detikBali

45 dari 60 Desa Wisata di Lombok Barat Tak Lagi Berkembang

Terpopuler Koleksi Pilihan

45 dari 60 Desa Wisata di Lombok Barat Tak Lagi Berkembang


M Zahiruddin - detikBali

Sejumlah pengunjung berada di wisata alam Pusat rekreasi Masyarakat Sesaot di Desa Wisata Sesaot, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, NTB, Rabu (15/1/2025). Desa Wisata Sesaot yang pernah mendapatkan penghargaan 50 besar nasional Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) Tahun 2021 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI tersebut menyuguhkan pemandangan alam dengan mata air sungai yang jernih yang dikelola oleh Bumdes Sesaot dengan menerapkan konsep community based tourism atau yang biasa disebut sebagai pariwisata yang berbasis masyarakat di mana masyarakat Desa Wisata Sesaot ikut dilibatkan secara aktif dalam pembangunan desa. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/foc.
Desa Sesaot, Kecamatan Narmada, salah satu desa wisata di Lombok Barat, NTB. (Foto: ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDI)
Lombok Barat -

Sebanyak 45 dari 60 desa wisata di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), kini tak lagi masuk kategori berkembang. Padahal, seluruh desa tersebut telah ditetapkan sebagai desa wisata sejak 2022.

Sekretaris Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) Lombok Barat Muhammad Iwan mengatakan saat ini hanya 15 desa wisata yang masih aktif dan masuk kategori berkembang.

Menurut Iwan, status berkembang sebuah desa wisata dinilai dari sejumlah aspek. Di antaranya kelembagaan pengelola wisata, keberadaan paket wisata, promosi, hingga dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kenapa dikatakan berkembang, karena kelembagaannya itu masih aktif, kemudian ada paket wisatanya masih jalan, emintasnya memenuhi atau memadai, kemudian promosi di medsosnya juga aktif, lalu dampak ekonomi dari kegiatan mereka sudah terasa," kata Iwan, Senin (24/8/2026).

ADVERTISEMENT

Iwan mengatakan 45 desa wisata lainnya belum memenuhi sejumlah indikator tersebut. Salah satu persoalan utamanya adalah keterbatasan sumber daya manusia (SDM) serta belum adanya konsep atau ciri khas wisata yang kuat di masing-masing desa.

"Desa wisata tapi sumber dayanya sudah tidak ada di situ. Nah, ini saya rasa regenerasinya perlu ditingkatkan," ujarnya.

Menurut Iwan, Disparekrafpora Lombok Barat terus mendorong 45 desa tersebut agar kembali aktif. Salah satunya melalui pelatihan untuk meningkatkan kapasitas SDM pengelola desa wisata.

"Kami selalu dorong mereka supaya bisa lebih eksis lagi melalui pelatihan-pelatihan, bisa kerja sama dengan pihak swasta," katanya.

Di sisi lain, Iwan mengungkapkan tidak ada desa wisata di Lombok Barat yang meraih penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2026. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya terdapat desa wisata dari Lombok Barat yang mengikuti ajang tersebut.

"Untuk ADWI kita belum dapat ya," ungkapnya.

Sebagai gantinya, Disparekrafpora Lombok Barat mengusulkan enam desa wisata yang masih aktif untuk mengikuti Wonderful Indonesia Award (WIA) 2026 yang digelar Kementerian Pariwisata.

Keenam desa tersebut yakni Desa Sedau, Desa Lembar Selatan, Desa Kuripan Selatan, Desa Lebah Sempage, Desa Sesaot, dan Desa Senggigi.

"Ini sekarang dalam proses kurasi," tandasnya.



(dpw/dpw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads