Per 1 Mei, Tarif Retribusi Wisatawan di Kintamani Bakal Turun

Agus Eka - detikBali
Sabtu, 23 Apr 2022 18:01 WIB
Panorama alam dengan kaldera Gunung Batur di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Spot kian menarik saat matahari terbit.
Panorama alam dengan kaldera Gunung Batur di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Spot kian menarik saat matahari terbit. (Foto: Agus Eka/DetikBali)
Bangli -

Besaran retribusi kawasan pariwisata Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali akan disesuaikan kembali oleh Pemkab Bangli. Saat ini pemerintah setempat tengah merevisi Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 37 Tahun 2019 terkait penurunan tarif retribusi tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangli, I Wayan Sugiarta menegaskan, penurunan tarif retribusi kawasan Kintamani rencananya berlaku mulai 1 Mei 2022.

"Penyesuaian tarif itu dibahas saat pertemuan pemerintah dengan pelaku wisata di Bangli," ujar Sugiarta, Sabtu (23/4/2022).


Sebelumnya, Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta dan jajarannya sudah bertemu dengan pelaku wisata dan pengurus PHRI Bangli pada Rabu (20/4/2022) lalu. Dalam pertemuan tersebut muncul beberapa masukan, salah satunya tentang retribusi kawasan Kintamani.

Sebelum nilai retribusi yang baru bisa berlaku, pemerintah terlebih dahulu mengklasifikasikan wisatawan menjadi tiga. Yakni wisatawan mancanegara (wisman), domestik dan warga lokal Bali.

Sugiarta memaparkan, pemerintah merancang besaran tarif sesuai dengan klasifikasi wisatawan. Namun penurunan ini tampaknya hanya akan dirasakan wisatawan domestik. Khususnya warga lokal Bali. Sebab besaran tarif retribusi untuk Wisman masih tetap, yakni Rp 50 ribu.

Sedangkan wisatawan domestik turun menjadi Rp 20 ribu dari sebelumnya Rp 25 ribu. Untuk warga lokal Bali dikenakan Rp 10 ribu dari sebelumnya Rp 25 ribu. "Sekarang besaran tarif lama masih berlaku. Target Mei ini bisa berlaku yang baru," tegas mantan Kadis Perpustakaan Bangli ini.

Bagi dia, tarif retribusi tidak memengaruhi tingkat kunjungan wisatawan. Ia menyebut angka kunjungan justru stabil rata-rata antara 300-600 orang per hari. Bahkan semakin ramai saat akhir pekan dan hari libur.

"Jadi ada banyak destinasi. Ada coffee shop, sunrise view, restoran, home stay, camping-glamping, hotel. Jadi tergantung pelancong ke mana. Antara jumlah yang datang ke kedai kopi dengan yang menginap tidak bisa sama. Di satu tempat sepi lalu dikatakan (kunjungan) menurun, itu tidak bisa," pungkasnya.



Simak Video "Anjing Kintamani, Anjing Ras Asli Indonesia yang Cerdas dan Tangkas, Bali"
[Gambas:Video 20detik]
(kws/kws)