detikBali

Revitalisasi Dusun Sade, Budayawan Desak Pemerintah Duduk Bersama Tokoh Adat

Terpopuler Koleksi Pilihan

Revitalisasi Dusun Sade, Budayawan Desak Pemerintah Duduk Bersama Tokoh Adat


Ahmad Viqi - detikBali

Warga mengais puing sisa barang-barang mereka yang terbakar di Desa Adat Sade, Rembitan, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Minggu (23/8/2026). Kebakaran yang terjadi sekitar pukul 20.00 Wita Minggu (22/8) menghanguskan 120 bangunan di Desa Adat Sade yang sebagian besar menggunakan material kayu, bambu, bedek serta beratap ilalang dan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/wsj.
Warga mengais puing sisa barang-barang mereka yang terbakar di Desa Adat Sade, Rembitan, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Minggu (23/8/2026). (Foto: ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDI)
Lombok Tengah -

Budayawan Lombok, Lalu Putria, mendesak pemerintah untuk segera merevitalisasi Dusun Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ia mendorong pemerintah agar duduk bersama tokoh adat Sade sebelum merekonstruksi tata ruang kampung yang ludes akibat kebakaran tersebut.

"Pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat wajib duduk bersama dengan para tokoh adat di Dusun Sade untuk menyusun langkah rekonstruksi seperti apa," ujar Putria saat ditemui detikBali di kediamannya, Senin (24/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Putria mengingatkan agar penanganan pascakebakaran tidak sampai mengubah tatanan visual dan identitas budaya di Dusun Adat Sade. Menurutnya, perbaikan harus mengembalikan wajah Sade seperti sebelum terbakar.

"Jangan sampai situasi sekarang ini membuat mereka membangun rumah dengan model-model modern. Wajib dikembalikan ke bentuk sebenarnya seperti sebelum terbakar," tegas Putria.

ADVERTISEMENT
Budayawan Lombok Tengah, Lalu Putria. (Foto: Ahmad Viqi/detikBali)Budayawan Lombok Tengah, Lalu Putria. (Foto: Ahmad Viqi/detikBali)

Menurut Putria, pemulihan Dusun Adat Sade bukan sekadar urusan membangun rumah warga. Sade, dia berujar, merupakan identitas kebudayaan Suku Sasak Sekaligus daya tarik wisata di Lombok yang penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) signifikan.

"Kalau mau Lombok semakin ramai dikunjungi wisatawan mancanegara maupun nusantara, Sade harus dikembalikan seperti semula. Kita harus sadar, kalau tidak ada Sade, Kuta tidak akan seramai ini dan tamu tidak akan menginap di Mandalika," ujarnya.

Selain bangunan fisik, kebakaran tersebut juga melahap berbagai benda pusaka dan harta benda bersejarah milik warga. Putria berharap masyarakat Sasak semakin ketat menjaga artefak budaya yang tersisa agar tidak punah ditelan zaman.

"Benda-benda ini yang tidak bisa dikembalikan mau kita bilang apa. Tetapi paling tidak kepada seluruh masyarakat Sade, benda-benda itu kita jaga dengan baik. Supaya jangan punah," pungkasnya.

Diketahui, kebakaran hebat terjadi di Desa Adat Sade, Lombok Tengah, pada Sabtu (22/8) malam. Kebakaran mengakibatkan rumah-rumah adat beratap ilalang di kampung adat tertua di Lombok itu kini rata dengan tanah.

Pemkab Lombok Bakal Evaluasi Material Rumah Adat Sade

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah mencatat kebakaran tersebut menghanguskan 75 rumah (sebelumnya disebut 129 rumah) dan 69 art shop (toko seni) milik warga. Selain itu, sejumlah fasilitas adat dan fasilitas umum juga ikut terdampak seperti masjid, berugak hingga satu lumbung alang-alang.

Sebelumnya, Pemkab Lombok Tengah sendiri mulai memikirkan pola pemulihan pascakebakaran di Dusun Adat Sade. Pemkab juga bakal mengevaluasi penggunaan atap ilalang pada bangunan adat tersebut dengan alasan mudah terbakar.

"Infrastruktur ini akan menjadi pelajaran kita bersama. Apakah ilalang ini akan kita pakai sebagai atap (lagi) atau bagaimana," kata Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri saat meninjau lokasi kebakaran, Minggu (23/6).

Pathul mengakui Dusun Adat Sade selama ini menjadi salah satu cagar budaya di Lombok yang ramai dikunjungi wisatawan. Namun, dia menilai material dan tata letak bangunan adat tersebut rentan kebakaran. Meski begitu, dia mengakui perlunya diskusi publik sebelum merevitalisasi dusun adat tersebut.

"Karena ini adalah warisan yang kita dapatkan dari generasi kita dari berpuluh-puluh tahun yang lalu. Ini butuh diskusi publik untuk menangani lebih lanjut," imbuh Ketua DPD Partai Gerindra NTB itu.



(iws/iws)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads