Sebanyak 13 desa di Klungkung, Bali, teridentifikasi masuk zona rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klungkung mencatat total luas area yang berisiko terpapar karhutla mencapai 26.362,88 hektare (Ha).
Ancaman karhutla seluas puluhan ribu hektare ini terjadi berbarengan dengan memuncaknya potensi kekeringan. Kepala Pelaksana BPBD Klungkung, Putu Widiada, mengimbau masyarakat untuk menjaga ketersediaan air bersih dan menahan diri dari tindakan yang memicu titik api.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air dan tidak membuka lahan dengan cara membakar. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk memetakan titik-titik yang paling membutuhkan bantuan air bersih. Jangan sampai kekeringan ini mengganggu sektor pertanian warga," kata Widiada pada detikBali, Sabtu (22/8/2026).
Data wilayah rawan karhutla dan potensi kekeringan tersebut sebelumnya menjadi salah satu fokus pembahasan utama dalam rapat mitigasi bencana kekeringan yang digelar BPBD Klungkung. Widiada menegaskan peta kerawanan ini disusun agar pemetaan distribusi bantuan air bersih serta kesiapsiagaan armada pemadam dapat berjalan lebih terarah.
Adapun belasan wilayah terdampak karhutla tersebut terbagi di Kecamatan Dawan dan Kecamatan Nusa Penida. Di Kecamatan Dawan, terdapat tujuh desa dengan tingkat risiko sedang hingga tinggi, yaitu Desa Gunaksa, Dawan Klod, Dawan Kaler, Paksebali, Besan, Pesinggahan, dan Pikat.
Sementara di Kecamatan Nusa Penida, sejatinya seluruh desa masuk dalam kategori rawan. Namun, terdapat enam desa yang dipetakan memiliki tingkat risiko paling ekstrem, meliputi Desa Batumadeg, Bunga Mekar, Sakti, Pejukutan, Kutampi, dan Suana.
Ancaman karhutla di Klungkung sejatinya bukan sekadar pemetaan di atas kertas. Kebakaran lahan sudah melanda kawasan bekas Galian C di Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, pada Jumat siang (10/7/2026). Lahan ilalang seluas 2 Ha ludes dilahap si jago merah dalam peristiwa itu.
Kasatpol PP dan Damkarmat Klungkung, I Dewa Putu Suwarbawa, saat itu menerangkan api merembet sangat cepat akibat hembusan angin kencang hingga membuat petugas pemadam kewalahan dan harus meminta bantuan armada dari Gianyar. Proses pemadaman di lapangan menghadapi kendala berat lantaran sebaran api yang tidak terpusat di satu lokasi.
"Anggota sempat mengalami kendala di lapangan karena api menyebar dan muncul di beberapa titik area, tidak hanya di satu titik," terang Suwarbawa.