detikBali

Pengungsi Pilih Pulang, Polres Nagekeo: Situasi Gempa Sudah Kondusif

Terpopuler Koleksi Pilihan

Pengungsi Pilih Pulang, Polres Nagekeo: Situasi Gempa Sudah Kondusif


Sui Suadnyana, Yufengki Bria - detikBali

Tenda pengungsian Lapangan Berdikari Danga, Kecamatan Aesesa, Nagekeo, NTT, tampak sepi, Sabtu (29/8/2026) malam. Warga memilih pulang karena tak mendapatkan bantuan. (Yufengki Bria/detikBali)
Foto: Tenda pengungsian Lapangan Berdikari Danga, Kecamatan Aesesa, Nagekeo, NTT, tampak sepi, Sabtu (29/8/2026) malam. (Yufengki Bria/detikBali)
Nagekeo -

Sekitar 10 tenda pengungsian di Lapangan Berdikari Danga, Kecamatan Aesesa, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), tampak sepi, Sabtu (29/8/2026) malam. Hal itu terjadi karena sebagian besar warga memilih pulang ke rumahnya.

Pos yang sebelumnya menampung lebih dari 600 orang dari Desa Tonggurambang, Marapokot, dan Nangadhero, itu kini sepi. Hanya beberapa tenda saja yang masih ada pengungsi.

"Sekarang masyarakat pada bubar dan pulang ke rumah," ujar salah satu pengungsi, Maria Gorety Nidja, saat ditemui di pos setempat, Sabtu malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maria menuturkan warga mulai meninggalkan pengungsian sejak dua hari lalu. Sementara Maria tetap bertahan di pengungsian dengan anak-anaknya dan beberapa warga. Maria memilih bertahan di pos pengungsian lantaran rumahnya terdampak gempa cukup parah.

Kapolres Nagekeo, AKBP Rachmat Muchamad Salihi, mengatakan jumlah pengungsi saat ini mengalami penurunan. Sebagian masyarakat telah memilih kembali ke rumah masing-masing seiring dengan situasi getaran dua hari terakhir sudah tidak dirasakan sehingga masyarakat merasa kondisi sudah lebih aman.

ADVERTISEMENT

Meski jumlah menurun, kebutuhan dasar para pengungsi masih tetap terpenuhi melalui dukungan dapur lapangan dan water treatment dari Brimob. Selain itu, Posko Polres Nagekeo setiap malam masih melaksanakan kegiatan pelayanan kepada pengungsi melalui nonton bersama dengan menyediakan snack dan minuman hingga pukul 23.00 Wita sebagai bentuk dukungan moril dan pelayanan selama berada di lokasi pengungsian.

"Berdasarkan hasil koordinasi dengan wakapolres, sampai dengan saat ini belum terdapat keluhan dari pengungsi terkait kekurangan logistik maupun kebutuhan dasar lainnya. Situasi di lokasi pengungsian secara umum masih aman dan terkendali," jelas Rachmat.

Rachmat mengungkapkan beberapa lokasi pengungsian seperti di Desa Dadi Wuhu, termasuk pengungsian di Gereja Stella Maris, sudah kosong, Masyarakat yang mengungsi telah diarahkan oleh pemerintah daerah untuk kembali ke rumah masing-masing.

Menurut Rachmat, sesuai hasil rapat Forkopimda, dalam pelaksanaan masa tanggap darurat yang diperpanjang selama dua minggu terhitung mulai 29 Agustus 2026, pendistribusian bantuan selanjutnya akan dilakukan oleh pemerintah daerah melalui mekanisme dropping langsung kepada masyarakat. Pendistribusian melibatkan pihak kecamatan yang mengetahui betul masing-masing warganya.

Adapun perkembangan jumlah pengungsi di Posko Bedikari, pada 29 Agustus 2026 tercatat sebanyak 550 orang, sedangkan per hari ini jumlah pengungsi menjadi 349 orang. Pelayanan kebutuhan pengungsi di Posko Bedikari sampai saat ini tetap berjalan. Menurut Rachmat, hari ini terdapat permintaan kebutuhan khusus berupa kasur bayi dari ibu-ibu pengungsi, dan telah dipenuhi sebanyak lima unit kasur bayi sesuai dengan jumlah bayi yang membutuhkan.



(iws/iws)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads