Berbicara mengenai Sanur, orang tentu akan mengingatnya sebagai salah satu kawasan pariwisata yang mendunia. Namun, di balik perkembangan pariwisatanya, Sanur memiliki perjalanan sejarah yang panjang hingga dikenal seperti saat ini.
Penerbit Partikular bersama Sanur Archive mengajak masyarakat mengenal sejarah Sanur secara langsung dengan berjalan kaki dan mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah pada Sabtu (26/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kegiatan bertajuk Jalan-Jalan Sejarah tersebut dimulai dari titik kumpul di Seta Coffee Studio sekitar pukul 07.30 Wita. Sekitar pukul 08.00 Wita, peserta mulai berjalan menuju sejumlah titik yang menyimpan cerita sejarah Sanur.
Destinasi pertama yakni Prasasti Blanjong, prasasti tertua di Bali. Prasasti yang dibuat pada masa pemerintahan Raja Kesari Warmadewa itu memuat dua bahasa, yakni bahasa Jawa Kuno dan Sanskerta dan ditulis dengan aksara Palawa dan Pranegari, aksara dari India Utara.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Pura Kepah. Di lokasi ini, peserta melihat salah satu pohon tua yang masih berdiri. Meski kawasan Sanur terus mengalami perubahan, pohon tersebut masih tetap tumbuh dan menjadi saksi perubahan lingkungan di sekitarnya.
Selanjutnya, peserta menuju Balai Banjar Semawang untuk membahas sejarah kawasan Semawang, termasuk Tari Baris Cina yang menjadi salah satu kesenian khas di wilayah tersebut.
Peserta juga diperkenalkan dengan Pelinggih Ratu Ngurah Agung (Taksu) di Pura Giri Kesuma, Banjar Semawang. Pelinggih tersebut secara khusus didatangi para penari untuk memohon taksu sebelum melakukan pertunjukan.
Peserta kemudian bergeser ke Pura Dalem Semawang yang juga menjadi salah satu peninggalan yang masih berdiri di tengah perkembangan kawasan Sanur.
Terakhir, peserta menuju kawasan Pantai Hyatt untuk membahas perkembangan pariwisata Sanur. Pada sekitar 1960-an, kawasan Sanur masih banyak dihuni masyarakat yang bekerja sebagai nelayan dan dipenuhi vegetasi kelapa.
Seiring perkembangan pariwisata, wajah Sanur pun berubah. Kawasan yang dulunya didominasi aktivitas nelayan kini berkembang menjadi salah satu kawasan pariwisata yang dikenal hingga mancanegara.
Juli Sastrawan, salah satu pendiri Penerbit Partikular, mengatakan kegiatan tersebut digelar agar masyarakat dapat mengenal sejarah Sanur secara langsung, termasuk sejarah yang belum banyak diketahui.
"Jadi, ngenal Sanur tuh nggak cuman sebagai satu tempat wisata atau cuman tahu pantainya, tapi juga tahu kayak sejarah-sejarah penting yang juga bisa jadi pintu masuk untuk mengenal sejarah Bali yang lain," ujarnya usai acara.
Salah satu sejarah yang ingin diperkenalkan melalui kegiatan tersebut adalah sejarah kawasan Semawang. Menurut Juli, sejarah Sanur selama ini lebih banyak dikenal dari kawasan di bagian utara.
"Kayak misal Samawang tadi, aku merasa nggak banyak orang yang tahu soal sejarah-sejarah yang terjadi di Samawang karena memang kebanyakan sejarah yang di Sanur tuh lokasinya ya agak ke utara," jelasnya.
Menurutnya, sejarah Sanur sebenarnya telah banyak ditulis dan dibahas oleh sejumlah penulis. Namun, berjalan langsung ke lokasi membuat peserta dapat melihat langsung tempat bersejarah dan kondisi Sanur saat ini.
"Tapi yang kayak kita jalan, ngelihat perubahan, ngelihat yang masa lalu dengan masa kini tuh juga satu hal yang menarik gitu bagi kita. Makanya kita aktivitasnya ya enggak cuman diskusi buku atau baca buku, tapi juga kayak gerak untuk melihat dan merasakan suara, aroma, dan penglihatan kita soal situasi Sanur hari ini," imbuhnya.
Salah satu peserta, Donni Krisbiyanto (23), asal Denpasar, mengatakan dirinya tertarik mengikuti kegiatan tersebut karena sejak kecil telah cukup dekat dengan kawasan Pantai Sanur.
"Karena kan selama ini aku tumbuh dan besar juga bisa dibilang dekat sama Pantai Sanur dari dan mengalami juga beberapa perubahan Pantai Sanur ya, dari yang kecil, dari pas aku masih kecil, remaja, sampai sekarang itu kerasa banget perubahan di Sanur," ujar pria 23 tahun itu.
Setelah mengikuti kegiatan, Donni mengaku mengenal Sanur lebih dekat lewat sejarahnya. Menurutnya, Sanur bukan hanya kawasan yang dikenal sebagai tempat untuk menikmati suasana santai, tetapi memiliki perjalanan yang panjang.
"Setelah ikut ini jujur banyak banget dapat insight ya. Sanur bukan cuma sekedar tempat untuk slow living-nya kayak orang zaman sekarang, tapi Sanur tuh punya cerita yang ternyata amat sangat menarik," ujarnya.