Aktivitas pendakian di Gunung Tambora, Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), ditutup sementara sejak 1 September 2026. Penutupan dilakukan oleh Balai Taman Nasional (BTN) Tambora untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Karhutla akhir-akhir ini kerap terjadi di sejumlah wilayah.
"Penutupan sementara dilakukan sebagai langkah mitigasi dan pencegahan meningkatnya risiko kebakaran hutan pada musim kemarau, sekaligus untuk menjamin keselamatan pengunjung serta perlindungan ekosistem Taman Nasional Tambora," ungkap Kepala Balai TN Tambora, Abdul Aziz Bakry, Rabu (2/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penutupan pendakian Gunung Tambora dilakukan berdasarkan Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal (Dirjen) Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Nomor SE.4/KSDAE/SKSDAE/KSA.02.02/B/08/2026 tentang Penutupan Sementara dan Pembukaan Secara Terbatas Wisata Pendakian Gunung di Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA).
Abdul menegaskan seluruh jalur pendakian di kawasan Gunung Tambora ditutup, meliputi jalur pendakian Pancasila, jalur offroad Doro Canga, jalur kawidna To'i, dan jalur offroad Piong.
"Selama masa penutupan, seluruh aktivitas pendakian melalui keempat jalur tersebut tidak diperkenankan dan petugas akan meningkatkan pengamanan, pengawasan kawasan, patroli pencegahan karhutla serta pengendalian akses pada pintu-pintu masuk pendakian," terang Abdul.
Abdul meminta masyarakat, calon pendaki, operator wisata, pemandu, dan porter serta seluruh pelaku usaha jasa wisata di sekitar TN Tambora agar mematuhi kebijakan penutupan sementara serta turut mendukung upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
"Pembukaan kembali jalur pendakian akan ditetapkan berdasarkan hasil evaluasi tingkat risiko kebakaran hutan, perkembangan kondisi musim kemarau, kondisi lapangan, serta arahan lebih lanjut dari Direktorat Jenderal KSDAE," ujar Abdul.
Sebagai informasi, TN Tambora adalah kawasan pelestarian alam seluas 71.645,64 hektare (Ha) yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Cagar Biosfer Dunia. Kawasan ini menjadi habitat berbagai satwa liar, seperti kakaktua kecil jambul kuning, nuri kepala merah, kirik-kirik australia, dan rusa timor.