kemenag) dan Universitas Al-Azhar Asy-Syarif, Kairo, Mesir.
Sebelumnya, Kemenag memang telah menjalin kerja sama dengan Universitas Al-Azhar. Namun, kini kerja sama itu semakin diperluas dengan berbagai skema yang bisa dimanfaatkan mahasiswa dan dosen Indonesia, terutama dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).
Menteri Agama, Nasaruddin Umar menyatakan setidaknya ada empat skema baru yang hadir dari perluasan kerja sama akademik dengan Universitas Al-Azhar Mesir. Keempatnya adalah gelar ganda (double degree), kuliah jarak jauh, riset kolaboratif, dan pertukaran pendidik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Skema-skema ini disebutnya sebagai tindak lanjut pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi. Ketika menjamu, kedua kepala negara itu memberikan perhatian khusus pada sektor pendidikan.
Pembicaraan itu akhirnya ditindaklanjuti dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar bersama Wakil Al-Azhar Asy-Syarif, Asy-Syekh Ayman Abdul Ghani, secara hybrid dari Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Senin (12/10/2026).
Skema Double Degree-Penguatan Kapasitas Pendidik
Menag membeberkan berbagai skema baru dalam kerja sama antara Indonesia dan Mesir di bidang pendidikan, yaitu:
1. Double Degree
Program gelar ganda atau double degree memungkinkan mahasiswa S1 Indonesia mendapatkan dua ijazah. Satu ijazah berasal dari kampus asal mahasiswa berkuliah di Indonesia.
Adapun satu ijazah lainnya diberikan oleh Universitas Al-Azhar Mesir. Untuk mendapatkannya, mahasiswa juga akan menjalani kuliah selama dua tahun di Mesir.
"Dimungkinkan untuk melakukan twinning program atau double degree. Mahasiswa dapat menempuh pendidikan dua tahun di sini (Indonesia) dan dua tahun di Al-Azhar Mesir, kemudian nanti mendapatkan dua ijazah," tutur Menag dikutip dari laman resmi Kemenag, Senin (12/10/2026).
2. Kuliah Jarak Jauh
Skema kuliah jarak jauh memungkinkan mahasiswa Indonesia bisa menjalani kuliah di Universitas Al-Azhar tanpa harus ke Mesir. Namun, seluruh standar dan materi pembelajarannya tak ada yang berubah.
Melengkapi Menag, Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amin Suyitno menyatakan regulasi ini bisa menjadi kabar baik bagi PTKIN. Ia berharap regulasi ini juga bisa membuka pintu agar PTKIN menyelenggarakan program yang lebih efisien.
"Kita bisa melakukan kuliah online, sehingga nanti mengurangi mahasiswa-mahasiswa kita yang datang ke Mesir, sehingga suasana yang sangat crowded (padat) beserta eksesnya bisa dikurangi," jelas Amin.
3. Riset Kolaboratif
Dalam hal penelitian, kerja sama riset kolaboratif memungkinkan dosen/peneliti dari PTKIN melakukan studi bersama, kolaborasi publikasi jurnal, pertukaran data dan literatur, hingga pengembangan metodologi. Dengan begitu, sebuah karya ilmiah yang bisa berdampak global bisa tercipta.
4. Pertukaran Pendidik
Pertukaran pendidik menjadi skema yang penting dalam penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) kedua negara. Mesir nantinya akan mendatangkan 1.000 ulama yang telah dibekali kemampuan berbahasa Indonesia.
Para ulama ini nantinya akan membantu proses pengajaran di berbagai perguruan tinggi dan pondok pesantren. Sebaliknya, pendidik Indonesia juga punya kesempatan untuk memperkuat kompetensinya dengan berangkat ke Mesir.
"Diberi kesempatan (mengirimkan) imam-imam, ustaz-ustaz, dan dosen-dosen bahasa Arab dan Dirasah Islamiyah untuk berangkat ke Mesir, guna selanjutnya mengikuti program takhasus (spesialisasi)," kata Menag lagi.
