Sanur tak selalu identik dengan hotel, restoran, resor, dan deretan akomodasi yang kini memenuhi kawasan pesisirnya. Jauh sebelum wajah pariwisata seperti sekarang, kawasan ini adalah ruang hidup masyarakat yang menggantungkan hari-harinya pada laut dan tanah.
Perubahan itu datang perlahan. Pariwisata tumbuh, bangunan-bangunan baru bermunculan, sementara sebagian wajah lama Sanur mulai bergeser. Namun, di tengah geliat pembangunan, sejumlah bagian dari Sanur lama masih bertahan.
Ade Angga Bhargawa, pegiat sejarah sekaligus Founder Sanur Archive, melihat perubahan tersebut sebagai bagian dari perjalanan panjang Sanur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sanur itu sendiri menjadi tempat pariwisata itu di sekitar tahun 70- 80-an, sampai detik ini juga masih terjadi perubahan dan untungnya masyarakat di sini masih bisa berusaha mempertahankan apa yang kita punya di balik gempuran peradaban," ujarnya, Sabtu (26/9/2026).
Ketika Bali Beach Hotel Berdiri
Salah satu titik penting perubahan wajah Sanur terjadi ketika Bali Beach Hotel berdiri di Jalan Hang Tuah. Hotel yang diresmikan pada era Presiden Sukarno pada 1966 itu menjadi tonggak awal perkembangan pariwisata modern di Sanur.
"Ya, Bali Beach Hotel itu kan tonggak awal pariwisata sebenarnya. Dan itu satu-satunya bangunan tertinggi di Bali sampai saat ini masih, karena itu dibuat tahun 1960-an dan diresmikan tahun 1966. Dan itu adalah satu-satunya ya katakanlah hotel cukup besar lah pada saat itu," jelas Angga.
Pembangunan hotel tersebut tidak lepas dari peran Presiden Soekarno. Saat itu, Soekarno disebut berhasil bernegosiasi dengan Jepang untuk memperoleh dana perampasan perang, serta mendapat bantuan dari Uni Soviet dalam pembangunan hotel.
Mengapa Sanur yang dipilih sebagai lokasi pembangunan hotel tersebut? Angga mengaku belum mengetahui secara pasti. Namun, dia menduga kedekatan Sanur dengan sejumlah tempat yang memiliki kaitan dengan Soekarno menjadi salah satu pertimbangannya.
"Mungkin, satu, karena dia kan punya Istana Tampaksiring. Tampaksiring dan Sanur, Gianyar dan Sanur kan enggak jauh kalau dia melewati. Terus dua, dia juga suka ke rumahnya pelukis Sanur itu, si Le Mayeur. Dia sempat beberapa kali singgah ke Sanur," imbuhnya.
Sejak saat itu, wajah Sanur perlahan berubah. Setelah Bali Beach Hotel berdiri, perkembangan pariwisata semakin meluas. Hotel, resor, hingga restoran mulai bermunculan di Sanur dan daerah-daerah lain di Bali pada awal 1970-an.
Dari Nelayan dan Petani
Sebelum deretan akomodasi wisata hadir, Sanur merupakan kawasan yang banyak dihuni masyarakat nelayan dan petani. Laut dan tanah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya.
"Sanur ini sebenarnya daerah nelayan. Mereka tuh adalah kelompok nelayan, kelompok petani, dan segala macam," tandasnya.
Pertumbuhan pariwisata kemudian perlahan mengubah kehidupan masyarakat. Mata pencaharian bukan satu-satunya yang mengalami perubahan. Lingkungan Sanur pun ikut bertransformasi.
Meski begitu, perubahan tersebut belum sepenuhnya menghapus karakter masyarakat Sanur. Hingga kini, sejumlah bagian dari tatanan masyarakat masih bertahan di tengah perkembangan pariwisata.
Salah satunya adalah keberadaan banjar-banjar di Sanur. Letak banjar disebut tidak mengalami perubahan, begitu pula struktur masyarakat di masing-masing banjar yang masih bertahan hingga saat ini.
"Posisi semua Banjar di Sanur itu kebetulan tidak ada berubah dan warga-warganya tuh masih warga Banjar itu sendiri. Tidak berkurang karena mungkin transmigrasi atau apa, justru bertambah karena terjadi angka kelahiran yang cukup bagus juga," lanjutnya.
Pohon Kelapa yang Perlahan Hilang
Perubahan Sanur juga dapat dilihat dari vegetasi yang dahulu mudah ditemukan di kawasan pesisir.
Pohon kelapa, misalnya. Pada akhir 1970-an hingga 1980-an, pohon kelapa masih banyak ditemukan di kawasan Sanur. Namun, memasuki awal 2000-an, jumlahnya mulai berkurang. Pembangunan kemudian semakin masif sekitar 2005-2010.
Bukan hanya pohon kelapa. Vegetasi lain seperti cemara laut dan pandan laut juga mulai berkurang.
"Hilangnya vegetasi beberapa banyak pohon kelapa di pinggir pantai itu ya karena perubahan pariwisata itu sendiri. Karena adanya hotel barunya, terus meningkatnya akomodasi, dan juga restoran-restoran yang semakin menjamur," tutur Angga.
Sanur pun terus bergerak. Dari kawasan yang kehidupan masyarakatnya lekat dengan laut dan pertanian, kawasan ini berkembang menjadi salah satu destinasi pariwisata di Bali.
Di tengah perubahan itu, sebagian wajah lama Sanur masih berusaha dipertahankan. Banjar tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, sementara ingatan tentang Sanur sebagai kampung nelayan dan petani terus menjadi bagian dari sejarah kawasan tersebut.
Namun, perubahan adalah sesuatu yang sulit dihindari ketika sebuah kawasan terus berkembang.
"Ya memang perubahan itu ada. Jadi enggak bisa dihindari. Suka enggak suka, mau enggak mau ya udah. Itu sih kalau menurut saya," pungkasnya.
(dpw/dpw)