Gempa bumi M 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), memaksa Siti Suliati bersama sejumlah warga lainnya mengungsi ke tempat aman.
Pagi tadi, wajah janda tersebut murung dan semrawut di sebuah tenda BNPB yang hanya beralaskan terpal. Ia tak banyak bicara dan pikirannya kosong. Siti mengenang rumahnya yang sudah hancur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Siti, rumah itu hasil jerih payah suaminya sebelum meninggal pada tiga tahun lalu. Suaminya merupakan pensiunan TNI. Mereka memiliki dua anak, pertama sedang bekerja di luar negeri. Sedangkan anak kedua selama ini tinggal bersama Siti.
Matanya sesekali melirik ke arah sekelompok anak-anak yang sedang asyik bermain bola dan ayunan di samping pos pengungsian, sembari menopang dagunya.
Perempuan berusia 57 tahun itu merupakan warga Desa Nangadero, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT. Hampir dua pekan di pos pengungsian, guncangan gempa masih terbayang-bayang di benak perempuan berjilbab itu.
Rasa takut dan trauma sulit diatasi. Siti benar-benar merasakan guncangan dahsyat saat gempat terjadi. Dia juga menyaksikan langsung rumahnya ambruk dari jarak sekitar 10 meter ketika menyelamatkan diri.
Desa Nangadhero, Marapokot, dan Tonggurambang, itu letaknya dekat dengan pantai utara Nagekeo, yang menjadi episentrum gempa pada Sabtu (15/8/2026) lalu.
"Aduh masih sangat trauma karena kami yang terdampak langsung di Nangadhero itu. Kami yang menyaksikan langsung waktu gempanya lalu air laut naik, kami melihat sendiri," tutur Siti saat ditemui di pos pengungsian Kelurahan Lape, Kecamatan Aesesa, Kamis (27/8/2026).
Hingga saat ini, Siti dan ratusan pengungsi asal desanya itu belum memberanikan diri untuk pulang ke kampungnya. Sebab, mereka masih trauma akan gempa susulan hingga air laut naik.
"Untuk sementara kami belum berani pulang Pak. Guncangan dan air laut naik semacam selalu ada dalam bayangan saya, mereka di sini juga sama. Kami belum berani pulang," cerita Siti dengan wajah tampak sedih bercampur trauma.
Di lain sisi, ingin pulang ke rumah menjadi kerinduan para pengungsi. Namun, gempa susulan yang terus terjadi terpaksa mengurungkan niat. Masyarakat tiga desa itu selama ini menggantungkan hidup sebagai nelayan. Hasil melaut itu kemudian dijual ke Mbay, Ibu Kota Nagekeo.
"Sebagian besar sebagai nelayan. Ada juga yang jadi petani di sawah. Tapi kalau begini kami tidak kerja, uang mau dapat dari mana," kata Siti.
Pengungsi lainnya, Nunung, juga merasakan trauma yang sama. Setiap kali terjadi gempa susulan, dia selalu takut, bahkan langsung berlari keluar dari pos pengungsian.
"Masih takut sampai sekarang. Tadi malam ada sekitar empat kali gempa susulan, itu saya takut sekali karena masih trauma dengan gempa M 7,7 yang lalu itu," kata perempuan berjilbab hitam itu.