Puluhan warga Desa Waekokak, Kecamatan Aesesa, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih bertahan mengungsi di hutan. Kondisi ini sudah dialami selama dua pekan.
"Kami sudah dua minggu di sini," ujar salah satu pengungsi, Marsiana Hawa (63), saat ditemui di pos pengungsian setempat, Minggu (30/8/2026).
Hawa menjelaskan berbagai kebutuhan hidup, seperti beras, obat-obatan, minyak goreng, popok, air minum, air bersih, dan susu untuk bayi balita terpenuhi selama di mengungsi. Bantuan tersebut mereka dapatkan dari sukarelawan dan simpatisan. "Pelayanan kesehatan dari keuskupan dan pemerintah juga ada," jelas Hawa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, guru SDN Towak Mboaloing, Aloysius Mberong, mengungkapkan warga yang masih bertahan dalam pos pengungsian tersebut berjumlah 15 kepala keluarga (KK) dan 61 jiwa.
Terdapat dua anak taman kanak-kanak (TK), lima siswa sekolah dasar (SD), dua siswa sekolah menengah pertama (SMP), dan tiga siswa sekolah menengah pertama (SMA). Selain itu, terdapat sejumlah ibu hamil, bayi-balita, dan lanju usia (lansia).
Menurut Aloysius, mereka mengungsi ke lokasi tersebut sejak awal gempa bumi M 7,7 pada Sabtu (15/8/2026). Di lokasi itu, mereka mendirikan posko secara mandiri menggunakan terpal.
"Awal-awal itu kami bawa terpal sendiri, tikar, bantal, maupun alat penampung air minum. Puji Tuhan mulai masuk tanggal 17 Agustus 2026, mulai ada bantuan sembako dari sukarelawan yang berperikemanusiaan dan juga Pemda Nagekeo," terang Aloysius.
Di lain sisi, siswa SD yang bertahan di pos tersebut sudah mendapatkan pemulihan mental seperti menari, olahraga, menyanyi dan bermain. Guru juga sering mendatangi setiap pos untuk mengecek kondisi siswa dan juga proses pembelajarannya.
Jumlah Pengungsi di Nagekeo Menurun
Kapolres Nagekeo, AKBP Rachmat Muchamad Salihi, mengatakan jumlah pengungsi saat ini mengalami penurunan. Sebagian masyarakat telah memilih kembali ke rumah masing-masing seiring dengan situasi getaran dua hari terakhir sudah tidak dirasakan sehingga masyarakat merasa kondisi sudah lebih aman.
Meski jumlah menurun, kebutuhan dasar para pengungsi masih tetap terpenuhi melalui dukungan dapur lapangan dan water treatment dari Brimob. Selain itu, Posko Polres Nagekeo setiap malam masih melaksanakan kegiatan pelayanan kepada pengungsi melalui nonton bersama dengan menyediakan snack dan minuman hingga pukul 23.00 Wita sebagai bentuk dukungan moril dan pelayanan selama berada di lokasi pengungsian.
"Berdasarkan hasil koordinasi dengan wakapolres, sampai dengan saat ini belum terdapat keluhan dari pengungsi terkait kekurangan logistik maupun kebutuhan dasar lainnya. Situasi di lokasi pengungsian secara umum masih aman dan terkendali," jelas Rachmat.
Rachmat mengungkapkan beberapa lokasi pengungsian seperti di Desa Dadi Wuhu, termasuk pengungsian di Gereja Stella Maris, sudah kosong, Masyarakat yang mengungsi telah diarahkan oleh pemerintah daerah untuk kembali ke rumah masing-masing.
Menurut Rachmat, sesuai hasil rapat Forkopimda, dalam pelaksanaan masa tanggap darurat yang diperpanjang selama dua minggu terhitung mulai 29 Agustus 2026, pendistribusian bantuan selanjutnya akan dilakukan oleh pemerintah daerah melalui mekanisme dropping langsung kepada masyarakat. Pendistribusian nmelibatkan pihak kecamatan yang mengetahui betul masing-masing warganya.
Adapun perkembangan jumlah pengungsi di Posko Bedikari, pada 29 Agustus 2026 tercatat sebanyak 550 orang, sedangkan per hari ini jumlah pengungsi menjadi 349 orang. Pelayanan kebutuhan pengungsi di Posko Bedikari sampai saat ini tetap berjalan. Menurut Rachmat, hari ini terdapat permintaan kebutuhan khusus berupa kasur bayi dari ibu-ibu pengungsi, dan telah dipenuhi sebanyak lima unit kasur bayi sesuai dengan jumlah bayi yang membutuhkan.
(iws/iws)