Surat yang dikirim oleh Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai kepada Belanda dipamerkan di Monumen Perjuangan Rakyat Bali. Surat bertanggal 18 Mei 1946 tersebut berisi penolakan terhadap kehadiran Belanda di Pulau Dewata. "Tentang keamanan di Bali adalah urusan kami," seperti dinukil dari surat tersebut.
Surat dari Ngurah Rai itu merupakan balasan dari surat yang dikirimkan oleh Kapten Infanteri tentara Gajah Merah, Pemerintahan Sipil Hindia Belanda (NICA). Foto surat-surat tersebut dipajang di ruang pameran lantai bawah Monumen Perjuangan Rakyat Bali atau Monumen Bajra Sandhi.
detikBali melali (pelesiran) ke Monumen Bajra Sandhi, Jumat (7/8/2026) lalu. Monumen yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan Bali tersebut berdiri di Lapangan Puputan Niti Mandala, Denpasar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Aneka Cara Museum Menarik Generasi Muda |
Monumen Perjuangan Rakyat Bali diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 14 Juni 2003. Adapun, desain monumen tersebut merupakan karya Ida Bagus Gede Yadnya. Mahasiswa arsitektur Universitas Udayana itu memenangi sayembara pembuatan desain Monumen Bajra Sandhi pada 1981.
Monumen Bajra Sandhi memiliki tinggi 45 meter, 17 gerbang utama, dan 8 pilar. Hal itu merepresentasikan hari kemerdekaan Indonesia yaitu 17 Agustus 1945. Sedangkan, nama Bajra Sandhi berasal dari bentuk bangunan yang jika dilihat dari kejauhan menyerupai genta pendeta Hindu yang dalam bahasa Bali disebut bajra.
Ruang pameran di lantai bawah Monumen Bajra Sandhi, Jumat (7/8/2026). Foto-foto perjuangan rakyat Bali melawan Belanda dipamerkan di ruangan tersebut. Foto: Gangsar Parikesit/detikBali |
Para pelancong bisa belajar terkait sejarah kedatangan Belanda di Pulau Dewata di Monumen Bajra Sandhi. Pengelola monumen menempatkan foto-foto mulai dari pendaratan ekspedisi Belanda di Pantai Sanur pada 14 September 1906, perang puputan (pertempuran habis-habisan) Denpasar, hingga surat penolakan terhadap kehadiran Belanda yang dikirimkan oleh I Gusti Ngurah Rai.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Monumen Perjuangan Rakyat Bali Gede Nova Widiarta menuturkan terdapat 62 foto perjuangan rakyat Pulau Dewata melawan Belanda yang dipamerkan di monumen tersebut. Potret tersebut ada yang asli dan ada pula yang hasil reproduksi. "Kami repro karena gambarnya sudah kusam," paparnya kepada detikBali, Jumat (7/8/2026).
Nova menjelaskan tiket masuk Monumen Bajra Sandhi untuk wisatawan nusantara sebesar Rp 30 ribu. Sedangkan, karcis untuk pelancong mancanegara Rp 100 ribu, mahasiswa Rp 10 ribu, dan pelajar Rp 5 ribu.
Monumen Perjuangan Rakyat Bali buka pukul 08.30 hingga 17.00 Wita. Sedangkan monumen tersebut tutup hari besar atau libur nasional.
Pengunjung bisa melihat diorama di lantai tengah Monumen Bajra Sandhi. Terdapat 33 diorama berdimensi 6 meter persegi. Diorama tersebut bercerita sejarah masa prasejarah, Bali kuno, Bali madya, hingga masa perjuangan kemerdekaan.
Diorama tersebut diletakkan secara melingkar. detikers perlu berputar searah jarum jam untuk mendapatkan gambaran sejarah Pulau Dewata sejak masa prasejarah hingga perjuangan kemerdekaan.
Diorama di Monumen Bajra Sandhi, Jumat (7/8/2026). Terdapat 33 diorama sejarah masa prasejarah, Bali kuno, Bali madya, hingga masa perjuangan kemerdekaan. Foto: Gangsar Parikesit/detikBali |
detikers juga bisa mampir ke lantai atas Monumen Bajra Sandhi melalui tangga melingkar yang letaknya di tengah bangunan. Dari lantai atas tersebut mata bisa memandang sejumlah bangunan yang berada di sekitar Lapangan Niti Mandala seperti Kantor Gubernur Bali dan perkantoran lainnya.
Lapangan Niti Mandala juga menjadi tempat berolahraga warga Denpasar. Setiap Minggu, jalan yang mengelilingi lapangan seluas 13,8 hektare tersebut ditutup untuk kegiatan car free day.
Semilir angin terasa saat berada di lantai atas Monumen Bajra Sandhi. Momen tersebut mengingatkan saat saya berada di lantai atas Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Hal yang berbeda antara lain lantai atas Monumen Perjuangan Rakyat Bali dilengkapi jendela di seluruh sisinya, sedangkan Monas menggunakan besi untuk menjaga keselamatan pengunjung.
Baca juga: Museum Bali: Etalase Kebudayaan Pulau Dewata |
Selain itu, terdapat teropong di lantai atas Monas untuk melihat lebih detail bangunan di sekitar monumen tersebut. Sedangkan, di Monumen Bajra Sandhi tak ada teropong yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk mengamati lebih dekat bangunan di sekitar.
Monumen Bajra Sandhi maupun Monas sama-sama menjadi ikon bagi wisatawan. Para pelancong kerap berfoto dengan latar belakang bangunan tersebut sebagai tanda mereka sudah menjejakkan kaki di Denpasar maupun DKI Jakarta.
Salah satu pengunjung Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Reva Niken Sagita, dapat belajar sejarah di tempat wisata edukasi tersebut. Siswa kelas XI jurusan perhotelan SMK Kertha Wisata Denpasar tersebut mendapat penjelasan terkait histori perjuangan rakyat Pulau Dewata dari pengelola di auditorium.
"Saya juga bisa belajar sejarah rakyat Bali melalui diorama," tutur perempuan berusia 16 tahun tersebut.

