detikBali

Pengungsi Gempa di Riung Ngada Masih Bertahan Dalam Tenda Terpal

Terpopuler Koleksi Pilihan

Pengungsi Gempa di Riung Ngada Masih Bertahan Dalam Tenda Terpal


Yufengki Bria - detikBali

Korban gempa di Riung, Ngada, NTT, Rabu (19/8/2026).
Foto: Korban gempa di Riung, Ngada, NTT, Rabu (19/8/2026). (Yufengki Bria/detikBali)
Ngada -

Sejumlah pengungsi di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih bertahan di dalam tenda terpal setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang, Sabtu (15/8/2026). Kondisi ini membuat mereka resah karena tanpa adanya bantuan tenda darurat yang layak.

Pemandangan yang sama masih dirasakan oleh sejumlah warga di Desa Ite Jaya, Tadho, Tadho Tengah, Tadho Timur, dan Lekosambi Barat, Kecamatan Riung. Mereka masih mengandalkan terpal dan tikar seadanya di tenda pengungsian.

"Seperti ini sudah kondisi kami. Masih tidur di bawah tenda terpal untuk beberapa orang," ujar salah satu warga RT 04, Desa Ite Jaya, Kecamatan Riung, Marola, saat ditemui detikBali di sebuah tenda terpal yang berada di depan rumahnya, Rabu (20/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pria berusia 46 tahun itu menuturkan setelah gempa dahsyat, semua warga memilih mengungsikan diri ke atas bukit karena takut adanya tsunami atau air laut naik.

ADVERTISEMENT

"Hampir semua warga kompleks ini di RT 04 dan RT 05, Dusun 04, berlari ke bukit dan membangun tenda darurat. Sampai sekarang tendanya masih ada," tutur Marola.

Alasan mereka mengungsikan diri ke atas bukit karena takut terjadi tsunami. Namun, setelah mendapat informasi dari pemerintah, mereka akhirnya kembali ke rumahnya masing-masing lalu mendirikan tenda darurat secara mandiri.

"Sampai sekarang kami menyebar buat tenda mandiri misalkan lima kepala keluarga begitu," tutur Marola.

Meski demikian, warga masih bersiaga lantaran gempa susulan sering terjadi setiap beberap jam. Selain itu, belum ada warga yang berani tidur dan beraktivitas di dalam rumahnya.

"Karena gempa susulan sampai saat ini masih ada. Contoh tadi malam itu, kurang lebih 5-7 kali terjadi gempa susulan. Jadi warga juga belum berani tidur di dalam rumahnya," terang Marola.

Selama mereka tinggal di tenda darurat, sumbangan berupa sembako dan sebagainya baru sedikit didapatkan dari relawan dan pemerintah setempat. Bantuan itu berupa telur, mi, dan beras.

Meski sumbangan itu belum memenuhi kebutuhan, mereka menyampaikan terima kasih atas perhatian dari semua pihak. Selain itu, sumbangan berupa obat-obatan, selimut, tikar maupun kasur, itu sama sekali belum ada.

"Yang dibutuhkan sekarang itu tenda yang layak, obat-obatan, selimut, tikar maupun kasur karena malam hari dingin sekali," imbuh Marola.

Warga lainnya, Ruhnia (30), mengaku sampai saat ini, ia belum bisa tertidur nyenyak dan sering kaget karena masih trauma dengan guncangan gempa tersebut. Selain itu, ia masih trauma karena adanya gempa susulan.

"Masih trauma sih. Sampai sekarang ini tidur tidak nyenyak. Sedikit-sedikit kaget gara-gara guncangan," ungkap perempuan berjilbab hitam itu.

Hingga saat ini, Ruhnia dan sejumlah perempuan lainnya belum mendapatkan bantuan berupa pembalut dan kebutuhan khusus perempuan lainnya. "Kami juga butuh beras, tenda yang layak, dan kasur," kata Ruhnia.

Kapolres Ngada AKBP Gede Harimbawa mengatakan di Kecamatan Riung merupakan salah satu wilayah yang terdampak parah, seperti rumah warga, rumah polisi, dan sejumlah fasilitas lainnya. Namun, hingga saat ini tidak ada korban jiwa akibat tertindih material bangunan rumah yang rubuh.

"Tetapi di sini sempat terjadi peringatan terkait adanya tsunami setinggi dua meter. Namun, warga sudah mengungsikan diri ke perbukitan," kata Gede.

Menurut Gede, personelnya selalu bersiaga dan mendirikan posko terpadu di halaman Polsek Riung. Posko tersebut terdapat sejumlah warga yang tinggal di situ saat malam.

"Selebihnya mereka mengungsi secara mandiri. Kami juga sudah memberikan bantuan untuk meringankan beban warga yang terdampak," pungkas Gede.



(hsa/iws)









Hide Ads