Suhu udara di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), menembus 35 derajat Celsius setiap hari akibat kemarau panjang. Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Bima menggelar salat istisqa untuk memohon turunnya hujan.
Salat istisqa digelar di halaman kantor Wali Kota Bima, Rabu (14/10/2026). Salat tersebut dihadiri langsung Wali Kota Bima A Rahman (Aji Man), seluruh kepala OPD, kabag, camat, lurah, dan ASN se-Kota Bima.
Selain memohon hujan, salat istisqa tersebut juga digelar untuk meminta keberkahan bagi warga Kota Bima.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pelaksanaan salat istisqa hari ini menjadi bentuk ikhtiar kita bersama dalam menghadapi kondisi kekeringan akibat kemarau yang terjadi," kata Aji Man.
Ia mengatakan kondisi kekeringan membuat kebutuhan air semakin dirasakan. Menurutnya, manusia memiliki keterbatasan meski berbagai perencanaan, pembangunan fasilitas, dan upaya telah dilakukan. Turunnya hujan, kata dia, tetap berada dalam kuasa yang Maha Kuasa.
"Dengan salat dan doa bersama ini, kita memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan yang membawa manfaat kesuburan tanah dan keberkahan," akun Aji Man.
Aji Man juga mengajak seluruh jajaran Pemkot Bima menjadikan momentum salat istisqa untuk memperkuat persaudaraan dan solidaritas. Ia meminta kepedulian terhadap warga yang terdampak kekeringan ditingkatkan.
"Selain sebagai bentuk ibadah, salat Istisqa juga menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian, kebersamaan dan keimanan dalam menghadapi berbagai kondisi yang terjadi di tengah masyarakat Kota Bima," tandasnya.
Sementara itu, BMKG Bima melaporkan wilayah Bima tengah menghadapi suhu udara panas akibat kemarau. Suhu udara rata-rata secara umum bisa mencapai 33 hingga 35 derajat Celsius setiap hari.
"Hari ini saja, suhunya tembus 34 derajat Celcius," ungkap forecaster BMKG Bima, Chelsia, dikonfirmasi detikBali.
Chelsia menjelaskan suhu terik tersebut terbilang wajar karena wilayah Bima sedang dalam musim kemarau. Penyebab utamanya adalah posisi matahari yang saat ini berada di sekitar selatan ekuator, sehingga sinarnya terasa lebih menyengat.
"Selain itu, langit yang sangat minim awan membuat panas matahari langsung memapar bumi tanpa penghalang. Dari segi analisis cuaca yang lebih luas, kondisi angin dan iklim global saat ini juga tidak mendukung pembentukan awan hujan," pungkasnya.