Ada beberapa kabar terpopuler di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satunya, seorang relawan kemanusiaan asal Jakarta meninggal dunia saat menyalurkan bantuan untuk korban gempa di Manggarai Timur.
Berikutnya, korban meninggal dunia akibat terbakarnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Putri Yasmin bertambah. Ardiyansyah (37), meninggal dunia setelah menjalani perawatan selama delapan hari di RSUD Patut Patuh Patju (Tripat), Lombok Barat.
Di Dompu, NTB, juara lomba lari 10 kilometer di Kecamatan Kilo, hanya mendapat hadiah tiga gelas kaca. Tak terima dengan hadiah tersebut, orang tua peserta mengamuk hingga terlibat adu mulut dengan panitia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jalur pendakian di Gunung Tambora, NTB, kembali tercoreng. Selain 13 pendaki kepergok memetik bunga edelweis dan membuang sampah sembarangan, ternyata satu orang lainnya juga ditemukan membawa narkotika jenis sabu saat hendak mendaki.
Berikut rangkuman berita terpopuler selama sepekan terakhir dalam rubrik Nusra Sepekan di detikBali.
Relawan Gempa Meninggal Dunia Saat Antar Bantuan
Satu relawan kemanusiaan asal Jakarta bernama Ahmad Zaki Ali (42) meninggal dunia saat menyalurkan bantuan di Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, NTT, Jumat (21/8/2026). Zaki meninggal diduga mengalami serangan jantung akibat kelelahan.
Deputi Operasi dan Siaga Basarnas, Mayjen TNI (Mar) Edy Prakoso mengungkapkan Zaki meninggal dunia saat dalam perjalanan distribusi bantuan logistik kepada terdampak gempa tersebut. Saat itu, Zaki dan rombongan dalam perjalanan dari Reo, Kabupaten Manggarai menuju Lamba Leda Utara. Reo dan Lamba Leda Utara termasuk dua wilayah terdampak parah gempa bumi di Flores.
"Pada saat kejadian yang bersangkutan dalam rangka pendistribusian logistik dari Reo menuju Lamba Leda," kata Edy, Sabtu (22/8/2026).
Dalam perjalanan tersebut, pendiri Yayasan Gerak Bareng itu merasa kondisi kesehatannya kurang baik. Zaki pun minta rekannya untuk menghentikan kendaraan angkut logistik yang mereka tumpangi. Korban minta rekannya untuk menolongnya.
"Di perjalanan beliau merasa kondisinya kurang baik sehingga menyampaikan kepada rekannya menghentikan kendaraan logistik tersebut untuk dibantu karena ingin melepaskan jaket maupun helm," jelas Edy.
Rekannya mencoba menolongnya, tapi Zaki kemudian tak sadarkan diri. Dia dibawa ke Puskesmas Dampek dan dinyatakan sudah meninggal dunia saat tiba di puskesmas tersebut.
"Rekannya membantu tapi korban tidak sadarkan diri dan dibawa ke puskesmas terdekat yaitu di Dempak (Dampek). Pada saat pemeriksaan dari dokter di Dempak korban dinyatakan meninggal dunia," terang Edy.
Tim SAR gabungan telah mengevakuasi Zaki ke Labuan Bajo menggunakan helikopter Dauphin milik Basarnas, Sabtu pagi. Korban selanjutnya diterbangkan ke Jakarta.
"Sehingga pada hari ini kita mengantarkan almarhum dari Lambaleda menuju Labuan bajo yang nantinya akan kita berangkatkan menuju Jakarta di kediaman," tandas Edy.
Korban KMP Putri Yasmin Meninggal Usai Dirawat 8 Hari
Satu korban Kapal Motor Penumpang (KMP) Putri Yasmin, Ardiyansyah (37), meninggal dunia setelah menjalani perawatan selama delapan hari di RSUD Patut Patuh Patju (Tripat), Lombok Barat. Warga Desa Gelogor, Kecamatan Kediri, itu meninggal pada Rabu (19/8/2026) sekitar 16.45 Wita.
Ardiyansyah meninggal akibat gagal napas yang dipicu pneumonia aspirasi setelah banyak air laut masuk ke paru-parunya saat insiden KMP Putri Yasmin terbakar di perairan Sekotong.
Dokter yang menangani Ardiyansyah, dr Ni Nyoman Ayu Suciarini, mengatakan air laut yang masuk dalam jumlah banyak membuat paru-paru korban dipenuhi cairan sehingga mengganggu proses pertukaran oksigen.
"Paru-parunya itu seperti terbenam dipenuhi air. Jadinya pertukaran oksigen terganggu. Air laut itu menarik semua cairan yang ada ke dalam lapisan alveoli. Itu sel-sel di paru-paru yang fungsinya pertukaran oksigen," jelas Ayu, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut kemudian menyebabkan kadar oksigen dalam darah korban turun drastis hingga mengalami gagal napas atau respiratory failure.
"Cairan dan sel darah putih memenuhi kantong udara alveolus. Akibatnya oksigen tidak bisa masuk ke darah. Kemudian korban mengalami gagal nafas atau Respiratory Failure. Ini penyebab utama kematiannya," jelas Ayu.
Gagal napas yang dialami Ardiyansyah kemudian memicu komplikasi pada sejumlah organ tubuh, salah satunya ginjal.
Ayu menjelaskan ketika kadar oksigen dalam darah turun drastis, ginjal ikut kekurangan pasokan oksigen. Kondisi tersebut dapat menyebabkan sel-sel ginjal mengalami kerusakan hingga berujung pada gagal ginjal akut.
"Untuk kompensasi gagal napas juga, tubuh melepas hormon stres. Pembuluh darah menyempit. Aliran darah ke ginjal jadi berkurang drastis," terangnya.
Selain itu, kandungan garam dalam air laut yang masuk ke tubuh korban membuat ginjal harus bekerja lebih keras untuk menyaring kelebihan garam.
"Ini khas air laut. Garam yang tertelan itu masuk ke paru dan masuk ke dalam darah. Darah jadi terlalu asin atau kental, kemudian ginjal dipaksa kerja keras menyaring garam berlebih. Lama-lama terjadi overload, yang akhirnya mengakibatkan gagal ginjal," kata Ayu.
Juara Lomba Lari 10K Cuma Dapat 3 Gelas, Ortu Ngamuk
Juara lomba lari 10 kilometer di Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu, NTB, hanya mendapat hadiah tiga gelas kaca. Tak terima dengan hadiah tersebut, orang tua peserta mengamuk hingga terlibat adu mulut dengan panitia.
Aksi protes itu terjadi di Kantor Camat Kilo pada Selasa (18/8). Video kejadian tersebut kemudian viral di media sosial.
Dalam video yang beredar, seorang pria yang diketahui bernama Ibrahim memprotes hadiah yang diterima anaknya. Anak Ibrahim diketahui menjadi juara 1 dalam lomba lari yang digelar untuk memeriahkan HUT ke-81 RI tersebut.
Ibrahim tidak terima anaknya yang menjadi juara hanya diberi tiga buah gelas kaca. Padahal, sebelumnya panitia penyelenggara mengumumkan total hadiah sebesar Rp 2 juta untuk para juara, baik kategori laki-laki maupun perempuan.
"Lari kemarin tidak masuk akal, cuma hadiah gelas," kata pengunggah video yang dilihat detikBali Rabu (19/8/2026).
Orang tua peserta lomba kemudian menduga hadiah yang disediakan telah ditilap oleh panitia penyelenggara. Sebab, hadiah uang tunai yang dijanjikan dalam pengumuman tidak direalisasikan.
"Masa cuma dikasih gelas tiga biji, tidak sesuai dengan yang dijanjikan," ujarnya.
Dalam video tersebut, Ibrahim tak hanya melontarkan protes. Dia sempat melemparkan gelas kaca ke arah Camat Kilo dan panitia.
Beruntung, lemparan tersebut tidak tepat sasaran. Ibrahim kemudian kembali mengambil pecahan kaca dan mengarahkannya ke para panitia.
Melihat kemarahan Ibrahim, Camat Kilo Rusdi pun naik pitam. Rusdi memegang kerah baju Ibrahim hingga adu mulut antara keduanya tak terhindarkan.
Rusdi membenarkan kejadian tersebut. Dia mengaku terlibat adu mulut dengan orang tua peserta untuk memberikan klarifikasi terkait ketidaksesuaian hadiah yang dijanjikan.
"Saya pegang baju dia itu dengan tujuan untuk meredakan emosinya dia. Bukan apa-apa," jelas Rusdi.
Menurut Rusdi, ketidaksesuaian hadiah terjadi karena miskomunikasi antar panitia berbagai mata lomba. Uang untuk lomba lari maraton disebut telah digunakan untuk membeli hadiah lomba lain.
"Berkaitan dengan itu, untuk hadiah memang sudah direncanakan oleh seksi olahraga. Tapi ternyata ada miss komunikasi antara panitia dengan Bendahara," tuturnya.
Rusdi mengaku kesalahpahaman tersebut telah diselesaikan dengan menggunakan uang pribadinya sebesar Rp 2 juta. Uang itu digunakan untuk menutupi kekurangan agar nama baik Pemerintah Kecamatan Kilo tetap terjaga.
"Sudah saya selesaikan pada hari itu juga kemarin, tidak ada lagi yang mempersoalkan, para pemenang juga sudah menerima hadiah mereka masing-masing," ujarnya.
Ulah Pendaki Petik Edelweis dan Bawa Sabu ke Tambora
Jalur pendakian di Gunung Tambora kembali tercoreng. Selain 13 pendaki kepergok memetik bunga edelweis dan membuang sampah sembarangan, ternyata satu orang lainnya juga ditemukan membawa narkotika jenis sabu saat hendak mendaki.
"Iya benar. Kasusnya sudah dialihkan ke Satresnarkoba Polres Bima," ucap Kapolsek Tambora Iptu Suhadak dikonfirmasi detikBali, Jumat (21/8/2026).
Suhadak menyebut kasus terungkap setelah tim gabungan dari Polsek Tambora, TNI, Polhut dan Balai Taman Nasional Tambora, melakukan patroli dan pemeriksaan barang bawaan para pendaki yang akan mendaki Gunung Tambora. Operasi itu di jalur pendakian Desa Oi Bura, Kecamatan Tambora pada Sabtu (15/8/2026).
Saat didekati petugas gabungan, seorang pria yang diketahui berinisial RH (19), warga Desa Labuhan Kananga, Kecamatan Tambora terlihat mencurigakan dan membuang dompet kecil lalu kabur dan melarikan diri.
"Setelah diperiksa, di dalam dompet terdapat 5 klip berisi narkotika jenis sabu dan alat isap (bong)," katanya.
Suhadak menuturkan saat ini barang bukti berkaitan tindak pidana narkotika tersebut sudah diserahkan ke penyidik Satresnarkoba Polres Bima untuk diproses hukum lebih lanjut. Serah terima barang bukti dilakukan pada Selasa (18/8/2026).
"Barang bukti sudah diserahkan Polsek Tambora ke Penyidik Satresnarkoba Polres Bima," katanya.
Terpisah, Kasatresnarkoba Polres Bima AKP Dediansyah membenarkan hal itu. Kata dia, barang bukti lima klip sabu dan alat hisap sudah diterima dan akan diproses lanjut. Terduga pelaku yang telah dikantongi identitasnya dalam pengejaran.
"Kasusnya kami usut sampai tuntas. Terduga pemilik sabu dan alat hisap inisial RH masih diburu," tandasnya.
(hsa/nor)