Sejumlah gereja di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), menggelar misa Hari Minggu di luar ruangan. Keputusan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi gempa susulan setelah gempa magnitudo (M) 7,7 mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026).
Misa tetap digelar di tengah kondisi bangunan gereja masih utuh. Namun, pihak gereja memilih menggelar ibadah di luar untuk mengantisipasi risiko akibat gempa susulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu gereja yang melaksanakan ibadat di luar ruangan hari ini adalah Gereja Paroki Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) Waeksambi di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT. Gereja di Kisol, Manggarai Timur, NTT juga melakukan hal serupa.
"Karena kondisi pasca gempa kemarin belum benar-benar kondusif," kata Pasto paroki MBSB Waeksambi, Romo Dominikus Risno Maden, Minggu.
Struktur bangunan gereja yang dua tingkat disebutnya rentan menjadi terdampak gempa bumi. Untuk pertimbangan tersebut, misa hari dilakukan di luar ruangan.
"Apalagi struktur bagunan Gereja Paroki Wae Sambi bertingkat," ujar Risno.
Ibadat hari Minggu di gereja paroki MBSB Waeksambi itu dilaksanakan di pelataran depan Patung Bunda Maria. Lokasinya persis di sisi barat gereja tersebut. Pagi ini terpantau ratusan umat katolik mengikuti misa di luar ruangan tersebut.
Diketahui, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, NTT, Sabtu (15/8/2026) pagi. Pusat gempa tersebut berada di laut pada kedalaman 15 kilometer, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, NTT. Getaran gempa terasa kuat di sejumlah wilayah NTT, NTB, hingga Sulawesi Selatan.
Gempa yang mengguncang Labuan Bajo menyebabkan sejumlah bangun rusak termasuk resor hingga hotel bintang empat. Tamu-tamu hotel berhamburan keluar hingga warga pesisir berbondong-bondong meninggalkan rumah karena takut tsunami.
Hingga tadi malam terdapat 47 korban jiwa, puluhan orang luka, dan korban lainnya masih tertimbun. Korban tersebar di sejumlah wilayah terdampak gempa di Flores.