Wisata Ekstrem 'Kayehan Dedari' Buleleng, Ada Air Suci untuk Obat

Wisata Ekstrem 'Kayehan Dedari' Buleleng, Ada Air Suci untuk Obat

Made Wijaya Kusuma - detikBali
Senin, 02 Mei 2022 01:18 WIB
Kayehan Dedari di Desa Nagasepaha, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng
Kayehan Dedari di Desa Nagasepaha, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. (Foto : Made Kusuma Wijaya)
Buleleng -

Bali menyimpan banyak tempat ektrem, mistis dan disakralkan.

Bahkan bagi sejumlah orang, ada tempat di Bali yang masih diyakini memiliki aura magis yang sangat kuat.

Salah satunya Kayehan Dedari yang berlokasi di Desa Nagasepaha, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali.


Lokasinya berada di dasar jurang dengan kedalaman 15 meter tepat bersebelahan dengan sungai Tangis atau lebih dikenal di Bali dengan sebutan Tukad Tangis.

Sebelum sampai di lokasi pengunjung akan disuguhkan dengan pemandangan hamparan sawah dan permukiman warga yang juga merupakan sentra pembuatan kerajinan lukis wayang kaca yang telah menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional di tahun 2020.

"Lokasinya di dasar jurang sebelah Tukad Tangis. Kalau mau ke sana bisa turun menggunakan tangga besi yang kita sudah pasang" ujar I Wayan Sumeken Perbekel Desa Nagasepaha, saat ditemui oleh detikBali dikediamannya, Minggu (1/5/2022).

Wayan Sumeken menambahkan kayehan dedari merupakan mata air suci yang muncul dari tebing tepatnya di bawah pohon jelema yang diyakini bisa digunakan untuk malukat sekaligus sebagai pengobatan.

Mata air suci ini terbilang unik karena muncul dari bawah kayu jelema, disebut kayu jelema karena getahnya berwarna merah layaknya darah manusia.

"Mata air di Kayehan Dedari disucikan oleh masyarakat sekitar sini, banyak yang datang untuk melukat dan pengobatan bagi yang meyakini pengobatan spiritual" imbuhnya.

Berdasarkan penuturan beberapa warga sekitar nama Kayehan Dedari diambil dari kata dasar kayeh (mandi) dan dahar (minum) yang di mana dahulu warga memanfaatkan mata air tersebut untuk keperluan minum dan mandi.

Namun seiring berjalannya waktu penyebutan tersebut berubah menjadi Kayehen Dedari.

"Kayehan Dedari diambil dari kata dasar kayeh dahar. Kayeh artinya tempat pemandian dan dahar artinya minum" jelasnya.

Sementara itu Made Naya salah satu warga Desa Nagasepaha, Buleleng mengaku sering datang ke Kayehan Dedari untuk melukat dan mengambil air untuk keperluan minum.

Ia percaya dengan melukat di Kayehan Dedari bisa mengobati penyakit.

Menurut Naya air dari Kayehan Dedari sangatlah jernih dan tidak lumutan ketika di diamkan dalam waktu yang lama.

Ia menyebut kalau ada pantangan yang harus dihindari ketika berkunjung ke lokasi yakni bagi wanita yang sedang mengalami datang bulan tidak diperkenankan untuk datang ke kawasan tersebut.

"Kalau ke sini bawa canang dan sembahyang lebih dulu baru melukat. Paling ramai orang datang kesini itu pas ada hari suci seperti saraswati atau pagerwesi.

Tujuannya itu macam-macam ada yang hanya untuk melakukan penyucian diri ada juga yang memohon kesembuhan dari penyakit yang diderita" tukas Made Naya.



Simak Video "Memanen Anggur Langsung Dari Kebunnya, Buleleng Bali "
[Gambas:Video 20detik]
(dpra/dpra)